Kediri - Sejumlah peternak ikan koi di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, saat ini berusaha untuk membidik pasar ekspor, guna memperluas usaha mereka. Agung Wibowo (35), salah seorang peternak ikan koi asal Desa Karanganyar, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, Rabu mengemukakan, peluang untuk eskpor ikan koi sangat besar. Permintaan ikan hias juga terus meningkat setiap waktu. "Saat ini, kami masih berusaha untuk mengurus keperluan ekspor. Kami berharap, ikan kami mampu menembus pasar ekspor," ucapnya. Ia menyebut, ikan koi dari para peternak di Kabupaten Kediri kualitasnya tidak kalah dengan para peternak dari daerah lain. Jumlah produksinya pun juga tidak kalah dengan para peternak dari kabupaten lainnya, seperti Blitar. Ia menuturkan, omzet penjualan ikan koi miliknya mampu menembus angka sampai 200 ribu ekor untuk bibit. Jumlah itu belum yang ukuran sedang sampai dewasa, yang biasanya untuk keperluan induk. "Permintaan benih terus meningkat setiap waktu. Kami bahkan sampai kewalahan untuk memenuhi permintaan mereka," tuturnya. Sejumlah daerah yang biasanya memesan, kata dia, selain dari kabupaten sekitar seperti Tulungagung, juga daerah di Jatim lainnya, seperti Surabaya. Bahkan, sejumlah daearh luar Jawa juga menjadi pasar penjualan ikan koi dari daerahnya, seperti Lampung. Untuk harga, Agung yang sudah 12 tahun berkecimpung dalam usaha ini mengaku harga jual ikannya masih standar. Untuk ukuran 1 centimeter misalnya, harga ikan koi yang dijualnya Rp50 per ekor, sementara untuk yang ikan sudah dewasa harganya juga beragam, bahkan ada yang sampai jutaan rupiah per ekornya, tergantung kondisi ikan dan jenisnya. Saat kemarau seperti ini, lanjut dia, para peternak memang harus mengeluarkan biaya ekstra yaitu untuk keperluan pengairan. Setidaknya, dalam sehari mengeluarkan ongkos untuk keperluan pembelian bahan bakar di mesin diesel sampai Rp20 ribu per hari. Walaupun begitu, ia mengaku hal ini lumrah terjadi. Ia juga yakin, permintaan akan ikan ini akan tetap ada, sehingga dapat meminimalisasi kerugian karena kebutuhan berlebih untuk BBM. "Untuk itu, kami terus upayakan agar usaha ini terus berkembang, bahkan sampai ekspor. Kami berharap, pemerintah pun juga akan membantu kami untuk jalur ekspor," ucapnya, berharap. Produksi ikan koi asal kabupaten memang terus berkembang. Dari data yang masuk ke pemerintah, selama triwulan II 2012 ini produksi ikan mencapai lebih dari 10 juta ekor dengan nominal mencapai lebih dari Rp21 miliar. Usaha ini mulai berkembang sejak 2008 dan terus berkembang sampai sekarang. Sejumlah daerah yang menjadi sentra usaha ini di antaranya di Kecamatan Wates, Plosoklaten, dan sejumlah daerah lainnya. Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan dan Kehewanan Kabupaten Kediri Sri Suparmi mengatakan pemerintah terus berusaha untuk mengenalkan produksi ikan asal kabupaten. Produksi ikan koi dari kabupaten juga baik, bahkan kualitasnya tidak kalah dengan daerah lain seperti Blitar. "Kami terus lakukan inovasi dan pendampingan pada para peternak. Setiap kali ada pameran, kami juga mendampingi. Dengan itu, kami berharap, ikan asal kabupaten juga lebih dikenal," papar Sri.(*)
Berita Terkait
Mentan: Hilirisasi ayam terintegrasi demi peternak dan ekonomi daerah
18 Januari 2026 20:16
TNI peternak burung kenari merah lokal
7 Januari 2026 05:51
DPRD Jatim dorong pemerintah dirikan pabrik pakan ayam
1 Desember 2025 20:44
Unair beri pendampingan teknologi inovatif peternak bebek
24 November 2025 12:55
Peternak ayam Lamongan demo DPRD-Polres tuntut kepastian hukum
1 Oktober 2025 17:20
Kementan siapkan langkah antisipatif stabilkan harga pakan ternak
7 September 2025 14:45
Pemerintah targetkan Indonesia bebas PMK pada 2035
26 Agustus 2025 22:00
Inovasi peternak kelinci hias di Malang
22 Juli 2025 15:25
