Surabaya (ANTARA) - Secara nasional, Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA menukil sejarah kelahirannya pada 13 Desember 1937 (88 tahun), namun LKBN ANTARA Biro Surabaya/Jawa Timur mulai mengukir sejarah pada 1 Oktober 1945. Meski selisih 8 tahun, justru sejarah ANTARA di Jatim sangat banyak mengukir sejarah.
Hampir tidak ada satu pun jejak historis dari heroisme Arek-Arek Surabaya yang terlewatkan dari kesaksian tertulis pewarta Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA Biro Surabaya/Jatim, bahkan naskah proklamasi kemerdekaan RI juga disebarluaskan oleh ANTARA, termasuk ANTARA Perwakilan/Cabang Surabaya.
Naskah Proklamasi diterima Kantor Berita (KB) Indonesia Cabang Surabaya (eks KB Domei) dalam bentuk morse dari KB Domei Pusat/Jakarta, 15 menit setelah dideklarasikan Soekarno-Hatta di Jakarta, Jumat, 17 Agustus 1945. Berita proklamasi itu diterima markonis Jakoeb dan Soewardi (diterima dari KB Domei Jakarta) pada pukul 11.44 WIB, lalu disalin dari morse ke bahasa latin dan diserahkan ke RM Bintarti dan Soetomo (Bagian Redaksi).
Penyebarluasan informasi terkait jejak historis itulah salah satu keunggulan kantor berita, karena masa silam memang tidak banyak media seperti sekarang. Jadi, ada dua keunggulan kantor berita, kala itu, yakni informasi historis dari jejak masa lalu (dalam bentuk narasi atau foto) dan jejaring informasi dari lokal, hingga internasional.
Lewat pemberitaan proklamasi itu, akhirnya jejak historis perjuangan Arek-arek Surabaya pun terekam, hingga kini. Pada era perjuangan itu, KB Domei Cabang Surabaya dipimpin oleh Ohara (Jepang), dengan anggota redaksi Soetomo (Bung Tomo), RM Bintarti, Soemadji Adji Wongsokoesoemo, Wiwiek Hidayat, dan Fakih.
Sejumlah eks wartawan KB Domei Cabang Surabaya itulah yang akhirnya memisahkan diri dari KB Domei dan mendirikan KB Indonesia Cabang Surabaya di Jalan Tunjungan 100 pada 1 September 1945, hingga akhirnya menjadi Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA Cabang Surabaya, pasca-pelucutan senjata Jepang (1 Oktober 1945).
Selain penyiaran naskah Proklamasi (17 Agustus 1945) itu, jejak historis dari para wartawan ANTARA itu pun dapat ditelusuri dalam sejumlah informasi penting sepanjang kurun 1945-1949, di antaranya kelahiran kantor berita Indonesia (1 September 1945), Perobekan Bendera Belanda (17 September 1945), dan Rapat Raksasa di Tambaksari (21 September 1945).
Informasi historis lainnya adalah Fatwa dan Resolusi Jihad (21-22 Oktober 1945) yang disiarkan ANTARA (25 Oktober 1945), Sekutu mendarat di Surabaya (25 Oktober 1945), Jenderal AWS Mallaby tewas (30 Oktober 1945), Perang Besar (10 November 1945), hari terakhir ANTARA bertahan di Surabaya (22 November 1945), dan ANTARA bergiat kembali (medio Agustus 1949).
Perobekan bendera Belanda
Jejak historis perobekan bendera merah-putih-biru Belanda, 17 September 1945, tak terlepas dari peran sejumlah wartawan eks KB Domei Cabang Surabayayang merintis KB Indonesia Cabang Surabaya di Jalan Tunjungan 100 pada 1 September 1945 (lokasinya sekarang menjadi cagar budaya "Monumen Pers Perjuangan Surabaya").
Para wartawan eks KB Domei itu adalah Soetomo (Bung Tomo) dkk, yakni RM (Raden Mas) Bintarti, Amin Lubis, dan Sjamsoel Arifin. Menurut catatan mantan Redaktur ANTARA Boyke Soekapdjo, pada masa penjajahan Jepang, kantor berita hanya satu, yakni KB Domei. Selain KB, di tiap kota besar hanya ada satu koran, yakni "Asia Raya" di Jakarta dan "Soeara Asia" di Surabaya.
Sebelumnya, Adam Malik dan para pejuang sudah mendirikan KB ANTARA (13 Desember 1937), namun ANTARA sempat akan dibubarkan, ketika masa penjajahan Jepang, karena ada KB Domei, tapi Adam Malik berhasil mempertahankan dan menjadikan ANTARA sebagai bagian dari KB Domei bagian Indonesia.
