Tulungagung, Jatim (ANTARA) - Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur meningkatkan upaya penanganan HIV/AIDS dengan menekankan pada skrining aktif dan percepatan pengobatan untuk mencegah meluasnya penularan, seiring temuan kasus yang rata-rata mencapai 350–400 orang per tahun.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Tulungagung Desi Lusiana Wardani, Senin, menyebut pihaknya kini fokus pada target eliminasi HIV/AIDS tahun 2030.
"Temuan banyak ini bukan indikasi negatif. Ini menunjukkan peran aktif kami menjaring kasus sedini mungkin agar segera ditangani," ujar Desi usai mengikuti aksi simpati memperingati Hari AIDS se-Dunia di simpang empat TT, Kota Tulungagung.
Upaya itu dilakukan melalui deteksi dini, pendampingan pasien, dan perluasan akses layanan pengobatan, lanjut dia.
Sampai Oktober 2025, Dinkes mencatat 359 kasus baru HIV/AIDS. Jumlah itu diperkirakan masih bertambah hingga akhir tahun. Pada 2024, temuan kasus mencapai 395 orang.
Secara akumulatif sejak 2006 jumlah kasus HIV/AIDS di Tulungagung mencapai 4.350. Angka tersebut menempatkan Tulungagung pada peringkat 12 di Jawa Timur untuk jumlah total kasus, namun berada di posisi 10 untuk penemuan kasus tahunan.
Desi menegaskan bahwa tingginya angka temuan bukan gambaran negatif, melainkan hasil dari skrining aktif yang memungkinkan pasien segera mendapatkan terapi antiretroviral (ARV) sebelum berkembang menjadi AIDS.
Dinas Kesehatan kini menyiapkan 25 puskesmas dan lima rumah sakit sebagai layanan pengobatan, konseling, dan pendampingan pasien HIV.
Upaya itu menyasar kelompok paling rentan, khususnya ibu rumah tangga usia produktif yang mendominasi temuan kasus dan berpotensi menularkan kepada anak.
"Kami terus mencairkan fenomena gunung es agar mata rantai penularan bisa dihentikan dan pasien cepat mendapatkan pengobatan," ujar Desi.
