Damaskus, (Antara/Xinhua-OANA) - Ribuan orang berpawai pada Jumat (16/1) di beberapa daerah yang dikuasai gerilyawan di seluruh Suriah, untuk memprotes karikatur yang menghina Nabi Muhammad SAW yang disiarkan oleh mingguan satiris Prancis Charlie Hebdo. Pemrotes mengecam karikatur yang menghina tersebut, dan menyerukan dihormatinya agama serta meminta mingguan itu agar tak pernah menghina pemimpin agama mereka, kata Observatorium Suriah bagi Hak Asasi Manusia, yang berpusat di Inggris. Charlie Hebdo telah menyiarkan karikatur baru yang melukiskan Nabi Muhammad SAW. Perbuatan tersebut telah dikutuk oleh Umat Muslim di seluruh dunia karena menghina Nabi Muhammad SAW. Majalah mingguan satiris itu melakukan tindakan tersebut "sebagai pembalasan" atas serangan awal Januari sehingga menewaskan 12 orang. Serangan tersebut, yang dilancarkan oleh beberapa pria bersenjata, justru adalah pembalasan terhadap majalah itu karena menghina Nabi Muhammad SAW dalam penerbitan sebelumnya. Para pejabat Suriah mengutuk serangan tersebut dan mencapnya sebagai "aksi teror" dan tak ada protes di daerah yang dikuasai pemerintah di negeri itu, demikian laporan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Sabtu. Protes oleh warga Suriah terutama berlangsung di Provinsi Aleppo di bagian utara negeri tersebut, pinggiran utara Provinsi Homs di Suriah Tengah, pinggiran Provinsi Deir Az-Zour di bagian timur dan daerah lain yang dikuasai gerilyawan, kata Observatorium Suriah bagi Hak Asasi Manusia. Hampir semua daerah yang dikuasai gerilyawan di Suriah telah jatuh ke dalam kelompok fanatik, yang menyatakan banyak orang telah ikut dalam mengutuk penyiaran karikatur oleh Charlie Hebdo itu. Namun, kartun yang menghina Nabi Muhammad SAW juga telah memicu gelombang besar kemarahan di kalangan rakyat Suriah pada umumnya. Mereka mengutuk standard ganda yang dilancarkan dalam menganjurkan kebebasan berbicara. Aljazair - Ribuan orang turun ke jalan di Ibu Kota Aljazair, Ajier, pada Jumat (16/1) guna memprotes kartun Nabi Muhammad SAW, yang telah disiarkan di edisi terkini mingguan Prancis Charlie Hebdo. Polisi anti-huru-hara dikerahkan di jalan utama Aljier guna mencegah pemrotes mencapai beberapa lembaga negara. Pemrotes memulai pawai mereka dari Bundara 1 Mei di pusat kota Aljier dan bergerak ke arah Boulevard Zighout Youcef, tempat parlemen berada. Mereka meneriakkan slogan yang mengagungkan Nabu Muhammad SAW. Namun bentrokan terjadi saat gas air mata dan peluru putih digunakan untuk membubarkan massa, demikian laporan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Sabtu. Pada 7 Januari, tiga pria bersenjata memasuki lingkungan gedung mingguan satiris Charlie Hebdo dan menewaskan 12 orang, termasuk wartawan dan polisi. Para penyerang tersebut mengatakan tindakan itu adalah "pembalasan atas karikatur yang mencemooh Nabi Muhammad SAW yang disiarkan oleh mingguan itu. Pekan lalu, Menteri Luar Negeri Aljazair Ramtane Lamamra ikut dalam pawai yang diselenggarakan di Paris guna memprotes serangan terhadap mingguan Prancis tersebut. Barat menyatakan kartu yang melecehkan Nabi Muhammad SAW itu adalah "bagian dari kebebasan menyampaikan pendapat". Tapi gambar tersebut dipandang sebagai pelanggaran dan aksi penghujatan di Dunia Muslim. Provokatif Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Jumat (16/1) menuding majalah Prancis Charlie Hebdo memiliki reputasi jelek karena penerbitannya yang provokatif. Mengenai peristiwa paling akhir setelah serangan pekan lalu yang menewaskan 12 orang terhadap mingguan satiris Prancis itu, Erdogan mengatakan di Ankara bahwa masalah tersebut adalah mengenai batas kebebasan. Ia menambahkan, "Bahkan Paus (Francis) mengutuk majalah ini, sebab ia tahu penerbitan majalah ini provokatif." "Semua penerbitan yang bertentangan dengan agama Kristen dan Islam tak bisa disebut kebebasan," katanya. Ia menambahkan penerbitan mingguan tersebut mesti dikategorikan sebagai aksi teroris yang dilakukan melalui pelanggaran atas ruang kebebasan orang lain. "Kebebasan tak bisa tanpa batas," kata Erdogan. Ia juga menyampaikan keprihatinannya mengenai tuduhan yang dilontarkan terhadap Umat Muslim oleh sebagian organisasi media setelah serangan di Prancis, demikian laporan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Sabtu. "Semua negara Barat, terutama Eropa, menghadapi cobaan besar mengenai dihormatinya keragaman dan hak asasi manusia. Sebagaimana diperlihatkan oleh peristiwa belakangan ini, rasisme telah meningkat secara terus-menerus dan membahayakan di seluruh negara Barat. Kami mengikuti dengan prihatin gelombang kebencian paling akhir terhadap Nabi kami Muhammad SAW, yang tersembunyi di balik serangan di Prancis," kata Erdogan. Eropa tetap berada di tepi jurang sementara majalah satiris Prancis Charlie Hebdo mencetak lima juta eksemplar edisi khusus satu pekan setelah serangan. Halaman depan mingguan tersebut menampilkan gambar Nabi Muhammad SAW berpakaian putih dan berlinang air mata, sambil memegang tulisan "Je suis Charlie" di bawah judul "All is forgiven" --yang sekali lagi memicu kontroversi di Dunia Muslim. (*)
Berita Terkait
Setelah Venezuela, Kolombia bisa jadi target Trump berikutnya
5 Januari 2026 16:15
Venezuela: Sebagian besar tim keamanan Maduro tewas dalam operasi AS
5 Januari 2026 10:54
China kecam serangan AS di Venezuela, tolak "polisi dunia"
5 Januari 2026 09:54
Rusia: Aksi Trump di Venezuela ilegal
5 Januari 2026 08:56
Indonesia prihatin serangan AS ke Venezuela jadi preseden buruk bagi dunia
5 Januari 2026 08:26
