Oleh Zuhdiar Laeis Semarang (Antara) - Banyak perempuan yang sampai sekarang masih salah kaprah dalam memahami tentang air susu ibu (ASI), kata pakar kesehatan anak RS St Elisabeth Semarang dr JC. Susanto Sp.A (K). "Ada ibu yang tidak memberikan ASI eksklusif dengan alasan ASI-nya 'mandek', tidak bisa keluar. Padahal, ASI tidak keluar bisa terjadi karena ketidaktahuan ibu tentang ASI," katanya di Semarang, Sabtu. Hal tersebut diungkapkannya di sela seminar kesehatan bertema "Menyusui: Satu Gol Kemenangan untuk Hidup" dalam rangka Pekan ASI Sedunia 2014 yang diprakarsai RS St Elisabeth Semarang. Susanto menjelaskan ASI merupakan kodrati perempuan yang secara alamiah akan berproduksi setelah melahirkan, di antaranya ditandai dengan membesarnya payudara yang berisi ASI untuk menyusui anaknya. "Kapan ASI diproduksi? Kalau sering 'disusukan' (digunakan untuk menyusui anaknya, red.) dan dikosongkan. Kalau sudah kosong, secara automatis payudara akan memproduksi ASI lagi," kata dokter spesialis anak tersebut. Secara alamiah, kata dia, produksi ASI dipengaruhi oleh rangsangan, berupa hisapan dari bayi yang akan menimbulkan stimulus-stimulus ke otak untuk menghasilkan hormon yang menyebabkan ASI terus berproduksi. "Salah kaprah yang sering terjadi begini, kenyangnya bayi dengan ASI berkisar 1,5-2 jam, sementara kenyangnya bayi karena susu formula bisa sampai 3-4 jam. Berarti, ASI harus lebih sering disusukan," katanya. Namun, kata dia, biasanya si ibu juga memberikan susu formula sebagai tambahan yang berakibat waktu kenyangnya bayi lebih lama, sementara kondisi payudaranya sudah membengkak karena lama tidak disusukan. "Akhirnya, payudaranya si ibu terasa sakit, bengkak, atau istilah Jawa dikenal dengan 'mbangkaki'. Malah tidak bisa digunakan untuk menyusui karena ASI-nya tidak keluar. Sebab, ada perubahan hormonal," katanya. Ada pula salah kaprah yang menyebabkan bayi menjadi "bingung puting", kata dia, yakni bayi menyusu ibu dengan gaya menyusu botol karena diberi susu formula sehingga menyebabkan ASI menjadi tidak keluar. "ASI ini akan berproduksi secara alamiah jika sering disusukan, bisa pula dipompa, dan dikosongkan. Kalau ibu hanya memberi ASI pada anaknya, tidak mungkin aliran ASI akan berhenti," tegas Susanto. Selain itu, kata dia, banyak pula ibu yang memberikan susu formula pada anaknya setelah lahir karena ASI-nya tidak keluar atau keluarnya sedikit, padahal produksi ASI baru banyak 2-4 hari setelah melahirkan. "Lama-lamanya, lima hari setelah melahirkan baru produksi ASI-nya banyak. Jangan khawatir. Bayi secara alami memiliki cadangan energi dan cairan yang membuatnya bertahan 2-4 hari setelah lahir," pungkasnya. (*)
Berita Terkait
Pakar: Latihan keras tak cukup tanpa strategi nutrisi yang tepat
11 Agustus 2025 11:27
Pakar: Hipnoterapi dapat jadi metod jaga kesehatan mental
28 Juni 2025 20:40
Pakar: Diet makanan sehat jadi kunci terapi IBD
19 Mei 2025 14:24
Pakar: Masyarakat agar tak menganggap remeh batuk dan pilek
17 Desember 2024 06:40
Pakar: Anak-anak sering main gawai rentan kelainan refraksi
10 Oktober 2024 17:40
Pakar: Kenali kondisi diri sebelum jalani aktivitas olahraga berat
21 September 2024 17:14
Pakar kesehatan bolehkan anak usia di atas dua tahun konsumsi jajanan pasar
8 September 2024 09:18
UPN Jatim undang pakar internasional bahas kegawatdaruratan
30 Juni 2024 14:37
