Bondowoso (ANTARA) - Mahasiswa S2 Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (UM) Sunita Diah Putri memilih Novel Bersampul Batik karya seorang penggerak literasi nasional di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur Muhammad Hairul sebagai objek kajian mendalam untuk penelitian.
"Saya memilih novel tersebut sebagai fokus kajian mendalamnya, dengan menggunakan pendekatan psikokritisisme untuk mengupas mekanisme pertahanan diri perempuan di tengah tekanan struktur sosial tradisional," dalam keterangannya di Bondowoso, Sabtu.
Ia menjelaskan alasannya mengapa agensi perempuan dalam novel ini sangat krusial untuk dikaji di era sekarang. Sebagai mahasiswa pascasarjana, tentu ia harus selektif dalam memilih objek kajian. Novel Bersampul Batik dinilai memiliki kekuatan pada "suara batin" yang sangat pekat.
"Kebanyakan sastra pesantren fokus pada romantisme atau nilai moralitas hitam-putih, namun penulis Novel Bersampul Batik berani mengeksplorasi area abu-abu, tentang bagaimana seorang perempuan seperti Aida menegosiasikan lukanya di tengah tuntutan tradisi yang sakral. Level kompleksitas batin inilah yang menurut saya sangat melimpah untuk dibedah secara saintifik di level S2," kata Putri.
Mengenai pilihan kajian dengan psikokritisisme, Putri menyampaikan bahwa hanya pendekatan model itu yang mampu membedah anatomi pertahanan diri Aida.
"Saya tertarik pada bagaimana trauma dan represi yang dialami Aida tidak berakhir pada gangguan jiwa klinis, melainkan bertransformasi menjadi energi kreatif. Psikokritisisme memungkinkan saya masuk ke dalam labirin pikiran tokoh untuk menemukan jawaban: mengapa Aida memilih patuh di luar, namun tetap merdeka di dalam," katanya.
Lebih dalam tentang rencana penelitiannya, Putri menyebutkan salah satu fokusnya adalah sublimasi. Sublimasi merupakan bagian inti dari kajiannya. Sublimasi adalah mekanisme pertahanan ego yang paling tinggi.
"Aida mengalami represi hebat. Ia dilarang mencintai Mahiru dan dipaksa menikah. Alih-alih melakukan pemberontakan fisik yang destruktif, ia menyublimasikan rasa sakitnya ke dalam tindakan menyampul buku dengan batik dan menulis. Batik itu bukan sekadar hiasan. Itu adalah perban yang indah untuk menutupi eksistensi diri yang hancur. Menulis baginya adalah katarsis, ruang dimana ia tetap menjadi subjek yang berdaulat," ujar Putri.
Putri menyampaikan pesan akademik atau temuan yang ingin ia bagikan kepada pembaca, khususnya sesama perempuan, melalui kajiannya terhadap Novel Bersampul Batik.
"Saya ingin menunjukkan bahwa agensi perempuan itu multifaset. Seringkali perempuan dianggap lemah, ketika mereka diam atau patuh pada tradisi. Melalui kajian ini, saya ingin membuktikan bahwa dibalik kepatuhan itu, ada perjuangan psikologis yang luar biasa hebat," katanya.
Menurutnya, ketika perempuan memilih dia, itu bukan berarti kalah. Terkadang diam adalah cara perempuan menjaga benteng terakhir identitas mereka melalui literasi dan kreativitas.
Kajian terhadap Novel Bersampul Batik karya guru Bahasa Indonesia ini membuktikan bahwa karya sastra bukan sekadar hiburan, melainkan cermin laboratorium psikologi yang sangat kaya. Sebuah novel sering kali mampu menangkap nuansa kesehatan mental yang mungkin luput dari pengamatan medis atau statistik formal.
Pewarta: Novi HusdinariyantoEditor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026