Malang Raya (ANTARA) - Tim Doktor Mengabdi Universitas Brawijaya bersama Lembaga Pendidikan Ma'arif Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Malang meningkatkan kapasitas guru madrasah melalui pelaksanaan lokakarya bertajuk "Pengembangan Kompetensi Digital dan Inklusi Sosial bagi Guru Madrasah di Kabupaten Malang".
"Lokakarya ini menjadi ruang refleksi dan penguatan kapasitas bagi guru madrasah, melalui kombinasi antara literasi digital dengan inklusi sosial," kata Ketua Tim Doktor Mengabdi UB Dr Muhammad Faishal Aminuddin di Kabupaten Malang, Jawa Timur, Minggu.
Dia menyampaikan literasi digital dimaksudkan agar para guru bisa menjadikan sebuah perangkat teknologi sebagai katalisator pembelajaran yang bersifat menarik, efisien, dan relevan.
"Guru dikenalkan tentang pemanfaatan teknologi, seperti Google Classroom beserta teknologi pendukung lainnya," ucapnya.
Terkait inklusi sosial, Muhammad Faishal mengungkapkan para guru madrasah telah menyadari bahwa kendala utama dalam menciptakan pembelajaran berbasis inklusi adalah metode yang belum adaptif dan masih minimnya dukungan sosial.
"Guru kemudian merancang strategi pembelajaran inklusif, seperti menyesuaikan waktu belajar, menggunakan metode praktik langsung yang menyenangkan," ucapnya.
Rumusan strategi juga menyangkut penanaman rasa saling peduli dan menghargai kepada pelajar sejak dini.
"Ini menjadi kunci agar tidak ada siswa yang tertinggal atau terpinggirkan. Guru diajak untuk tidak hanya melek terhadap teknologi," katanya.
Sementara itu, Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Kabupaten Malang Abdul Malik Karim Amrullah mengatakan dua komponen yang dilibatkan lokakarya dari Tim Doktor Mengabdi UB, yakni kompetensi digital dan inklusi sosial merupakan hal penting bagi para guru madrasah.
"Kami senang dengan kolaborasi antara UB dengan Ma’arif, karena guru madrasah dilatih untuk terus mengembangkan kompetensi digital sekaligus menerapkan inklusi dalam pembelajaran," kata Abdul Malik.
Dia berharap kolaborasi yang telah berjalan tidak hanya bersifat jangka pendek tetapi bisa berlanjut secara rutin.
"Karena masih banyak guru madrasah yang membutuhkan pelatihan serupa," tutur dia.
