Surabaya (ANTARA) - Ketua Komisi E Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Timur Sri Untari Bisowarno meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur memperkuat pengawasan sebagai langkah antisipasi terhadap potensi merebaknya Virus Nipah (NiV).
“Sejak mendapat informasi tentang virus Nipah, saya langsung meminta kepada Kepala Dinas Kesehatan untuk menyiapkan langkah pencegahan dan skenario penanganan jika virus tersebut masuk ke Indonesia,” ujar Sri Untari di Surabaya, Jawa Timur, Kamis.
Ia menjelaskan pentingnya langkah antisipatif pemerintah daerah dalam menghadapi potensi masuknya virus Nipah, meskipun hingga kini belum ditemukan kasus konfirmasi di Indonesia.
Menurut dia, kewaspadaan harus terus ditingkatkan agar tidak terjadi penanganan yang terlambat seperti saat awal pandemi COVID-19.
Anggota DPRD dari daerah pemilihan Malang Raya tersebut menyatakan, Jawa Timur sebagai provinsi agraris memiliki tingkat kerentanan yang perlu mendapat perhatian serius.
Interaksi yang erat antara manusia, ternak dan satwa liar seperti kelelawar buah, dinilai menempatkan wilayah tersebut pada posisi yang membutuhkan langkah antisipatif secara komprehensif.
“Kita tidak boleh menunggu sampai ada kasus baru bertindak. Prinsip kehati-hatian wajib diterapkan sejak dini,” katanya.
Sri Untari menjelaskan mitigasi berbasis data ilmiah harus menjadi dasar dalam perumusan kebijakan pemerintah daerah.
Ia menyoroti perlunya penguatan surveilans zoonosis, pemantauan hewan reservoir, serta peningkatan kesiapan fasilitas laboratorium kesehatan di daerah.
Langkah tersebut dinilai penting mengingat tingginya mobilitas masyarakat dan distribusi hewan ternak di Jawa Timur yang berpotensi mempercepat penyebaran penyakit apabila tidak diantisipasi dengan baik.
Lebih lanjut, ia menyatakan Komisi E DPRD Jatim siap mengawal anggaran dan kebijakan pemerintah provinsi guna memperkuat kesiapsiagaan daerah.
Ia juga menekankan pentingnya penyusunan standar prosedur operasional (SOP) penanganan penyakit zoonotik di seluruh fasilitas kesehatan, serta perlunya sosialisasi intensif kepada masyarakat agar tidak terjebak hoaks maupun kepanikan berlebih.
Virus Nipah diketahui memiliki tingkat kematian yang tinggi dan tergolong zoonosis berbahaya yang dapat menular melalui hewan maupun konsumsi bahan pangan yang terkontaminasi.
