Surabaya (Antara Jatim) - Sebanyak 17-20 persen penderita Gangguan Bipolar (gangguan otak perasa yang menumbuhkan perubahan mood/energi/perilaku secara dramatis) melakukan bunuh diri, karena itu keluarga dan lingkungan sosial berperan penting untuk mengendalikan penderita. "Gangguan Bipolar itu dapat dikendalikan dengan pengobatan, empati, menghindari stigmaisasi, pendekatan, dan mengajak bicara," kata Ketua Seksi Bipolar PDSKJI dr Handoko Daeng SpKJ(K) dalam seminar Gangguan Bipolar (GB) bersama media di Surabaya, Rabu. Didampingi wakilnya yang juga psikiatri FK Unair/RSUD dr Soetomo Surabaya dr Margarita Maria Maramis SpKJ(K), ia menjelaskan penderita GB yang umumnya berusia 15-24 tahun itu bila dapat dikendalikan tidak akan sampai mengalami depresi hingga bunuh diri. "Kalau dapat dikendalikan justru akan memiliki prestasi luar biasa seperti seniman, penulis, dan jurnalis Stephen Fry, Ernest Miller Hemingway, dan sebagainya, karena itu keluarga harus melakukan pengobatan dan pendekatan agar tidak sampai mengarah pada depresi," tuturnya. Tentang penyebab GB, ia mengatakan stres akibat pilkada, ujian nasional (UN), dan sebagainya bukan penyebab, melainkan hanya bisa menjadi pemicu. "Stresor itu hanya pemicu, tapi penyebabnya adalah genetik dan 'mood' yang berlebihan secara 'swing' (berubah cepat)," ucapnya. Ia menyebut gejala GB antara lain bicara meledak-meledak, energinya meningkat luar biasa, terlalu berani menabrak risiko, dan 'mood' lainnya. "Jadi, penyebab GB itu tidak satu, tapi ada genetik, ada 'mood' berlebihan, ada pemicu/stresor, dan periksa ke psikiatri," katanya. Senada dengan itu, psikiatri FK Unair/RSUD dr Soetomo Surabaya dr Margarita Maria Maramis SpKJ(K) menjelaskan data penderita GB di Indonesia belum ada, tapi gangguan mental emosional yang dapat menjadi gejala ringan bagi GB mencapai di atas 10 persen. "Data gangguan mental emosional adalah 11,6 persen di Indonesia, 12,3 persen di Jatim, dan 14,7 persen di Surabaya. Dari jumlah itu hanya 17 persen penderita GB di Indonesia yang berobat," paparnya. Wakil Ketua Seksi Bipolar PDSKJI itu menambahkan pengobatan bagi penderita GB juga beragam, yakni "mood stabilizer", antipsikotika atipikal, antidepresi, konseling, dan psikoterapi/psikoedukasi. "Masalahnya tingkat ketidakpatuhan pada terapi GB cukup tinggi yakni 51-64 persen, padahal tingkat kepatuhan pada terapi GB itulah kunci keverhasilan pengobatan pada seorang dengan GB," katanya.(*)
Berita Terkait
Pengobatan penderita bipolar dengan pemberian obat dan psikoterapi
19 Juli 2022 12:33
Penyanyi Mariah Carey Mengaku Menderita Bipolar
12 April 2018 12:33
Pakar: Penderita "Bipolar" Tak Mampu Kelola Emosi
2 Maret 2012 16:51
Asisten pelatih Persebaya apresiasi pemain meski ditahan imbang 2-2
20 Desember 2025 22:47
Persebaya ditahan imbang Borneo FC 2-2
20 Desember 2025 21:29
Diwarnai 2 gol bunuh diri, Arsenal menang dramatis 2-1 atas Wolves
14 Desember 2025 11:36
Atletico Madrid menang dramatis 1-0 atas Getafe berkat gol bunuh diri
24 November 2025 06:08
Persebaya ditahan imbang Arema FC di GBT Surabaya
22 November 2025 17:49