KB Domei Surabaya adalah yang pertama memutuskan hubungan dengan KB Domei pusat di Jakarta, beberapa hari sesudah Proklamasi. Untuk mengisi kekosongan, Soetomo membentuk kantor berita Indonesia pada 1 September 1945 (lokasinya di Jl Tunjungan 100, Surabaya, yang digunakan penjualan arloji merek ternama -- KB Indonesia itu akhirnya menjadi LKBN ANTARA Cabang Surabaya pasca-pelucutan senjata Jepang pada 1 Oktober 1945).
Gedung yang telah masuk cagar budaya Kota Surabaya sebagai "Monumen Pers Perjuangan Surabaya" itulah yang diceritakan almarhum Wiwiek Hidayat (pimpinan ANTARA Surabaya pasca-Agresi Belanda II/1948), adalah kesempatan memberitakan peristiwa perobekan bendera merah-putih-biru (bendera Belanda) di atas gedung Hotel Orange (saat zaman Jepang dinamai Hotel Yamato dan kini disebut Hotel Mojopahit).
Wartawan Kantor Berita ANTARA yang menjadi "saksi mata" perjuangan Arek-arek Surabaya dalam perobekan bendera merah-putih-biru di puncak Hotel Yamato pada 17 September 1945 (1 bulan pasca-proklamasi) adalah Wiwiek Hidayat (mengabarkan lewat berita teks), Abdoel Wahab Saleh (mengabadikan lewat foto), dan Djohan Sjahroezah (pelaku pengerahan massa ke Hotel Yamato.)
Kebetulan, Kantor Berita ANTARA, saat itu berlokasi di Jalan Tunjungan 100 Surabaya, yang berada di seberang hotel itu, sehingga Wiwiek menjadi saksi mata proses perobekan bendera di hotel itu.
Dalam perbincangan dengan Wiwiek, yang dicatat dalam blog-nya pada 2008-2009, mantan Wakil Ketua PWI Jatim (1994-1998) yang juga teman dekat Wiwiek di PWI Jatim, HM Yousri Nur Raja Agam, menyebut Wiwiek Hidayat menjadi saksi mata di sana, lalu mencatat dan memberitakannya, Wiwiek Hidayat tahu persis nama orang yang merobek kain warna biru dari bendera Belanda (merah-putih-biru) itu.
"Kain warna biru itu dirobek dengan digigit. Setelah robek, dua warna merah dan putih yang tersisa pun kembali diikatkan ke tiang bendera dan dinaikkan kembali menjadi merah-putih. Orang yang merobek itu adalah Kusno Wibowo, dibantu Onny Manuhutu, dan ada dua orang lagi yang saya tidak kenal. Dokumentasinya (foto) masih tersimpan di (kantor berita) ANTARA," kata Yousri menirukan Wiwiek.
Selain itu, ANTARA mempunyai sosok perempuan menakjubkan bernama Loekitaningsih yang berpidato dalam Rapat Raksasa di Tambaksari Surabaya pada 21 September 1945 atau 4 hari sesudah peristiwa perobekan bendera di Hotel Yamato itu.
Resolusi Jihad
Terkait fatwa jihad dan resolusi jihad (diumumkan hampir bersamaan) itu, mantan Redaktur LKBN ANTARA Pusat Boyke Soekapdjo menyebut fatwa itu bermula dari upaya Bung Tomo (saat itu menjadi Pimred ANTARA) menemui Soekarno agar Jakarta meniru gerakan Arek-Arek Surabaya dalam perobekan bendera Belanda (Sekutu belum datang/ 25/10/1945), namun Soekarno tidak setuju, karena mempertimbangkan ancaman Sekutu.
Akhirnya, Bung Tomo bersama Mayjen Moestopo (komandan sektor perlawanan Surabaya), Soengkono, dan tokoh lain datang menemui KH Hasyim Asy'ari untuk meminta fatwa untuk melakukan perang suci (jihad), guna mengusir Sekutu-Inggris dan NICA-Belanda. Arek-arek Surabaya khawatir NICA yang datang membonceng Sekutu akan berkuasa kembali melalui penunjukan Sekutu pada NICA,.
