Trenggalek, Jatim (ANTARA) - Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak meninjau langsung lokasi longsor di jalur nasional penghubung Trenggalek–Ponorogo tepatnya di Km 16 Desa Nglinggis, Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, Kamis.
Dalam peninjauan itu, Emil menyampaikan longsor dipicu runtuhan dua batu besar dari tebing yang menimpa badan jalan dan merusak sebagian struktur jalur nasional tersebut.
Satu batu yang jatuh di badan jalan telah dipecah dan dibersihkan oleh petugas, sementara satu batu lainnya yang sempat menggantung di bawah bahu jalan juga telah diamankan.
Menurut Emil, meski material longsor di badan jalan mulai dibersihkan, akses Trenggalek–Ponorogo belum dapat langsung dibuka karena kondisi badan jalan masih rentan terhadap getaran kendaraan serta berpotensi memicu longsor susulan.
"Kondisi jalan masih rawan, sehingga belum bisa langsung dibuka untuk lalu lintas. Kami harus memastikan struktur tanahnya aman terlebih dahulu," katanya.
Ia menambahkan tembok penahan yang dibangun pada 2017 saat dirinya menjabat Bupati Trenggalek terbukti membantu menahan sebagian material longsor sehingga kerusakan tidak lebih parah.
"Tembok penahan ini terbukti memberikan dampak positif. Memang ada beberapa bagian yang gumpil, tetapi strukturnya masih cukup kokoh dan bisa diperbaiki dengan penguatan," ujarnya.
Setelah pembersihan material di badan jalan, petugas gabungan akan mengerahkan excavator long arm untuk membersihkan tumpukan material yang tertahan di balik tembok penahan agar kembali memiliki ruang menampung runtuhan batu jika terjadi longsor susulan.
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan penguatan struktur tanah dengan pemasangan sheet pile baja di bawah bahu jalan guna mencegah pergerakan tanah akibat getaran kendaraan.
Material penguatan tersebut dikirim dari Mojokerto dan diperkirakan tiba pada Jumat siang, dengan proses pemasangan diperkirakan membutuhkan waktu sekitar dua hari.
Setelah penguatan sementara selesai, jalur nasional itu direncanakan dapat kembali difungsikan secara terbatas dengan sistem buka-tutup untuk mengurangi getaran kendaraan.
Pemprov Jatim juga melibatkan ahli geologi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember dan Ikatan Ahli Geologi Indonesia untuk menganalisis kondisi tebing di lokasi longsor.
Analisis awal menunjukkan mahkota longsor mencapai sekitar 147 meter sehingga diperlukan pemetaan detail guna mengantisipasi potensi longsor lanjutan.
Untuk mendukung pemetaan tersebut, tim juga akan menggunakan teknologi Light Detection and Ranging (LiDAR) guna mengetahui ketebalan lapisan tanah di bagian atas tebing yang berpotensi runtuh.
Pewarta: Destyan H. SujarwokoEditor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026