Sidoarjo (ANTARA) - Kapolda Jawa Timur Inspektur Jenderal Polisi Nanang Avianto menyebut hingga saat ini penyebab runtuhnya musala Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Sidoarjo, masih dalam penyelidikan.
"Ini kan harus dilihat dari awal semuanya. Dari proses saat runtuhnya ini sudah kita dokumenkan, kita ambil dokumentasinya. Dan ini harus sampai menyeluruh penyelidikannya dan kita juga harus ada panduan dari tim ahli konstruksi," Ucap Irjen Pol Nanang, saat ditemui wartawan setelah meninjau Ponpes Al Khoziny, Sidoarjo, Jumat.
Menurut dia, jika tidak melihat saat proses pembangunan dari bawah hingga atas, maka hasil penyelidikan tidak akan maksimal.
Namun, lanjutnya, hal tersebut tidak bisa pihaknya tangani sendiri, harus dibantu oleh tim ahli, terutama yang memahami konstruksi pembangunan.
"Nah inilah yang harus kami lihat nanti, tapi yg jelas utamanya saat ini adalah masalah kemanusiaan," ucapnya.
Saat ini, pihaknya sedang melakukan pendataan korban ambruknya musala Ponpes Al Khoziny, yang dibagi ke dalam tiga klaster yaitu santri, pengurus pesantren, dan pekerja pembangunan.
"Sementara pendataan dulu dan kita juga sudah pendataan, fokus pada kemanusiaan," tuturnya.
Dari semua data yang dikumpulkan, kata Irjen Pol Nanang, sebanyak 53 orang yang masih belum ditemukan.
Oleh karena itu, proses pencarian akan terus dilakukan dengan mengedepankan kehati-hatian dalam bekerja, terutama yang menggunakan alat berat.
"Tentunya tidak sembarangan (dalam mencari) sehingga kami libatkan tenaga ahli mengenai konstruksi dan bangunan, dari ITS, PUPR, sehingga pada saat melakukan pemindahan ini kami harus hati-hati juga karena di situ masih ada beberapa jenazah," ujarnya.