Di tengah situasi yang memanas, KH M Hasyim Asy'ari memerintahkan KH Wahab Chasbullah untuk mengumpulkan wakil/konsul NU se-Jawa dan Madura untuk membahas permintaan Bung Tomo dkk di HBNO/Kantor Pemuda Ansor di Jalan Bubutan VI/2, Surabaya (Bubutan juga tidak jauh dari Blauran IV/25 yang meniadi Markas Oelama Djawa Timoer/MODT), sehingga tercetuslah Resolusi Jihad (22/10/1945), yang akhirnya digelorakan Bung Tomo dalam pidatonya yang berapi-api. LKBN ANTARA pun memberitakan resolusi jihad itu pada 25 Oktober 1945.
Sejarahwan NU KH Agus Sunyoto (alm.) dalam buku karyanya yang berjudul "Fatwa dan Resolusi Jihad: Sejarah Perang Rakyat Semesta di Surabaya 10 November 1945" (2017) mencatat bahwa fatwa dan resolusi jihad diumumkan hampir bersamaan itu difatwakan para ulama guna menyambut kabar kedatangan Sekutu-Inggris yang diboncengi tentara NICA-Belanda, lalu disiarkan media massa, selang 3-5 hari berikutnya.
Media massa yang memberitakan resolusi jihad itu disebut dalam buku karya KH Agus Sunyoto, yaitu LKBN ANTARA (25/10/1945), bertepatan mendaratnya Sekutu di Tanjung Perak, Surat Kabar "Kedaulatan Rakyat" Yogyakarta (26/10/1945 - edisi No.26 Tahun ke-1), dan Surat Kabar "Berita Indonesia" Jakarta (27/10/1945).
Fatwa/Resolusi Jihad (berjuang membela bangsa dan negara dihukumi jihad fi sabilillah) itulah yang menggelorakan semangat juang Arek-Arek Surabaya menjelang Pertempuran 10 November 1945 yang didahului datangnya Sekutu yang dipimpin Brigadir Aubertin Walter Sothern (AWS) Mallaby dan mendarat di Tanjung Perak, Surabaya 25 Oktober 1945.
Akhirnya, terjadi sejumlah insiden pada 27-29 Oktober 1945. Pada 27 Oktober 1945, Pesawat Sekutu menyebarkan selebaran yang memerintahkan pelucutan senjata untuk warga Surabaya. Kejadian ini dicatat perwira penerangan India PRS Mani, yang akhirnya juga masuk ANTARA (Buku "100 awak ANTARA").
Pada 28 Oktober 1945, Soetomo berpidato berapi-api mengobarkan semangat pejuang. Akhirnya, "kontak senjata" pun tak terelakkan. Sekutu sebagai pemenang Perang Dunia II pun kalah dalam satu pukulan terakhir, sehingga Sekutu pun meminta bantuan Presiden Soekarno untuk menenangkan pejuang. Bersama Wakil Presiden Hatta dan Menteri Penerangan Amir Sjarifoeddin, Soekarno pun datang ke Surabaya pada 29 Oktober 1945.
Tidak sulit bagi Soekarno menenangkan pejuang, yang ditokohi sesama pejuang bawah tanah dan ditambah unsur ANTARA, seperti Djohan, Soetomo dan lain-lain, namun akhirnya terjadi "kontak senjata" juga antara Arek-Arek Suroboyo dengan tentara Sekutu di depan Gedung Internatio di kawasan Jembatan Merah, Selasa sore,30 Oktober 1945.
Penembak Mallaby
Terkait "kontak senjata" di Gedung Internatio itu, Yousri Nur Raja Agam yang mendapat cerita dari Cak Doel Arnowo (pelaku sejarah) menegaskan bahwa dirinya memang beberapa kali mendengar suara tembakan dari (dalam) Gedung Internatio ke arah pejuang yang berada di sekitar Jembatan Merah, menjelang Selasa sore, 30 Oktober 1945.
Para pejuang sudah bersabar dengan berusaha mengendalikan diri untuk tidak membalas tembakan dari Sekutu itu. Bahkan, Biro-Kontak (penghubung pejuang-Sekutu) pun menyiapkan utusan dari pihak Sekutu-Inggris untuk memerintahkan penghentian penembakan dari Gedung Internatio (markas Sekutu yang menjadi lokasi pertemuan Sekutu-pejuang untuk perundingan/perjanjian gencatan senjata) oleh pasukan Sekutu.
Akhirnya, anggota biro-kontak yang akan diutus masuk ke dalam gedung adalah Kapten Shaw didampingi Moehammad, kemudian sebagai juru bahasa adalah TD Kundan, warga negara keturunan India yang ikut berjuang bersama Arek Suroboyo. "Jangan lama-lama ya! Cukup 10 menit saja menyampaikan perintah," ujar Residen Soedirman. Moehammad mengangguk, sembari berjalan ke Internatio.
