Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Pengurusan Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memaksimalkan Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Ke-13 Ilmu Kesehatan Anak (IKA), di Kota Malang, Jawa Timur, Senin, untuk memetakan dampak terjadinya perubahan lingkungan terhadap kesehatan anak.
Ketua Pengurus Pusat IDAI Piprim Basarah Yanuarso di Kota Malang, Senin, mengatakan anak-anak merupakan kelompok rentan terhadap masalah kesehatan akibat terjadinya perubahan lingkungan yang drastis.
"Ternyata anak-anak paling rentan terhadap masalah kesehatan ketika lingkungan menjadi tidak sehat, misalnya karena polusi udara dan keamanan pangan, itu menjadi hal yang akan dibahas di sini, termasuk stunting juga," kata Piprim.
Dia mencontohkan perubahan lingkungan drastis yang mampu memicu terjadinya gelombang panas bisa memberikan dampak terhadap metabolisme pada tubuh anak. Lalu, polusi udara bisa memicu seorang anak terpapar penyakit pernapasan.
Salah satu pemicu terjadinya perubahan lingkungan, kata dia, datang dari aspek pengelolaan limbah medis yang tidak sempurna. Imbasnya berupa pencemaran tanah dan air oleh bahan kimia hingga patogen.
"Produk kesehatan itu juga bisa menyumbang ke pemanasan global. Kami harus menyehatkan masyarakat, jangan sampai ikut berkontribusi menyebabkan bumi sakit," ucapnya
Melalui PIT ke-13 IKA, kata dia, diharapkan para dokter anak bisa meningkatkan pengetahuan dan kepedulian terhadap upaya menekan terjadinya perubahan lingkungan demi melindungi kesehatan anak.
Sementara itu, Ketua Panitia PIT Ke-13 IKA Syamsul Arief mengatakan sebagai bentuk implementasi penanggulangan perubahan lingkungan, maka pada acara tersebut pihaknya tak menggunakan produk minuman maupun makanan dengan kemasan plastik.
"Kami juga melakukan penghitungan emisi karbon. Jadi, kami meng-hire suatu organisasi non-profit untuk bisa mengkalkulasi anggota yang datang," katanya.
Dia pun mendorong seluruh dokter anak supaya mampu menjadi agen perubahan untuk menciptakan kondisi lingkungan yang sehat.
"Kami berharap pertemuan tahunan ini tidak hanya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan klinis," tutur Syamsul Arief.
