Yogyakarta (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mendata sebanyak 40 orang menjalani perawatan medis akibat gempa bumi bermagnitudo 6,2 yang berpusat di Pacitan, Jawa Timur, pada Jumat (6/2) dini hari.
Kepala Pelaksana BPBD DIY Agustinus Ruruh Haryata menyampaikan hingga laporan sementara diterima, tidak terdapat korban jiwa akibat peristiwa tersebut.
"Sementara tidak ada korban jiwa," ujar Agustinus Ruruh Haryata saat dikonfirmasi di Yogyakarta, Jumat.
Seluruh korban terdampak tersebut saat ini menjalani perawatan medis di sejumlah fasilitas kesehatan di wilayah DIY, termasuk rumah sakit dan puskesmas.
Berdasarkan pemantauan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD DIY, dia menyebut dampak kerusakan tercatat di beberapa wilayah.
Di Kota Yogyakarta, kerusakan terjadi di Kapanewon Umbulharjo berupa atap balai kampung.
Sementara di Kabupaten Bantul, gempa berdampak di 10 kapanewon, meliputi Banguntapan, Bantul, Imogiri, Jetis, Kasihan, Pajangan, Pleret, Pundong, Sedayu, dan Srandakan.
Dampak kerusakan di Bantul meliputi delapan rumah rusak, dua tempat ibadah, satu fasilitas pemerintah, dua fasilitas pendidikan, serta satu fasilitas kesehatan.
Hingga laporan terakhir BPBD DIY, tidak terdapat informasi dampak kerusakan maupun korban jiwa di Kabupaten Sleman, Kulon Progo, dan Gunungkidul.
"Data bersifat sementara, dapat berubah sesuai update terbaru," ujar Ruruh.
BMKG sebelumnya menyampaikan gempa bumi bermagnitudo 6,2 tersebut berpusat di laut, sekitar 89 kilometer tenggara Pacitan, Jawa Timur, dengan kedalaman 58 kilometer. Hasil pemodelan BMKG memastikan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.
Gempa tersebut dirasakan di sejumlah wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dengan skala intensitas berbeda. Di Kabupaten Bantul dan Sleman guncangan dirasakan dengan intensitas IV MMI, sedangkan di Kabupaten Kulon Progo dan Gunungkidul dirasakan dengan intensitas III MMI.
