Jakarta (ANTARA) - Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani mengupayakan skema pembiayaan inovatif (blended finance) untuk menjawab kebutuhan modal besar di sektor teknologi tinggi (high-tech), seiring pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan infrastruktur digital global.

Upaya ini ditegaskan Rosan yang juga sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sekaligus CEO Danantara Indonesia dalam forum Tri Hita Karana G20 Bali Global Blended Finance Alliance Dialogue – Sustainable AI: Balancing Compute Growth with Equitable Prosperity yang digelar di Indonesia Pavilion, World Economic Forum (WEF) Davos, Swiss 2026.

Dalam pernyataan diterima di Jakarta, Jumat Rosan menjelaskan, lonjakan kebutuhan komputasi akibat perkembangan AI harus dipandang sebagai peluang strategis bagi pertumbuhan ekonomi nasional, sekaligus tantangan yang memerlukan tata kelola pembiayaan dan kebijakan yang tepat.

“Di Indonesia, AI bukan hanya bagian dari infrastruktur, tetapi juga pendorong pertumbuhan ekonomi di masa depan,” kata Rosan.

Merujuk berbagai proyeksi global, kebutuhan investasi infrastruktur AI, termasuk pusat data, terus meningkat tajam dan membuka peluang besar bagi negara berkembang.

Dalam konteks ini, Indonesia mendorong blended finance sebagai solusi untuk menjembatani pendanaan publik dan swasta, sekaligus menyelaraskan agenda pertumbuhan ekonomi digital dengan komitmen iklim dan pengembangan kapasitas lokal.

Sejumlah lembaga keuangan internasional dan investor global, lanjut dia, memandang kombinasi pendanaan publik–swasta sebagai kunci percepatan pembangunan infrastruktur digital yang scalable dan sustainable.

Pemerintah Indonesia pun memperkuat dukungan kebijakan melalui reformasi perizinan, integrasi Online Single Submission (OSS), serta pemberian insentif seperti tax allowance dan tax holiday bagi sektor teknologi dan inovasi strategis.

Ia menambahkan, pemerintah secara konsisten memperbaiki iklim investasi agar mampu menarik pendanaan jangka panjang, khususnya untuk sektor teknologi maju yang membutuhkan modal besar dan berkelanjutan.

“Sebagai bagian dari strategi investasi, kami terus memperbaiki iklim investasi dengan menyederhanakan kebijakan, aturan, dan regulasi. Kami berkomitmen pada kemitraan jangka panjang yang saling menguntungkan, karena kemitraan yang sehat akan menghasilkan kinerja dan nilai yang baik," ujarnya.

Tidak hanya itu, lanjutnya, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi prioritas utama, karena ini menjadi tanggung jawab Indonesia untuk menciptakan lebih banyak lapangan kerja yang berkualitas.

Diskusi yang digelar pada 21 Januari tersebut menghadirkan berbagai pemangku kepentingan global dari sektor keuangan, teknologi, dan industri, serta menegaskan posisi Indonesia sebagai mitra investasi yang terbuka, stabil, dan berorientasi jangka panjang.

Di hari yang sama, pihaknya juga menggelar "Indonesia Night" sebagai ruang diplomasi investasi dan ekonomi yang hangat dan strategis.

Acara tersebut dihadiri Interim Co-Chair of the World Economic Forum André Hoffmann, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie, serta para pimpinan perusahaan mitra pendukung.

Rosan menyampaikan bahwa Indonesia Night tidak hanya menampilkan keramahan, kuliner, dan budaya Indonesia, tetapi juga menjadi ajang untuk menghargai kerja sama dan persahabatan.

Ia menegaskan Indonesia merupakan negara yang terbuka untuk berbisnis, berkolaborasi, dan bekerja sama, serta memiliki komitmen kuat membangun masa depan yang lebih baik bersama mitra global.

Indonesia Night dirancang sebagai pelengkap diplomasi formal yang berlangsung di Indonesia Pavilion. Melalui seni, musik, dan dialog informal, Indonesia ingin menyampaikan pesan bahwa stabilitas ekonomi, kepastian kebijakan, dan peluang investasi jangka panjang berjalan beriringan dengan kekayaan budaya serta keterbukaan terhadap kolaborasi global.



Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026