Surabaya, 22/1 (Antara) - Sebanyak 73 keluarga di Kelurahan Medokan Semampir, Kecamatan Sukolilo, Kota Surabaya yang menjadi korban penggusuran baru-baru ini dieksekusi kondisinya memprihatinkan atau terlantar. "Yang tergusur ada 73 KK (kepala keluarga), 69 warga Surabaya, empat sisanya orang luar Surabaya," kata salah seorang warga Mulyani saat rapat dengar pendapat di Komisi D DPRD Surabaya, Kamis. Menurut dia, saat ini mereka tinggal di tenda-tenda darurat yang didirikan seadanya. Ia sendiri mengaku tinggal di tenda sederhana seperti di tempat penampungan sementara. Tenda tersebut, lanjut dia, tidak layak dipakai, selain hanya menggunakan terpal yang berlubang, juga tendanya terbuka sehingga ketika hujan mengguyur, tenda tersebut tidak bisa melindungi dari air hujan. Mulyani mengatakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sebagian besar warga harus berjuang sendiri termasuk juga untuk mandi dan makan harus numpang di rumah warga sekitar. Sebab, lanjut dia, bantuan MCK (mandi, cuci, dan kakus) sudah ditarik oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya sejak 18 Januari lalu. Selain MCK, bantuan berupa tandon, tempat sampah juga diambil. "Kita sekarang serba kesusahan, tandon, tempat buang air kecil, tempat sampah, kiriman air dari Pemkot sudah tidak ada lagi, terpaksa kami harus numpang ke warga," katanya. Menanggapi keluhan warga itu, Ketua Komisi D DPRD Surabaya Agustin Poliana meminta kepada Pemkot Surabaya segera merelokasi warga ke tempat yang lebih layak karena jika dibiarkan tetap tinggal di tenda darurat, maka kesehatan warga terutama anak kecil terancam. Apalagi saat ini musim penghujan rentan penyakit. "Tenda tebuka, bagi anak kecil tidak sehat. Toilet tidak ada jambannya, itu persoalan. Dua toilet portebel yang disediakan Pemkot tidak dipakai, karena warga tidak tahu caranya, mereka akhirnya numpang di rumah warga. Keberadaan mereka sudah satu minggu lebih, kasihan tidak segera tertangani," ucapnya. Ia memandang Pemkot Surabaya lamban menangani warganya. Mestinya, warga tersebut segera direlokasi ke rumah susun (rusun) terdekat sehingga mereka tidak terlantar. Saat ini, kondisi mereka cukup memprihatinkan sehingga tidak sedikit warga mulai terserang penyakit. Anggota Komisi D lainnya Budi Laksono mengatakan tentunya yang harus difikirkan dalam waktu dekat ini adalah permasalahan kesehatan dan pendidikan warga setempat. "Banyak anak-anak yang membutuhkan perhatian karena mereka harus sekolah," katanya. Selain itu, piaknya meminta Pemkot Surabaya segera merelokasi warga ke rusun-rusun terdekat. "Jadi sambil didata dan warga melengkapi adminitrasi, mereka ini harus segera masuk rusun, jangan selalu mengedepankan prosedur, karena mereka sudah semingu lebih tinggal di tenda," katanya. Kepala Dinas Pengelolaan Bangunan dan Tanah (DPBT) Kota Surabaya Maria Theresia Ekawati Rahayu menjelaskan tidak semudah itu masuk rusun karena ada sejumlah persyaratan yang harus terpenuhi. Salah satunya harus tercatat sebagai warga Surabaya. "Dari jumlah yang ada, hanya 51 KK yang ber KTP Surabaya," katanya. Selain itu, kata dia, harus mengisi formulir yang menyatakan bersedia menempati rusun, tidak memiliki rumah, dan sanggup membayar sewa. Menurutya, masuk rusun tidak gratis melainkan harus membayar uang sewa yang sudah ditentukan oleh pengelola. "Yang pasti, uang sewanya terjangkau dengan keuangan warga, rusun yang tersedia saat ini di Siwalankerto dan Romokalisari, rusun-rusun terdekat sudah penuh," katanya. Camat Sukolilo Kanti menambahkan sebenarnya ada 62 keluarga yang rumahnya tergusur. Dari jumlah tersebut, sebanyak 58 keluarga merupakan penduduk Kota Surabaya, sisanya warga pendatang. Sedangkan dari 58 keluarga, sejumlah tujuh keluarga memiliki rumah, sehingga ada 51 keluarga yang sampai saat ini tinggal di tenda darurat. "Ada sembilan orang yang sudah mendaftar masuk rusun, yang lengkap persyaratannya lima keluarga," katanya. (*)
Berita Terkait
Tim SAR gunakan metode selam cari remaja tenggelam di Surabaya
- 21 Februari 2025 19:39
DPKP tangani kebakaran lahan ilalang di Medokan Semampir Surabaya
- 7 September 2023 23:14
Pimpinan DPRD perjuangkan hak warga Medokan Semampir Surabaya
- 10 April 2023 11:46
Wawali: Penyelesaian masalah banjir di Kota Surabaya harus menyeluruh
- 11 Maret 2022 16:15
Warga Medokan Semampir Surabaya pertanyakan alih fungsi lahan untuk makam
- 13 Maret 2019 16:31
Sejumlah Lansia Medokan Semampir Surabaya Dilatih Bercocok Tanam
- 12 April 2018 14:40
DPRD Surabaya Minta Solusi Penertiban Bangunan Warga Medokan Semampir
- 27 Februari 2018 09:30
Pemkot Surabaya Jelaskan Upaya Amankan Asetnya di Medokan Semampir
- 22 Februari 2018 07:31
