Surabaya (ANTARA) - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Timur Wara Sundari Renny Pramana meminta Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama Dinas Kesehatan setempat untuk mengaktifkan status kewaspadaan dini terhadap potensi penyebaran super flu atau infeksi influenza A (H3N2) subclade K di wilayah setempat.
“Ini bukan persoalan ringan. Penularannya cepat dan gejalanya mirip flu biasa. Kalau terlambat diantisipasi, dampaknya bisa berat,” ujar Wara Sundari di Surabaya, Senin.
Ketua Fraksi PDIP DPRD Jatim ini juga mendorong pembentukan satuan tugas (satgas) lintas organisasi perangkat daerah (OPD) agar penanganan lebih terkoordinasi.
Menurut dia, kesiapsiagaan sejak awal merupakan faktor penentu dalam mencegah meluasnya penyebaran penyakit.
Mengacu pengalaman penanganan pandemi COVID-19, ia menekankan perlunya pendekatan promotif, preventif, dan kuratif yang dijalankan secara seimbang.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, pemantauan kasus Influenza Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI) masih terus berlangsung melalui sistem surveilans nasional.
Hingga akhir Desember 2025 tercatat 62 kasus di delapan provinsi, dimana Jawa Timur menjadi daerah dengan laporan kasus tertinggi yakni 23 kasus.
Menurut Wara, kondisi tersebut harus menjadi perhatian serius mengingat wilayah setempat memiliki tingkat mobilitas penduduk tinggi, kepadatan besar, serta banyak pintu masuk wilayah mulai bandara hingga pelabuhan.
“Jatim ini wilayah strategis. Kalau tidak siap, dampaknya bisa meluas,” ujar Anggota Komisi E DPRD Jatim ini.
Pada aspek promotif, Wara meminta Pemprov Jatim menggencarkan edukasi publik terkait perilaku hidup bersih dan sehat, termasuk etika batuk, penggunaan masker saat sakit, serta kebiasaan mencuci tangan.
Ia juga menekankan pentingnya pencegahan berbasis komunitas melalui puskesmas, kader kesehatan, hingga posyandu untuk memantau gejala di masyarakat, khususnya di sekolah, pesantren dan area publik padat sehingga bisa mendeteksi sejak tingkat paling bawah.
Ia menambahkan, fasilitas kesehatan perlu memastikan kesiapan alat pelindung diri, logistik medis, hingga laboratorium untuk pemeriksaan lanjutan. Selain itu, rumah sakit rujukan juga diminta menyiapkan alur penanganan kasus flu berat agar layanan tidak terganggu.
Ia juga menekankan perlunya penguatan sistem pelaporan kasus ILI dan SARI secara cepat serta manajemen fasilitas kesehatan yang mampu mengantisipasi kemungkinan lonjakan pasien.
Wara juga menilai aspek komunikasi publik sangat penting untuk mencegah kepanikan. Informasi, kata dia, harus tersampaikan secara tunggal, akurat, dan menenangkan, namun tetap mendorong kewaspadaan.
Kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, serta penderita penyakit penyerta disebutnya harus menjadi prioritas perlindungan.
Sementara itu, penanganan tidak hanya bergantung pada sektor kesehatan, tetapi membutuhkan dukungan lintas instansi mulai Dinas Perhubungan, Dinas Pendidikan, BPBD hingga Kominfo.
Legislator minta Jatim tingkatkan kewaspadaan ancaman "super flu"
Senin, 5 Januari 2026 14:58 WIB
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Timur Wara Sundari Renny Pramana, saat mengikuti rapat paripurna di Surabaya beberapa waktu lalu. (ANTARA/ HO - DPRD Jawa Timur)
Ini bukan persoalan ringan. Penularannya cepat dan gejalanya mirip flu biasa. Kalau terlambat diantisipasi, dampaknya bisa berat.