Sepuluh menit berlalu, TD Kundan keluar dan bilang bahwa Kapten Shaw dan Moehamad masih memerlukan beberapa menit lagi, lalu masuk lagi. Tiba-tiba "Buuummmmmmmm" ada bunyi granat yang dilemparkan dari dalam gedung, sehingga terjadi kekacauan, karena semua berusaha menyelamatkan diri. Soengkono, Doel Arnowo, Dr Moersito, Koesnandar, dan Roeslan Abdulgani merangkak menuju pinggir Sungai Kalimas yang airnya sedang surut.
AWS Mallaby bertahan di dalam mobil sedan hitam yang ditumpangi, namun mobil komandan Sekutu itupun tidak lepas dari sasaran tembakan, kemudian mobil itu meledak dengan dahsyat. Tembak-menembak semakin seru. Saat itu, seorang pemuda melompat mendekati dua tokoh Republik Roeslan Abdulgani dan Doel Arnowo.
"Cak, sudah beres Cak!," bisik seorang anak muda. "Apa yang sudah beres?," tanya Doel Arnowo kepada anak muda yang sudah dikenalnya itu. "Jenderal Inggris, Cak! Mobilnya meledak dan terbakar," jawab anak muda itu. "Siapa yang meledakkan?," tanya Doel Arnowo lagi. Anak muda itu pun menunjuk dirinya. Mata Doel Arnowo pun berkerdip dan anak muda itu pun mengatakan, "Tidak tahu, Cak".
Semua yang mendengar laporan anak muda kepada Doel Arnowo itu terkejut dan hanya terdiam. "Ya sudah, diam saja. Jangan cerita kepada orang lain," pesan anggota biro-kontak yang lainnya. Sebelum anak muda itu melompat ke pinggir Sungai Kalimas untuk mendekat ke anggota biro-kontak, memang terdengar tembakan dan bunyi ledakan di deretan mobil yang parkir.
Sampai di hari tuanya, hingga wafat, Cak Doel Arnowo tidak mau menyebut nama anak muda yang mengaku menggranat mobil Mallaby itu. Yousri Nur Raja Agam yang teman dekat dengan Cak Doel Arnowo pun pernah berulangkali menanyakan langsung, namun Doel Arnowo tetap tidak mau menyebut nama anak muda yang "mengaku" meledakkan mobil Mallaby itu. Cak Doel Arnowo menyebut anak itu sebagai Republikan Muda dan merahasiakan namanya terkait masalah hukum perang/internasional.
Yang jelas, pihak Inggris atau Sekutu benar-benar marah, setelah mendapat informasi tewasnya Mallaby pada 30 Oktober 1945 itu. Para pembesar Sekutu di Jakarta betul-betul terpukul. Sebagai pemenang Perang Dunia II, belum pernah ada jenderal yang terluka. Di Surabaya, jenderal perang itu, justru tewas akibat ledakan granat. Perhatian dunia pun tertuju kepada Indonesia, khususnya Surabaya.
Personel ANTARA gugur
Walhasil, tewasnya Jenderal Mallaby (30 Oktober 1945) itu pun menjadi puncak perlawanan terhadap Sekutu hingga muncul ultimatum agar rakyat menyerahkan senjata dengan mengangkat tangan dan batas waktunya adalah 10 November 1945 dan akhirnya Pertempuran 10 November 1945 pun meletus.
Wartawan ANTARA pun melaporkan Pertempuran 10 November 1945 itu, maka LKBN ANTARA terpaksa memboyong perangkat kerja dan alat komunikasi ke rumah Hidayat (Kepala Bagian Radio KB Domei) di Mojokerto. Tanggal 22 November 1945 itu merupakan hari terakhir ANTARA bertahan di Surabaya, sebelum mengungsi ke Mojokerto.
Redaktur Senior LKBN ANTARA Pusat Boyke Soekapdjo menyatakan dalam pemindahan peralatan itu tercatat satu petugas teknik LKBN ANTARA yang gugur dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, dengan upacara ketentaraan. Namanya tercatat dalam Buku Besar Taman Makam Pahlawan. "ANTARA layak mengenangnya".
Akibat pertempuran itu, ANTARA pun berkiprah dalam situasi darurat di Mojokerto di bawah kepemimpinan RM Bintarti, namun Bintarti sempat ditarik ke ANTARA Pusat yang saat itu berada di Yogyakarta, hingga Agresi Belanda II dan Bintarti pulang ke Surabaya pada tahun 1950, tapi menjadi redaktur Harian Berbahasa Jawa "Express" dan akhirnya ke Harian "Surabaya Post".
