Hari ini tempat kerja bisa di mana saja

Surabaya (ANTARA) - Wakil Ketua Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja  Provinsi Jawa Timur (DK3P Jatim) Edi Priyanto mengungkapkan dunia kerja modern telah memasuki fase baru dengan risiko kerja yang justru banyak hadir dalam bentuk tidak kasat mata.

Ia menyatakan risiko kerja kini tidak lagi hanya berbentuk kecelakaan fisik yang terlihat tetapi juga tekanan psikososial, digital fatigue, burnout, hingga budaya kerja yang membuat pekerja terus online tanpa batas.

"Dulu di tempat kerja risikonya bisa diidentifikasi, dikontrol, dan diaudit. Hari ini tempat kerja bisa di mana saja, bahkan di rumah atau di atas kasur. Pertanyaannya apakah sistem K3 kita ikut berpindah atau justru tertinggal?," katanya dalam kegiatan Safety Insight yang diselenggarakan secara daring oleh Balai K3 Surabaya, Jumat.
  
Menurutnya, tantangan terbesar K3 saat ini bukan lagi sekadar kecelakaan fisik, melainkan risiko tersembunyi yang bersifat kumulatif.

Mulai dari ergonomi kerja yang buruk, tekanan psikososial, pola kerja tanpa batas, hingga kelelahan digital yang perlahan menggerus kesehatan dan produktivitas pekerja.

Ia menyoroti fenomena always on culture yang kini banyak dialami pekerja modern. Secara fisik pekerja tampak baik-baik saja, tetap hadir dalam rapat virtual, aktif di grup pekerjaan dan menyelesaikan target. 

"Namun di balik itu, banyak yang mengalami kelelahan mental karena terus terkoneksi dengan pekerjaan tanpa jeda. Kondisi ini jika dibiarkan dapat meningkatkan human error, menurunkan kualitas pengambilan keputusan, bahkan memicu insiden operasional," ujarnya.

Edi mengungkapkan keselamatan kerja masa depan tidak lagi hanya bergantung pada lokasi kerja tetapi sangat dipengaruhi oleh sistem kerja, budaya organisasi, pola komunikasi, kualitas kepemimpinan, hingga pengelolaan beban kerja.

"Keselamatan masa depan bukan hanya tentang melindungi tubuh pekerja tetapi juga menjaga kesehatan mental, kualitas hidup, dan keberlanjutan performa bisnis," tuturnya.
 



Pewarta: Hanif Nashrullah
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026