Jakarta (ANTARA) - Yanbu, Arab Saudi, menjadi penanda akhir perjalanan panjang yang tidak biasa bagi motorsport Indonesia. Di kota pesisir Laut Merah itu, Julian Johan atau yang akrab dipanggil Jeje, dan Shammie Zacky Baridwan menuntaskan etape ke-13 Rally Dakar 2026.
Yang bersamaan dengan itu, mencatat sejarah sebagai pereli pertama asal Indonesia yang berhasil finis di ajang reli paling keras di dunia itu.
Rally Dakar 2026 berlangsung sejak 3 Januari, menempuh sekitar 8.000 kilometer dalam 13 etape melintasi gurun pasir, jalur berbatu, savana terbuka, hingga lintasan maraton yang menuntut konsentrasi penuh. Setiap hari menghadirkan tantangan berbeda, baik dari sisi medan, cuaca, maupun tekanan waktu.
Di kategori Dakar Classic, tempat Jeje dan Shammie berlaga, kecepatan bukan satu-satunya ukuran. Ketepatan waktu, konsistensi, dan kemampuan bertahan menjadi faktor penentu utama.
Hasil akhirnya mencerminkan ketangguhan tersebut. Jeje menutup Dakar Classic di peringkat kelima klasemen umum dengan skor 1.357 poin, sekaligus finis ketiga di kelas H2. Mengemudikan Toyota Land Cruiser 100 tahun 2001 bersama co-driver asal Prancis, Mathieu Monplaisi, Jeje menjalani Dakar pertamanya tanpa pengalaman sebelumnya di ajang sekelas ini.
Shammie, bersama navigator Ignas Daunoravicius, finis di peringkat ketujuh klasemen umum dengan skor 1.393 poin dan menempati posisi ketiga kelas H1. Di tengah fluktuasi performa dari etape ke etape, Shammie mencatat satu momen yang langsung masuk buku sejarah: kemenangan di Etape 11, menjadikannya orang Indonesia pertama yang menjuarai satu etape Rally Dakar.
Perjalanan menuju capaian itu jauh dari lurus. Dakar Classic memiliki pola lomba yang berbeda dengan reli-reli lain yang lebih akrab bagi pereli Indonesia. Tidak ada adu siapa tercepat dari start ke finis. Peserta dituntut menjaga kecepatan rata-rata tertentu, membaca koordinat, mematuhi radius waypoint, dan menghindari penalti detik demi detik.
“Ini bukan start sampai finis cepat-cepatan. Ini tepat-tepatan,” kata Shammie.
Dalam satu segmen, kecepatan rata-rata bisa ditetapkan 85 kilometer per jam, terlepas dari kondisi lintasan. Terlalu cepat atau terlalu lambat sama-sama berisiko penalti. Di dashboard indikator akan menyala merah jika melenceng, sementara tekanan tetap berjalan tanpa kompromi.
Tekanan itu hadir sejak pagi buta. Dari bivouac menuju titik start, jarak tempuh bisa mencapai 30 hingga 100 kilometer sebelum balapan dimulai. Suhu gurun pada pagi hari bisa turun hingga sekitar 9 derajat celsius, lalu melonjak tajam di siang hari. Tidak ada jeda makan siang resmi. Asupan terbatas pada snack dan buah di dalam mobil, sementara tubuh dibungkus wearpack berjam-jam.
Secara fisik, Dakar menguras tenaga. Secara mental, ia memaksa pembalap untuk mengambil keputusan terus-menerus. Secara psikis, ia menempatkan mereka pada situasi yang nyaris tidak memberi ruang untuk ragu. Yang Shammie bilang, Dakar selalu memaksa para pembalap untuk menyerah.
Titik terendah
Shammie pernah berada di titik terendah saat mobilnya terjebak di pasir. Proses recovery dilakukan berdua, tanpa bantuan luar, dengan keluar-masuk mobil di posisi ekstrem dan membuka-pasang sabuk pengaman berkali-kali.
“Tenaga kita sudah di ujung. Tapi kita istirahat sebentar, lalu jalan lagi,” kata Shammie.
Proses itu memakan waktu lebih dari tiga jam, mendekati batas maksimal etape, namun Dakar tidak berhenti menunggu. Etape berikutnya tetap harus dijalani pada hari yang sama, dengan kondisi fisik dan mental yang sudah terkuras.
Di tengah kondisi seperti itu, Etape 11 menjadi oase. Etape berformat regularity tersebut menuntut konsistensi mutlak dan pengambilan keputusan yang presisi. Lintasannya relatif datar, minim handicap, dan memberi ruang bagi pembalap yang mampu menjaga ritme.
“Datangnya, perginya, sudutnya, keluarannya, ngeremnya—semua harus konstan,” ujar Shammie.
Di tengah etape, Ignas menyebut peluang kemenangan berdasarkan data navigasi. Shammie sempat meragukannya. Kepastian baru datang saat tiba di bivouac dan melihat sambutan para peserta lain yang sudah menunggu. Etape itu berakhir dengan kemenangan.
Bagi Jeje, Dakar juga menjadi pelajaran tentang batas diri dan strategi.
Dengan mobil non-turbo dan tenaga yang pas-pasan, pendekatan setengah-setengah tidak memungkinkan. Ia memilih opsi mobil dan tim yang memungkinkan fokus penuh pada balapan, tanpa harus membangun kendaraan dari nol.
Jeje dan Shammie sama-sama tergabung dalam tim asal Prancis, Compagnie Saharienne, yang menyediakan paket mobil siap balapan lengkap dengan teknisi. Biayanya sekitar Rp3 miliar untuk menyewa mobil itu dan berbagai keperluannya. Risiko diambil sejak awal, dengan pemahaman bahwa Dakar tidak memberi banyak ruang untuk bermain aman.

Kehadiran Jeje dan Shammie di Rally Dakar 2026 juga menandai kembalinya Indonesia ke ajang ini setelah 15 tahun. Terakhir, pereli Indonesia tampil pada 2011 melalui Kasih Hanggoro, sementara jauh sebelumnya Tinton Soeprapto mengikuti Dakar pada 1990.
Kategori Dakar Classic ditujukan bagi mobil berusia minimal 20 tahun, namun menggunakan bivouac dan organisasi yang sama dengan kategori utama. Rutenya paralel, disesuaikan dengan kemampuan kendaraan bersejarah, tetapi tekanan fisik dan mentalnya tetap nyata dan berlapis.
Di garis akhir Yanbu, tidak ada euforia berlebihan. Yang tersisa adalah tubuh lelah, pikiran yang masih tertinggal di gurun, dan satu kepastian bahwa Indonesia kini tercatat dalam daftar finis Rally Dakar.
Bagi Jeje dan Shammie, hasil ini lebih dari sekadar peringkat, melainkan pembuktian bahwa keputusan untuk berangkat dengan segala keterbatasan bisa dituntaskan sampai akhir.
"Jangan pernah lihat apa yang negara kasih ke kita. Tapi ada pembuktian yang kita berikan buat negara, minimal buat anak cucu kita, atau keluarga, atau orang-orang yang kita cintai," kata Shammie.
