Surabaya (ANTARA) - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menyebutkan inklusi dan literasi keuangan masyarakat akan mampu mendukung pencapaian target pertumbuhan ekonomi sebesar delapan persen.
“Presiden Republik Indonesia Bapak Prabowo Subianto telah menetapkan target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen. Di sini lah pentingnya inklusi dan literasi keuangan,” kata Anggota Dewan Komisioner LPS Didik Madiyono dalam LPS Financial Festival 2025 di Surabaya, Jawa Timur, Rabu.
Didik menuturkan pertumbuhan sebesar delapan persen bukan target yang mudah dicapai terutama di tengah berbagai tantangan seperti kedidakpastian global, tekanan geopolitik, dan pelemahan ekonomi global.
Meski demikian, Didik menjelaskan pertumbuhan tidak hanya soal angka karena kualitas pertumbuhan juga ditentukan oleh sejauh mana masyarakat ikut merasakan dampaknya.
Oleh sebab itu, kata dia, inklusi dan literasi keuangan sangat penting yaitu akses terhadap layanan keuangan formal termasuk pemahaman masyarakat mengenai cara mengelola keuangan yang baik.
Masyarakat perlu mengerti berbagai peluang dan risiko di sektor keuangan sehingga pada akhirnya memberikan manfaat nyata terhadap investasi maupun keuangan keluarga.
Ia menekankan masyarakat harus mampu mengelola investasi dan memahami risiko terhadap sektor-sektor keuangan serta produk-produk keuangan.
LPS pun mendorong masyarakat terutama generasi muda dan pelaku usaha kecil untuk lebih memahami pentingnya menabung di bank termasuk mengenal manfaat penjaminan simpanan LPS.
Menurutnya, inklusi dan literasi keuangan akan membuat masyarakat mampu membuatkan keputusan keuangan yang lebih baik sehingga tercipta pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas.
Selain itu dengan masyarakat memiliki inklusi dan literasi keuangan yang baik maka tidak akan terjadi kasus investasi bodong atau terjebak pinjaman online (pinjol) maupun judi online.
“Yang paling aman memang menabung di bank. Menabung di bank sudah pasti aman, dijamin LPS lagi,” kata Didik.
