Surabaya (ANTARA) - Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) mengembangkan robot permukaan tanpa awak untuk membantu petambak udang vaname di Kabupaten Jember dalam memantau kualitas air secara real time guna meningkatkan stabilitas tambak dan produktivitas budi daya berkelanjutan.
Ketua tim peneliti, Dr Eng Imam Sutrisno dari PPNS, menjelaskan bahwa teknologi ini memungkinkan deteksi dini terhadap perubahan kualitas air yang berpotensi membahayakan udang.
“Teknologi ini memungkinkan deteksi dini terhadap perubahan kualitas air yang berpotensi membahayakan udang. Dengan data real time, petambak dapat segera melakukan intervensi, seperti menambah aerasi, mengganti air secara parsial atau menyesuaikan pemberian pakan," katanya dalam keterangan diterima di Surabaya, Rabu.
Teknologi bernama Remotely Surface Vehicle for Water Monitoring Automation System (RSV EMAS) itu merupakan kendaraan permukaan tanpa awak yang dilengkapi sensor multi-parametrik untuk mengukur suhu, derajat keasaman (pH), oksigen terlarut (dissolved oxygen/DO), salinitas, dan kekeruhan air tambak.
Sistem tersebut terintegrasi dengan aplikasi berbasis web dan ponsel, sehingga petambak dapat memantau kondisi tambak dari jarak jauh tanpa harus berada di lokasi. Sumber energi utama perangkat menggunakan panel surya yang dinilai lebih ramah lingkungan dan efisien.
Hasil uji coba lapangan di tambak udang vaname di Jember menunjukkan peningkatan stabilitas kualitas air dari sekitar 60 persen menjadi lebih dari 80 persen dalam kondisi optimal.
Mortalitas udang dilaporkan menurun, sementara pengambilan keputusan pengelolaan tambak menjadi lebih cepat dan berbasis data.
Pengembangan RSV EMAS juga dinilai strategis untuk mengurangi ketergantungan pada alat monitoring impor yang relatif mahal dan kurang adaptif terhadap kondisi lokal.
Sejumlah pelaku industri perikanan disebut mulai menunjukkan ketertarikan untuk mengembangkan sistem tersebut ke tahap produksi lebih luas.
Selain mendukung produktivitas, penggunaan energi surya pada perangkat itu turut mendorong praktik budi daya yang lebih berkelanjutan dengan menekan penggunaan listrik konvensional dan bahan bakar fosil.
Riset tersebut juga melibatkan mahasiswa serta siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) bidang perikanan dalam proses desain, perakitan, hingga pengujian alat, sehingga mendukung penguatan pendidikan vokasi dan inovasi teknologi akuakultur di dalam negeri.
