Surabaya (ANTARA) - Heroes Runbike School (HRS) Surabaya memberikan bekal mental juara kepada anak-anak melalui program pelatihan bersepeda yang dilengkapi dengan rapor perkembangan menyerupai sistem akademik.
"HRS ini bukan sekadar tempat latihan. Di sini ada pendekatan psikologis, ada bonding orang tua dan anak, seperti akademi sekolah. Anak-anak juga akan menerima rapor perkembangan, bukan hanya soal teknik balap,” kata Pelatih HRS Surabaya Fathoni, di Surabaya, Jawa Timur, Minggu.
Ia menjelaskan, latihan dilakukan rutin setiap Rabu di Balai Kota Surabaya dan Minggu di Makodam V/Brawijaya, dengan peserta anak usia 2–9 tahun.
Latihan difokuskan pada teknik, suasana menyenangkan, dan membangun keterikatan emosional, terutama bagi anak usia dini.
“Kami sengaja latihan saat matahari pagi karena ini bagus untuk bonding, terutama usia 2-3 tahun yang memang butuh pendekatan ekstra,” ujarnya.
HRS juga aktif menjalin kerja sama dengan akademi pushbike lain di Jawa Timur agar anak mendapat pengalaman bertanding dan berjejaring.
“Target kami, anak-anak bisa tampil di event internasional seperti ke Malaysia. Perlengkapan dan tim pelatih kami sudah siap,” katanya.
Saat ini, HRS memiliki sekitar 30 peserta aktif. Fathoni menyebut sudah ada asosiasi pushbike di Jatim yang tengah mendorong pembentukan kontingen anak.
Salah satu orang tua peserta, Rio Hardiatma, menilai pendekatan HRS membantu membentuk mental kompetitif anak sejak dini.
“Saya ingin anak saya punya keberanian dan jiwa kompetisi. Di sini dia bisa belajar non-akademik sambil tetap senang bermain sepeda,” katanya.
Ia menyebut putranya yang lahir tahun 2018 sudah menunjukkan perkembangan signifikan sejak bergabung pada 2023.
“Sekolah pushbike banyak, tetapi yang modelnya seperti akademi cuma sedikit. Menurut saya, HRS adalah pilihan yang tepat,” ujarnya.
HRS Surabaya bekali anak mental juara lewat program pelatihan
Minggu, 27 Juli 2025 12:36 WIB
Anak-anak saat melakukan latihan yang digelar Heroes Runbike School (HRS) Surabaya di Makodam V/Brawijaya, Minggu (27/7/2025). (ANTARA/Willi Irawan)
Di sini ada pendekatan psikologis, ada bonding orang tua dan anak, seperti akademi sekolah