Menjelang Agresi Belanda II (1948) itu, Wiwiek Hidayat (nama asli: Said Hidayat/kelahiran Rembangan, Jember, 22 April 1922) sempat menjadi pemimpin redaksi LKBN ANTARA Cabang Surabaya, sedangkan Hidajat (Kepala Bagian Radio KB Domei/1942) menjadi pemimpin teknik. Dalam pengungsian itu pula, beberapa wartawan menerbitkan surat kabar.
Setelah suasana di Surabaya agak aman, kantor LKBN ANTARA kembali ke Surabaya dan berkantor di rumah Wiwiek Hidayat di Jalan Raya Ketabang (sekarang Jalan Jaksa Agung Suprapto dan berubah menjadi Toeng Market). "Rumah di Ketabang itu digunakan sampai tahun 1960-an sebagai kantor LKBN ANTARA Surabaya (1945-1960)," kata Syahrul Bachtiar Hidayat, salah seorang putra almarhum Wiwiek Hidayat.
Setelah itu, ANTARA kembali menempati kantor di Jalan Pahlawan 114 (eks kantor KB Domei yang ditempati ANTARA pasca-pelucutan senjata Jepang pada 1 Oktobber 1945), kemudian pindah ke kantor Gubernur Jatim Jalan Pahlawan 110 sejak itu (1960) hingga 1997. Tahun 1997-2006, ANTARA pindah kantor ke Jalan Raya Darmo Baru Barat 58, Surabaya, lalu 2006-sekarang memiliki "kantor tetap" di Jalan Kombes Pol M. Duryat 41 A/B Surabaya.
Setelah Wiwiek Hidayat pensiun tahun 1980, pimpinan LKBN ANTARA Surabaya digantikan oleh Atmo Kurdi (1980-1992), kemudian Tukidjan Purwohandoyo (1992-1999). Pada tahun 1997, dilakukan pembenahan kantor gubernur dan kantor LKBN ANTARA pindah ke kantor sendiri di Jalan Darmo Baru Barat 58 Surabaya.
Sejak tahun 1999, pimpinan LKBN ANTARA Surabaya dipercayakan kepada Indro Sulistyo (almarhum) yang juga menduduki jabatan Sekretaris PWI Cabang Jawa Timur. Indro yang sempat menjadi pimpinan LKBN ANTARA di Ambon, Maluku, itu bertugas memimpin LKBN ANTARA Jatim pada 20 Oktober 2005.
Setelah Indro, kepemimpinan diisi oleh Ny. Farocha (2005-2008). Pada 29 Desember 2006, kantor LKBN ANTARA Jatim memiliki "kantor tetap" di Jalan Kombespol M. Duriyat 41 A/B Surabaya, yang memang merupakan "planning" LKBN ANTARA Pusat.
Farochah juga merintis portal biro (Jatim.AntaraNews.com) sejak 12 Desember 2007 dengan dukungan sejumlah personel yang hingga kini terus "mengarungi" era digital. Setelah 3 tahun, kepemimpinan Farochah dilanjutkan oleh DJ Kliwantoro yang memimpin LKBN ANTARA Jatim pada tanggal 1 Agustus 2008 hingga 17 Maret 2010.
Dari Kliwantoro, jabatan Kepala Biro LKBN ANTARA Jatim pun berlanjut ke Akhmad Munir yang saat itu menduduki jabatan Ketua SIWO (Seksi Wartawan Olahraga) PWI Jatim. Munir dilantik Gubernur Jawa Timur Dr H Soekarwo sebagai Kepala Biro LKBN ANTARA Jatim di Kantor Gubernur Jatim, Jalan Pahlawan 110 Surabaya (lokasi kantor lama ANTARA). Munir menjabat Kepala Biro LKBN ANTARA Jatim pada 2010-2018, lalu menjadi Direktur Pemberitaan LKBN ANTARA Pusat (2018-2023) dan Direktur Utama LKBN ANTARA Pusat (2023-kini), sekaligus kini menjabat Ketua Umum PWI Pusat (2025-2030).
Setelah Munir, Kepala Biro LKBN ANTARA Jatim dijabat oleh Slamet Hadi Purnomo (2018-2021), lalu dilanjutkan Rachmad Hidayat (2021-kini). Sejak era Munir, Slamet, dan Rachmad Hidayat, LKBN ANTARA Biro Jatim mulai menyiasati era digital dengan tiga langkah, yakni konvergensi media (portal/podcast/medsos), literasi digital (pendidikan/pelatihan/magang), dan fokus komunitas (potensi/unggulan Jatim/kolaborasi).
