Surabaya (ANTARA) - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyatakan Jawa Timur siap berperan sebagai co-creator pengembangan talenta digital nasional saat peluncuran Program Talenta Digital Jatim Mendunia bersama Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) di Surabaya, Jumat.
“Insya Allah Jatim rasanya sudah memungkinkan menjadi co-creator, jadi kalau kreatornya semua dari Komdigi dari Jawa Timur Insya Allah sudah memungkinkan untuk menjadi co-creator,” ujar Khofifah.
Khofifah mengatakan, penguatan ekosistem digital di Jatim akan berdampak pada peningkatan efisiensi pemerintahan, optimalisasi layanan publik, percepatan implementasi Satu Data Indonesia, serta peningkatan employability sumber daya manusia.
“Efisiensi bisa dimaksimalkan layanan publik bisa ditingkatkan, Satu Data Indonesia bisa diakselerasi dan kemudian employability juga akan bergerak signifikan,” katanya.
Menurut Khofifah, Jatim memiliki modal kuat untuk menjadi anchor province pengembangan talenta digital bagi kawasan Indonesia bagian tengah dan timur, didukung jumlah penduduk besar, basis pendidikan kuat, serta ekosistem industri dan ekonomi kreatif yang terus tumbuh.
“Jatim berada pada posisi strategis untuk menjadi anchor province pengembangan talenta digital di kawasan Indonesia bagian tengah dan timur,” katanya.
Ia menekankan bahwa program Talenta Digital Jatim Mendunia mengusung komitmen menyiapkan talenta berwawasan global agar mampu bersaing di tingkat internasional.
“Tentu dengan mindset global agar mampu bersaing di pasar internasional,” ujarnya.
Khofifah juga menegaskan pengembangan talenta digital harus bersifat terapan, memahami kebutuhan industri dan pelayanan publik, adaptif, beretika, serta berorientasi solusi.
“Inilah posisi yang kami dorong, yaitu global employability, local prosperity,” katanya.
Dalam pengembangan talenta digital, Pemprov Jawa Timur menerapkan model kolaborasi dengan pemerintah pusat sebagai penentu arah dan standar, pemerintah provinsi sebagai orkestrator, kabupaten/kota sebagai basis implementasi, perguruan tinggi sebagai penyedia riset terapan, serta industri sebagai penyedia kebutuhan dan proyek riil.
“Perguruan tinggi menghadirkan pengetahuan serta riset terapan, sementara industri menjadi penyedia kebutuhan nyata dan proyek riil. Inilah yang menjadi pembeda Jatim, yaitu kerja bersama, bukan kerja sendiri-sendiri,” ujarnya.
Khofifah menambahkan Jatim tidak ingin hanya menjadi penerima program pemerintah pusat, melainkan simpul strategis dalam pembangunan talenta digital nasional.
“Jatim punya potensi besar, siap untuk menjadi simpul strategis dalam peta besar talenta digital Indonesia,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, dilakukan penandatanganan Addendum Perjanjian Kerja Sama Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Digital antara Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia.
