Surabaya (ANTARA) - Pencemaran sampah plastik di perairan Indonesia tergolong mengkhawatirkan, menurut hasil sensus sampah plastik oleh Badan Riset Urusan Sungai Nusantara (BRUIN).
Koordinator sensus sampah plastik BRUIN Muhammad Kholid Basyaiban menjelaskan sepanjang tahun 2022 - 2024 telah melakukan riset di 30 provinsi wilayah Indonesia.
"BRUIN mengambil sampel di 35 sungai, 17 pantai dan 2 titik mangrove di 49 kabupaten/kota yang tersebar di 30 provinsi. Hampir 65 persen wilayah riset merupakan ekosistem perairan sungai," katanya melalui keterangan tertulis di Surabaya, Selasa.
Hasil riset mengungkap tidak ada sungai yang bebas atau nihil dari sampah plastik.
Sampah plastik terbanyak sebesar 23 persen didominasi oleh kemasan tanpa merek, seperti kantong kresek, styrofoam, sedotan, kain, gelas dan tali.
Selain itu juga banyak sampah plastik bekas kemasan berbagai produk dari produsen Wings (11 persen), Indofood (9 persen), Mayora (7 persen) dan Unilever (6 persen).
BRUIN merinci lima besar merek kemasan plastik yang ditemukan adalah Club (3 persen), Indomie (3 persen), Le Minerale (2 persen), SoKlin (2 persen) dan Teh Pucuk Harum (2 persen).
Kholid mengingatkan polusi sampah plastik tak hilang begitu saja, tetapi juga berdampak pada ekosistem.
"Sampah plastik mempengaruhi krisis iklim dan risiko kesehatan bagi makhluk hidup," tuturnya.(*)
