Sidoarjo, Jawa Timur (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo, Jawa Timur, menaruh perhatian serius untuk mendorong potensi desa yang tertuang dalam rangkaian kegiatan bertajuk Kopilaborasi. Kopilaborasi merupakan program untuk bergerak bersama sambil santai minum kopi.
Program yang diselenggarakan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Sidoarjo itu bekerja sama dengan Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) setempat, serta dengan Forum Wartawan Sidoarjo.
Kegiatan pertama program tersebut digelar di kawasan Desa Keloposepuluh, Kecamatan Sukodono, Sidoarjo, Rabu, 22 April 2026, dihadiri sekitar 100 orang yang menikmati seduhan kopi, sembari saling membuka suara dengan harapan tunggal, yakni mengubah potensi lokal menjadi bekal untuk kemajuan desa.
Dengan tema "Narasi Desa: Ekspos potensi lewat cerita dan karya", para pemuda dari berbagai desa di wilayah tersebut bergantian mengemukakan apa saja yang telah mereka lakukan untuk menyuarakan keunikan dan potensi di desa masing-masing.
Seorang pemuda asal Desa Jogosatru, Kecamatan Sukodono, Ilyas mengemukakan potensi wisata yang dimiliki desanya yang ia nilai kerap terlewat dari radar masyarakat lebih luas, bahkan masyarakat desanya sendiri.
Potensi itu adalah Pasar Legi Jogosatru yang, sesuai namanya, hanya hadir pada hari-hari Legi pada sistem penanggalan Jawa di setiap bulannya.
Ia bersama para pemuda lain di desanya, kerap pergi ke pasar yang buka sejak subuh hingga menjelang dzuhur tersebut, untuk mencari materi, baik makanan khas Sidoarjo, seperti lontong kupang, hingga berbagai macam barang kebutuhan sehari-hari, yang kemudian ia abadikan untuk menjadi konten di media sosial.
Upaya Ilyas tersebut pun perlahan membuahkan hasil. Tak sedikit konten foto dan video yang ia produksi menjadi viral dan semakin menarik masyarakat dari berbagai penjuru Sidoarjo untuk mengunjungi pasar tersebut.
Kini, desanya mulai terlepas dari stigma negatif, seperti desa preman yang dulu melekat, hingga desa dengan fenomena seorang wanita tua viral akibat membuang kotorannya ke halaman rumah tetangga pada 2023. Kini, wilayah itu menjadi desa dengan gambaran positif dan memiliki potensi yang layak untuk digali.
Berlanjut pada kegiatan kedua yang dilaksanakan sepekan kemudian, yakni pada Rabu (29/4) di lokasi yang sama, forum tersebut menghadirkan tema "Sport Tourism: Branding Lapangan Bola menjadi Ikon Ekonomi Desa".
Kali ini, forum tersebut mengajak pemuda yang kerap berolahraga sepak bola di lapangan desa untuk menyuarakan apa saja yang bisa dilakukan untuk meningkatkan ekonomi desa melalui lapangan tersebut, hingga potensi pengembangan pemain muda asal Sidoarjo.
Sebagai narasumber, sekaligus mewakili elemen masyarakat yang juga pemain sepak bola aktif dalam kegiatan pertandingan persahabatan di desanya, Ketua Forwas M Taufik menyuarakan apa saja yang telah ia lakukan bersama pemuda Desa Keloposepuluh dalam memajukan potensi desa melalui olahraga dan fasilitasnya sebagai objek wisata.
Taufik menyebut, Sidoarjo mulai menunjukkan geliat baru dalam pengelolaan lapangan sepak bola desa, seiring kebijakan pengalokasian anggaran langsung ke desa yang memungkinkan perbaikan fasilitas olahraga, sekaligus mendorong potensi ekonomi lokal.
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah lapangan yang sebelumnya dalam kondisi kurang layak, kini bertransformasi menjadi lebih representatif, bahkan mampu menghasilkan pendapatan melalui sistem penyewaan yang dikelola secara profesional oleh desa.
Pengelolaan lapangan Desa Keloposepuluh menjadi contoh nyata pengelolaan berbasis desa yang berhasil. Selain perbaikan fisik dan peningkatan kualitas yang masif selama lima tahun belakangan, pengurus juga melakukan strategi promosi melalui media sosial, sehingga meningkatkan daya tarik penyewa dari berbagai kalangan.
Pengelolaan lapangan di desa tersebut berada di bawah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), sehingga seluruh pendapatan yang diperoleh dapat dikelola kembali untuk kepentingan desa, termasuk pengembangan fasilitas dan kegiatan masyarakat.
