Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta, Rabu, bergerak melemah 47 poin atau 0,28 persen menjadi Rp16.884 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.837 per dolar AS.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan kurs rupiah seiring sikap skeptis pasar terhadap perundingan Iran dengan AS.
“Walaupun Iran dan AS mencapai kesepahaman pada hari Selasa (17/2) mengenai 'prinsip-prinsip panduan' utama dalam pembicaraan yang bertujuan untuk menyelesaikan perselisihan nuklir mereka yang telah berlangsung lama, tetapi itu tidak berarti kesepakatan akan segera tercapai, kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi,” ungkapnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu.
Proses perundingan antara kedua negara tersebut dipantau ketat oleh pasar energi karena Iran adalah produsen minyak utama dan terletak di sepanjang Selat Hormuz yang sangat penting secara strategis, yakni jalur air sempit yang dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak global setiap harinya.
Risiko militer disebut tetap tinggi pasca laporan pada Senin (16/2) bahwa Garda Revolusi Iran melancarkan latihan di Selat Hormuz, karena pasukan AS tetap ditempatkan secara besar-besaran di seluruh Timur Tengah.
Sentimen lainnya berasal dari sikap hati-hati investor jelang rilis risalah pertemuan kebijakan Federal Reserve (The Fed) pada bulan Januari yang dapat memberikan wawasan baru tentang potensi pelonggaran moneter.
“Investor juga menunggu laporan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS untuk bulan Desember, yang akan dirilis pada hari Jumat, indikator inflasi pilihan Fed yang dapat membentuk ekspektasi suku bunga,” kata Ibrahim.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp16.884 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.844 per dolar AS.
