Surabaya (ANTARA) - Misi Dagang dan Investasi Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) di Kupang, Kamis, mencatat transaksi tertinggi sepanjang sejarah senilai Rp1,88 triliun lebih.
"Alhamdulillah sampai dengan pukul 17.00 Wita tercatat transaksi Rp1,882 triliun lebih. Dari 46 perjalanan misi dagang kami, sampai dengan jam 17.00 Wita ini adalah transaksi tertinggi dalam misi dagang yang pernah kami lakukan," kata Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dalam keterangan diterima di Surabaya, Jawa Timur, Kamis.
Dari total nilai tersebut, transaksi penjualan produk Jawa Timur mencapai Rp1,727 triliun, disusul pembelian produk dari Nusa Tenggara Timur (NTT) senilai Rp102,183 miliar, serta komitmen investasi sebesar Rp52,50 miliar.
Adapun produk asal Jawa Timur yang menjadi incaran antara lain kopi robusta, percetakan kemasan kopi, produk peternakan (telur, daging ayam, susu, olahan daging sapi dan ayam, DOC ayam), beras, madu murni dan fermentasi, serta mesin pengurai sabut kelapa.
Selain itu benih tanaman hortikultura, cabai merah besar dan cabai rawit, bahan bangunan, shoun, serta pupuk bionira. Sementara NTT menjual produk ikan tuna, tuna loin, kelapa utuh, madu dan rumput laut.
Khofifah mengatakan hubungan dagang Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur selalu menunjukkan tren positif.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Perdagangan Antar Wilayah (PAW) Jawa Timur Tahun 2022, nilai perdagangan kedua provinsi mencapai Rp5,29 triliun dengan neraca surplus Rp4,22 triliun bagi Jawa Timur.
“Hubungan dagang antara Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur telah tumbuh dengan baik dan memberi manfaat ekonomi nyata. Kita ingin hubungan ini terus meningkat dan melahirkan banyak pelaku usaha baru yang siap naik kelas,” ujarnya.
Ia menambahkan Jawa Timur masih menjadi salah satu motor penggerak perekonomian nasional dengan kontribusi 14,44 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
Pada triwulan II-2025, ekonomi Jawa Timur tumbuh 5,23 persen (year on year), lebih tinggi dari rata-rata nasional 5,12 persen.
Di akhir kegiatan, Khofifah berharap Misi Dagang Jatim-NTT dapat memperkuat konektivitas ekonomi dan pemerataan pembangunan antarwilayah.
"Pertemuan kita hari ini tidak semata-mata pertemuan misi dagang dan investasi, tetapi dari Bumi Majapahit, kita merajut keterhubungan budaya, persaudaraan dan persatuan ke seluruh nusantara," ujarnya.
Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur Johni menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan misi dagang ini yang dinilai memperkuat sinergi ekonomi antarprovinsi serta memenuhi kebutuhan komoditas strategis di wilayah NTT.
Selama ini, sejumlah produk asal Jawa Timur seperti pakan ternak, beras, gandum, buah-buahan, kedelai, serta benih ikan lele dan bandeng menjadi kebutuhan utama masyarakat dan pelaku usaha di NTT.
“Khusus untuk beras serta benih ikan lele dan bandeng, pasokan dari Jawa Timur sangat membantu menjaga ketahanan pangan dan mendukung perkembangan budidaya perikanan di NTT. Kami berharap kolaborasi ini terus diperkuat agar ekonomi kedua daerah semakin maju dan saling menopang,” katanya.
