Oleh Zeynita Gibbons Cannes (Antara) - Kritikus film ternama Prancis, Pierre Rissient (78) menyatakan banyak film Indonesia yang sebenarnya mampu bersaing dengan karya-karya dari negara lain dan layak diputar di Cannes Film Festival yang berlangsung tanggal 14--25 Mei 2014. Film Indonesia banyak yang bagus seperti Tjut Nyak Dien yang dibintangi Christine Hakim dan mendapat penghargaan "Best International Film" pada festival Cannes tahun 1989, ujar Pierre Rissient kepada Antara London di tempatnya menginap di Hotel Cristal, Rabu. Kritikus senior itulah yang memperkenalkan sinema Indonesia di Cannes. Hal itu membawanya akrab dengan bintang film Christine Hakim yang dijumpainya pertama kali tahun 1983 di Hongkong Film Festival. "She is Great Ambassador for Indonesia Cinema," ujar Pierre Rissient seraya menambahkan, Christine yang pernah meraih piala Citra dan ikut membintangi film "Eat Pray Love" bersama Julia Robert, merupakan aset yang sangat besar bagi film Indonesia. Dalam bincang-bincang santai, pria kelahiran Paris 4 Agustus 1926 yang telah malang melintang di dunia film itu mengaku sudah lama tidak mengetahui perkembangan film Indonesia karena kondisi kesehatannya yang tidak mendukung. "Saya sudah tidak banyak traveling dan terakhir ke Indonesia tahun 2006," ujar Pierre. Namun demikian sebagai pengamat film Indonesia dan juga film dari negara Asia lainnya, Pierre mengaku tetap memantau secara sepintas dan menyarankan pemerintah Indonesia untuk mendukung bila ingin dunia perfilman berkembang serta maju. "Cinema tidak akan berkembang tanpa dukungan dari pemerintah. Tetapi dukungan saja tidak cukup tanpa kebijakan pemerintah untuk mengembangkan perfilman di dalam negeri," ujarnya. Diakuinya film Indonesia bisa masuk festival film Cannes dan itu sudah terbukti. Tetapi seharusnya lebih banyak lagi film Indonesia yang diputar di Cannes asalkan mempunyai standar internasional. "Saya yakin film Indonesia akan maju bila digarap dengan sungguh-sunggu baik dari segi skrip, acting para pemainnya dan juga musik yang tidak terlalu keras," ujar Pierre seraya menambahkan bahwa film bagus bisa dicapai dengan kreativitas yang tinggi. Diakuinya tidak ada rahasia untuk membuat film yang bagus dan layak masuk dalam festival film Cannes yang sudah berlangsung sejak tahun 1967 asalkan dibuat dengan standar internasional. Setahu Pierre ada tiga film Indonesia yang pernah masuk festival film Cannes. Selain film Tjut Nyak Dien juga pernah masuk dalam seksi Un Certain Regard (Sorotan Khusus) Film Serambi yang diperuntukkan bagi film-film diajukan untuk ikut dalam seksi kompetisi utama namun dianggap belum memenuhi persyaratan oleh panitia seleksi. Selain film "Lewat Djam Malam" ini, diputar di Cannes Classic, Festival Film Cannes 2012. (*)
Berita Terkait
Prancis peringatkan Rusia akan ada sanksi jika Navalny meninggal
22 April 2021 15:51
Rey Mbayang, Dinda Hauw adu akting di "Bidadari Surga"
17 Desember 2025 22:15
Film Esok Tanpa Ibu, pengakuan kualitas aktor danfilmmaker Indonesia
16 Desember 2025 08:43
Disney+ ajak Swifties rayakan dokumenter dan film konser The Eras Tour
13 Desember 2025 17:00
Maudy Ayunda ceritakan tantangan selama syuting film "Para Perasuk"
11 Desember 2025 21:15
Film "Pelangi di Mars" pamerkan cuplikan pendek
24 November 2025 15:16
Pemeran Rangga & Cinta jadi Aktor-Aktris Pilihan Penonton FFI 2025
21 November 2025 06:12
Amanda Manopo dapat pelajaran pendakian penting selama syuting
18 November 2025 10:50
