Surabaya (ANTARA) - Presiden Prabowo Subianto dalam acara Mujahadah Kubro Satu Abad NU di Stadion Gajayana, Malang, Jawa Timur, Minggu (8/2), menyampaikan rasa bahagianya hadir di tengah warga Nahdlatul Ulama.
Presiden mengakui, setiap kali berada di tengah-tengah NU, selalu bahagia. Presiden juga mengaku selalu semangat karena di tengah warga nahdliyin merasakan kesejukan, merasakan getaran hati. persatuan, guyub, dan keinginan menegakkan kedamaian.
Bagi dia, 100 tahun kiprah NU telah membuktikan bahwa organisasi itu sungguh-sungguh menjadi pilar dari kebesaran bangsa Indonesia. Setiap kali Indonesia dalam keadaan bahaya, NU tampil menyelamatkan.
Presiden mengingatkan kembali peran besar NU dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, khususnya dalam pertempuran di Surabaya. Proklamasi kemerdekaan memang di Jakarta, tapi ujian kemerdekaan diuji di Jawa Timur, khususnya di Surabaya.
Dalam pertempuran 10 November 1945 itu, bangsa Indonesia berhasil mempertahankan kemerdekaan melawan negara besar di dunia. Rakyat Jawa Timur yang dipimpin para kiai dan ulama berhasil menunjukkan bahwa bangsa Indonesia tidak akan tunduk pada siapapun yang ingin menjajah kembali.
Indonesia menunjukkan keberhasilannya menghadapi Inggris, pemenang Perang Dunia. Rakyat Jawa Timur dipimpin para kiai dan ulama telah membuktikan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang tidak mau tunduk lagi kepada siapapun yang ingin menjajah bangsa kita.
Tidak hanya itu, Prabowo juga menyoroti pentingnya semangat persatuan sebagaimana selalu dicontohkan oleh NU. "Itulah pelajaran sejarah: tidak ada bangsa yang kuat dan maju kalau pemimpinnya tidak rukun,” ujarnya.
Prabowo mengajak seluruh elemen bangsa, para pemimpinnya untuk selalu menjaga persatuan meskipun berbeda pandangan. Kita boleh bertanding, berdebat, berbeda, tapi di ujungnya semua pemimpin Indonesia dan masyarakat harus rukun menjaga persatuan dan kesatuan. Tidak boleh pemimpin punya dendam, rasa benci, rasa dengki, atau selalu mencari kesalahan pihak lain.
Prabowo juga mengingatkan nilai luhur yang diajarkan para kiai, yakni sikap mikul duwur mendem jero atau menjunjung tinggi kebaikan dan kehormatan, terutama orang tua atau pemimpin dan mengubur dalam-dalam aib atau keburukannya. Berbeda tidak masalah, sesudah berbeda kita cari persatuan, kesamaan, dan musyawarah untuk mufakat. Itu kepribadian bangsa Indonesia.
Ungkapan Presiden Prabowo itu digarisbawahi oleh Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin). Bagi Gus Kikin, Mujahadah Kubro menggambarkan keguyuban, guna mensyukuri perjalanan NU yang telah berusia satu abad. Ia berterima kasih kepada seluruh warga NU yang sudah berjerih payah datang ke Stadion Gajayana, Malang.
Di hadapan acara yang juga dihadiri pengurus NU se-Indonesia itu, cicit muassis NU Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari itu menyatakan NU sudah berumur 100 tahun dan kini menjadi organisasi raksasa dengan jumlah anggota 100 juta lebih. Anggota itu merupakan jumlah terbesar di Indonesia, bahkan dunia, yang patut disyukuri dan dijaga.
Caranya, eksistensi NU perlu disyukuri dengan tetap merujuk amanat Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari untuk saling menasehati, dakwah yang menyenangkan. “Dalam Qonun Asasinya, KH Hasyim Asy’ari mengajak masuk NU dengan penuh kecintaan, kasih sayang, rukun, bersatu, dan dengan ikatan jiwa raga,” katanya.
Pertanyaannya, sudahkah jamaah dan pengurus NU itu mengamalkan nilai-nilai Qonun Asasi tersebut? Menurut Gus Kikin, Mujahadah Kubro Satu Abad NU ini menjadi momentum penting untuk memperkuat persatuan dan soliditas warga nahdliyin, khususnya di Jawa Timur, di tengah berbagai dinamika yang sempat mengemuka.
Diakui memang ada dinamika, tapi khusus di Jawa Timur solid. Ada 45 cabang PCNU dan ke bawah semuanya solid. Jadi, dinamika yang ada bisa menjadi momentum untuk memperkuat ukhuwah, yang dalam tradisi NU memiliki makna lebih dalam dibanding sekadar persatuan formal. Ukhuwah itu lebih dari persatuan.
Dalam kesempatan itu, Gus Kikin mengapreasisi dukungan Muhammadiyah dan pengurus gereja di Kota Malang saat Mujahadah Kubro dalam rangka Satu Abad Nahdlatul Ulama.
Ia berterima kasih kepada pengurus Muhammadiyah yang menyiapkan 10 ribu bungkus konsumsi, juga sekolah-sekolah Muhammadiyah di sekitar stadion yang menyediakan makanan ringan dan minuman, serta membuka lahan dan fasilitasnya.
Selain itu, Gus Kikin yang juga pengasuh Pesantren Tebuireng, Jombang, Jatim, itu memberikan penghormatan kepada pengurus gereja yang telah menunjukkan toleransi luar biasa. Pengurus gereja membuka pintu dan fasilitasnya bagi warga NU, bahkan dengan arif menggeser waktu misa kebaktian dari jadwal seharusnya.
Jadi, pelajaran penting dalam "Mujahadah Kubro" Satu Abad NU di Malang adalah perlunya menyandingkan rasionalitas dengan spiritualitas (ilmu plus nilai), menjaga silaturahmi sebagai ajaran utama para muassis (pendiri NU), di antara perbedaan SARA (Islam ramah), dan fokus pada khidmat pelayanan kepada umat, baik di bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi, digitalisasi, dan historis, sebagai wujud "nasionalisme NU" untuk umat dan dunia.
*) Edy M Ya'kub adalah Wakil Sekretaris Bidang II Panitia Mujahadah Kubro PWNU Jatim dalam peringatan puncak Satu Abad NU di Malang, Jawa Timur, pada 7-8 Februari 2026.
