Surabaya (Antara Jatim) - Juru Bicara Perusahaan Gas Negara (PGN) SBU II, Krisdyan Widagdo, menilai, belum adanya izin lokasi dari Pemerintah Kota Surabaya menghambat realisasi "Mobile Refueling Unit/MRU" atau Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) "Mobile" di Surabaya. "Akibatnya, kini pengoperasian SPBG 'Mobile' di sini pada bulan ini akhirnya terlambat," katanya, di Surabaya, Senin. Kondisi tersebut, ungkap dia, juga membuat PGN masih belum bisa memastikan kapan pengoperasian SPBG "Mobile". Apalagi, sampai sekarang pihak Pemkot Surabaya juga belum memberikan kepastian lokasi yang diijinkan sebagai tempat pengoperasian "MRU". "Padahal kami sudah mengajukan izin penempatan 'MRU' ini di tengah kota yakni di Tugu Pahlawan," ujarnya. Pemilihan Tugu Pahlawan, jelas dia, didasarkan sejumlah faktor yang menjadi pertimbangan di antaranya kemudahan akses dan kedekatan lokasi dengan calon pengguna BBG. Apalagi saat ini yang menjadi target utama pengguna BBG adalah mobil operasional pemerintah, BUMN, dan mobil angkutan umum. "Oleh sebab itu, lokasi yang harusnya dijadikan tempat mangkal MRU adalah lokasi yang dekat dengan gedung perkantoran pemerintah," katanya. Di sisi lain, tambah dia, pembangunan SPBG dan penempatan "MRU" juga seharusnya disesuaikan dengan SPBG yang eksis. Penyebabnya, SPBG yang sudah ada sebagian besar berada di luar Surabaya maka pihaknya sengaja memilih di pusat kota, yaitu di Tugu Pahlawan. "Kalau di Tugu Pahlawan, memang dekat dengan kantor pemerintah dan mudah dijangkau angkot. Bahkan, tidak akan mengganggu objek yang monumental itu," katanya. Selama ini, kata dia, hal serupa juga telah dilakukan di Jakarta di mana "MRU" berada di Tugu Monas. Oleh karena itu PGN berharap Pemkot Surabaya segera memberikan izin. Pada kesempatan sama, "General Manager" PGN SBU Distribusi Wilayah II, Wahyudi Anas, mengemukakan, keberhasilan program konversi BBM ke gas harus ditunjang oleh adanya infrastruktur pendukung serta kesiapan pasar dan pasokan. "Tanpa ketiganya, program tersebut tidak akan jalan. Upaya itu adalah solusi jangka pendek untuk membuka pasar," katanya. Besarnya potensi pasar, lanjut dia, juga harus didorong melalui penyediaan "MRU" agar para pengguna tidak kesulitan ketika akan melakukan pengisian BBG. Apalagi, sampai saat ini potensi pasar gas transportasi di Indonesia cukup besar terutama tampak dari jumlah kendaraan di Indonesia. "Kini jumlah sepeda motor mencapai 55,3 juta unit, mobil pribadi mencapai 11,3 juta unit, truk 5.867 unit, dan bus mencapai 3.215 unit. Angkutan Kota dan taksi mencapai 208.778 unit, jumlah kendaraan yang sudah terkonversi mencapai 2.550 unit," katanya.(*)
Berita Terkait
Presiden Prabowo pimpin Rapim TNI-Polri evaluasi kinerja di Istana
9 Februari 2026 10:52
Pertamina Enduro puncaki klasemen Proliga setelah bekuk Medan Falcons
8 Februari 2026 23:08
Arema FC tundukkan tuan rumah Persija 2-0
8 Februari 2026 22:19
LavAni kokoh di puncak klasemen usai tundukkan Garuda Jaya
8 Februari 2026 20:17
Laga Persija vs Arema di GBK dijaga 2.505 personel gabungan
8 Februari 2026 19:13
Livin' Mandiri menangi duel ketat lawan Gresik Phonska
8 Februari 2026 18:34
Jakarta Livin Mandiri kalahkan Gresik Phonska Plus
8 Februari 2026 15:52
