Jakarta (ANTARA) - Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menegaskan pembangunan 100 gudang baru menjadi langkah strategis memperkuat ketahanan pangan nasional dengan menjangkau wilayah tertinggal, terdepan, terluar, dan perbatasan (3TP).
"Karena yang mau kita bangun (gudang Bulog) mayoritas banyak yang di 3T tersebut. Dan 3T ini kan jauh-jauh dan kita mobilisasi material aja agak sulit kesana. Jadi kita berharap secepatnya supaya dibangun," kata Rizal ditemui seusai penandatanganan Surat Keputusan Bersama (SKB) Percepatan Pembangunan Gudang Bulog di Kantor Kemenko Pangan Jakarta, Selasa.
Ia menyampaikan pembangunan tersebut merupakan tindak lanjut nyata dari hasil penetapan Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri yang menjadi dasar percepatan program prioritas itu sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
Rizal menyampaikan Presiden secara langsung menginstruksikan agar Bulog segera membangun 100 gudang baru yang difokuskan di kabupaten dan kota yang selama ini belum memiliki fasilitas penyimpanan pangan memadai.
Pembangunan gudang-gudang tersebut, lanjutnya, akan mendukung efisiensi rantai pasok pangan, mengurangi biaya logistik, serta memudahkan Bulog menyerap gabah dan jagung hasil panen petani di berbagai daerah.
Dia mencontohkan, sejumlah wilayah seperti Nias Selatan dan Morotai menjadi prioritas karena kondisi geografisnya sering terisolasi akibat pasang air laut dan cuaca ekstrem yang menghambat distribusi pangan.
Dengan adanya gudang di daerah tersebut, Bulog dapat memastikan ketersediaan pangan tetap terjaga meski terjadi hambatan transportasi laut saat musim barat atau gelombang tinggi melanda wilayah kepulauan.
Selain sebagai tempat penyimpanan, beberapa gudang juga akan dilengkapi fasilitas modern seperti Rice Milling Unit (RMU) dan pengering (dryer) untuk meningkatkan nilai tambah hasil pertanian lokal.
Rizal menjelaskan, fasilitas lengkap tersebut akan dibangun di daerah yang menjadi sentra produksi pangan, sedangkan di wilayah non-produksi hanya difokuskan pada gudang penyimpanan logistik dasar.
Ia menambahkan, Bulog akan bersinergi dengan Kementerian Pertanian (Kementan) dalam menentukan lokasi pembangunan berdasarkan data wilayah produksi pangan agar hasil pembangunan tepat sasaran dan berdaya guna.
"Apalagi nanti nambah produksi padi (secara nasional), gabah itu nanti kan Kementan memprediksi kan 34 juta ton di akhir tahun (2025) ini," ucapnya.
Dia berharap seluruh proyek pembangunan 100 gudang ini dapat rampung dalam waktu satu tahun, meski tetap memperhitungkan faktor cuaca dan tantangan logistik di daerah terpencil Indonesia.
"Kapasitasnya setiap gudang bervariasi. Jadi ada yang kecil tipenya 1.000 ton, ada yang 3.500 ton, bahkan ada yang 7.000 ton. Tergantung dari kemampuan ataupun daerah tersebut memiliki daerah persawahan yang luas atau tidak," kata Rizal.
