Jakarta (ANTARA) - Pendidikan Nasional mencatat sejarah baru dengan dilakukannya penandatanganan perjanjian pengakuan timbal balik atas pendidikan, kualifikasi, dan gelar akademik antara Indonesia dan Rusia di Moskow, belum lama berselang.
Ini merupakan momen penting bagi masa depan pendidikan Indonesia, mengingat kesetaraan gelar akan mempermudah kerja sama lain bagi kedua negara, seperti bidang ketenagakerjaan, ekonomi dan lainnya.
Menteri Sains dan Pendidikan Tinggi Rusia Valery Falkov serta Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Indonesia Brian Yuliarto menyepakati rumusan kerja sama diplomatik di bidang pendidikan, yang akan menjadi fondasi sistematis bagi memperkuat mobilitas pengetahuan kedua negara di era globalisasi.
Dalam konteks pendidikan modern, di mana batas wilayah semakin tereduksi oleh teknologi digital dan arus informasi, maka perjanjian semacam ini menggambarkan pemahaman mendalam bahwa pendidikan bukan lagi monopoli nasional, melainkan aset bersama, tanpa lintas batas.
Adaptif inklusif
Perjanjian ini muncul didorong oleh tren yang telah berlangsung lama, seperti peningkatan jumlah mahasiswa Indonesia di Rusia yang sangat signifikan.
Berdasarkan data, setiap tahun angka mahasiswa baru ke Rusia terus naik didorong oleh kualitas pendidikan, terutama di bidang sains, teknik, dan kedokteran yang terbukti tangguh.
Tidak heran jika Falkov, dengan lugas menyatakan bahwa kesepakatan ini memperlicin mekanisme bagi pengakuan kualifikasi lulusan Indonesia saat kembali ke tanah air. Tanpa pengakuan mutual, gelar dari luar negeri sering terhambat birokrasi, pada ujungnya menghambat kontribusi langsung alumni terhadap distribusi pembangunan nasional.
Sementara itu, Brian Yuliarto menegaskan mahasiswa penerima beasiswa sebagai aset pembangunan memiliki posisi penting dan strategis. Selaras dengan prinsip pendidikan modern bahwa investasi pada manusia membuahkan motor penggerak transformasi yang memiliki daya gedor untuk menyelesaikan berbagai problem bangsa. Seperti halnya yang dikemukakan oleh para ahli di UNESCO atau OECD, bahwa pengakuan timbal balik gelar antarnegara adalah pilar utama dalam membangun sistem pendidikan yang adaptif dan inklusif.
Pendidikan modern tidak lagi berorientasi pada penyeragaman nasional semata, melainkan pada harmonisasi global yang memungkinkan transfer kredit, mobilitas tenaga ahli, dan kolaborasi riset lintas disiplin ilmu untuk memecahkan problem yang makin menantang di masa depan.
Rusia, dengan warisan ilmiahnya yang kuat, dari fisika nuklir hingga eksplorasi luar angkasa, menawarkan spesialisasi yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia, terutama untuk mendorong percepatan program energi terbarukan, teknologi pertambangan, dan kesehatan masyarakat. Rusia, bahkan menjanjikan untuk mempersiapkan tenaga ahli di sektor-sektor prioritas Indonesia.
Perjanjian ini sekaligus menjadi terobosan bagi penyelesaian perbedaan pandang atas pengakuan gelar yang sering menjadi penghalang untuk syarat kualifikasi, sementara lanskap pendidikan dunia telah berubah.
Manfaat bagi Indonesia
Di era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0, di mana kecerdasan buatan dan big data semakin mendominasi, kita tidak boleh terjebak dalam isolasionisme pendidikan. Diversifikasi sumber pengetahuan baru justru harus terus dikembangkan, termasuk dari Rusia yang notabene non-Barat yang bisa jadi antitesa dominasi hegemoni pendidikan Barat.
Mahasiswa Indonesia di Rusia tidak hanya belajar ilmu, tetapi juga mengenali perspektif alternatif yang kaya akan ketahanan dan inovasi menghadapi kondisi ekstrem. Sisi lain yang relevan bagi negara kepulauan yang rentan bencana dan tantangan geopolitik seperti Indonesia.
Banyak manfaat bagi Indonesia sangat nyata dan strategis dari kerja sama ini. Pertama, alumni dari Rusia yang kini gelarnya diakui secara otomatis dapat berkontribusi langsung di sektor industri, seperti infrastruktur dan industri berbasis sains, tanpa hambatan ekuivalen.
Kedua, kesepakatan ini akan mendorong peningkatan kualitas pendidikan domestik melalui kompetisi sehat. Universitas di Indonesia harus berbenah untuk menarik talenta global, termasuk profesor Rusia yang diundang sebagai dosen tamu.
Ketiga, dalam jangka panjang, perjanjian ini memperkuat diplomasi pendidikan, membuka pintu beasiswa lebih luas dan kemungkinan munculnya gagasan forum rektor bilateral di tahun mendatang. Bagi generasi muda Indonesia, kerja sama ini memberi akses luas bagi pendidikan berkualitas, tanpa rasa takut gelarnya "tidak diakui", sehingga eksplorasi intelektual dari luar negeri semakin diminati.
Jika merujuk pada nilai filosofis pendidikan nasional, di mana pendidikan merupakan proses pembebasan manusia dari keterbelakangan, maka perjanjian ini sekaligus merefleksikan visi Indonesia Emas 2045.
Pentingnya eksekusi
Kerja sama pendidikan Rusia-Indonesia merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan memperkuat hubungan bilateral. Perjanjian ini memungkinkan pertukaran pengetahuan, teknologi, dan budaya, serta meningkatkan kerja sama riset dan pengembangan.
Ini merupakan wujud komitmen kedua negara untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan mencapai kemajuan bersama. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada bagaimana eksekusi dari kesepakatan itu di tingkat fragsis.
Pemerintah harus menyosialisasikan mekanisme ini ke perguruan tinggi dan dunia usaha agar segera dipahami oleh lingkungan pendidikan tinggi dan berdampak nyata. Kita sadar bahwa transformasi bidang pendidikan, salah satunya bagaimana membangun jejaring dalam pendidikan global yang lebih adil, di mana Indonesia dapat mengambil peran aktif sebagai mitra setara.
*) Dr Eko Wahyuanto adalah dosen Politeknik Negeri Media Jakarta dan Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta (UNJ)