Selain itu, dari sisi peningkatan potensi pembinaan pemain lokal, ia menyoroti perlunya dukungan lebih kuat dari daerah yang dijuluki Kota Delta tersebut dalam mencetak atlet sepak bola yang mampu menembus kancah nasional.
Padahal, menurutnya, hampir setiap desa di Sidoarjo memiliki sekolah sepak bola (SSB), yang mengindikasikan adanya upaya pembinaan aktif demi melahirkan bibit-bibit baru pemain nasional asal Sidoarjo.
Ia bersama sejumlah pemuda dan praktisi sepak bola desa yang hadir turut mendorong lahirnya kompetisi antar-SSB, sehingga pembinaan tak hanya berhenti di wilayah SSB sendiri. Dengan kompetisi terbuka dapat meningkatkan kapasitas serta mental juara para pemain yang berlaga.
Selain itu, dalam praktiknya, meski banyak SSB lahir di desa-desa di Sidoarjo, tidak semuanya memiliki lapangan sendiri untuk latihan. Kondisi ini membuat sebagian SSB harus menyewa atau berbagi fasilitas dengan desa lain untuk kegiatan tersebut.
Menurut Taufik, kondisi ini menjadi ideal untuk menumbuhkan peluang kolaborasi antardesa, baik dalam pemanfaatan lapangan yang meningkatkan perekonomian desa, maupun penyelenggaraan kompetisi yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Sidoarjo Eri Sudewo yang hadir dalam dua kesempatan tersebut menyatakan dukungan tegas pemerintah daerah dalam meningkatkan potensi desa.
Pemkab Sidoarjo telah memasang internet berkecepatan tinggi di tiap-tiap desa guna menunjang aktivitas warga yang membutuhkan internet, termasuk mendukung para pemuda kreatif yang mau membagikan karyanya untuk menceritakan potensi desa, seperti apa yang dilakukan Ilyas dengan konten Pasar Legi Jogosatru.
Selain itu, ia berjanji untuk mengerahkan pihaknya dalam membantu masyarakat untuk tergabung dalam Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) yang tersebar di setiap desa, yang menjadi wadah berkumpulnya kreatifitas masyarakat dalam upaya membangun dan memajukan desa.
Selain itu, ia mendorong penggunaan akal imitasi alias kecerdasan buatan atau AI dalam menunjang peran pemuda dalam mempromosikan desanya.
Eri juga menyatakan pemerintah siap menambah jaringan internet yang ada di desa melalui penempatan di setiap lapangan sepak bola desa, yang dinilainya mampu mendorong para pemuda kreatif untuk terus bergerak mempromosikan desa masing-masing.
Dengan begitu, selain dapat meningkatkan nilai jual lapangan itu sendiri, lapangan desa tersebut mampu menjadi pusat kegiatan-kegiatan positif kemasyarakatan yang berdampak bagi kemajuan desa.
"Forum diskusi ini adalah bentuk ideal, di mana pemerintah memiliki kewenangan terhadap kebijakan yang diterapkan di masyarakat, sementara masyarakat memiliki hak untuk menyampaikan aspirasi terkait kebijakan tersebut, yang kemudian keduanya bertemu di titik tengah melalui forum ini," kata Eri.
Dukungan DPRD
Sekretaris Komisi B DPRD Kabupaten Sidoarjo Sullamul Hadi Nurmawan yang kerap disapa Wawan menyatakan dukungan penuh legislatif dalam berbagai wacana yang dikemukakan dalam kegiatan tersebut.
Ia mengajak seluruh masyarakat desa, khususnya para pemuda, untuk terus aktif dan tidak berpangku tangan, dengan mempromosikan desa masing-masing hingga dapat menimbulkan efek berganda terhadap perekonomian desa, sesuai peran yang disanggupi masing-masing individu atau kelompok.
Selama upaya tersebut tidak melanggar norma agama maupun bertentangan dengan hukum, maka segala kegiatan positif akan terus didukungnya demi merealisasikan gagasan mengubah potensi desa menjadi bekal untuk kemajuan desa.
Kerja bersama adalah kunci untuk menggali, kemudian mengelola potensi desa yang tumbuh dari inisiatif masyarakat desa itu sendiri. Pemerintah daerah selaku pemegang kebijakan yang didukung oleh DPRD menangkap semua aspirasi tersebut untuk dijalankan bersama masyarakat desa. Dengan kopilaborasi kemajuan Sidoarjo digerakkan dari desa, kemudian membesar untuk kemajuan bersama.
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026