Madiun - Sejumlah pengusaha tahu di wilayah Kota Madiun, Jawa Timur, terpaksa mengurangi ukuran tahunya guna menyiasati agar tetap berproduksi menyusul semakin tingginya harga kedelai yang menjadi bahan baku utama usaha mereka. Salah satu pengusaha tahu Mekar Sari di Kelurahan Banjarejo, Kecamatan Taman, Kota Madiun, Sukiman, Selasa, mengatakan, pihaknya terpaksa harus mengecilkan ukuran tahunya agar tetap bisa bertahan dan berproduksi dari biasanya ketebalan 4-5 cm, kini hanya sekitar 2-3 cm. "Saya terpaksa mengecilkan ukuran untuk menekan biaya produksi tahu akibat terus naiknya harga kedelai. Sebab jika harga jual tahu yang dinaikkan, saya takut malah tahu saya tidak laku," ujar dia kepada wartawan. Menurut dia, harga kedelai terus naik secara bertahap sejak dua bulan terakhir. Harga kedelai baik lokal maupun impor terus naik drastis dan membebani produsen tahu dan tempe. Adapun harga kedelai impor saat ini telah naik menjadi Rp7.800 per kilogram dari sebelumnya yang berkisar antara Rp6.200 hingga Rp6.800 per kilogram. Padahal harga normalnya hanya Rp5.000 per kilogram. Sedangkan kedelai lokal saat ini telah mencapai Rp9.000 per kilogram, padahal harga biasa hanya sekitar Rp6.000 hingga Rp7.000 per kilogram. selain itu, stok kedelai lokal di pasaran juga sulit didapatkan. Sukiman mengaku tidak mendapat untung yang layak jika harga bahan baku kedelai telah mencapai di atas Rp6.000 per kilogram. Karena itu, ia terpaksa mengurangi ukuran tahunya agar tetap bisa berproduksi dan memberikan pekerjaan bagi 20 orang karyawannya. "Setiap produksi, saya mengalami kerugian hingga 10 persen. Jika keadaan ini terus berlangsung, usaha kami dipastikan bangkrut," kata dia. Ia menjelaskan, keuntungan usahanya akan seimbang dengan biaya produksi jika harga kedelai berkisar antara Rp5.000 hingga Rp5.500 per kilogram. Karena itu, pihaknya dan para pengusaha tahu lainnya meminta kepada pemerintah segera bertindak agar harga kedelai turun dan stabil. Menurut dia, di Kelurahan Banjarejo dulunya ada sekitar lima industri kecil pembuatan tahu, namun saat ini hanya tinggal miliknya yang masih bertahan. Usaha ini telah ia geluti sejak tahun 1995. Dalam sehari, bahan baku kedelai yang dibutuhkan mencapai 1,5 ton kedelai. Dari kedelai sebanyak itu bisa menjadi tahu sebanyak 324 papan. Masing-masing papan berukuran 64x54 cm. Di Kota Madiun, diperkirakan terdapat sekitar 10 industri kecil pembuatan tahu yang merasa kelimpungan akibat mahalnya kedelai. Hal yang sama diakui oleh pengusaha tempe di Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun, Supani. Ia juga mengurangi ukuran tempenya untuk menekan biaya produksi dan mendapat untung. "Saya terpaksa mengurangi ukuran bungkusan tempe sejak harga kedelai naik. Sebab kalau harga jual tempenya dinaikkan takutnya malah tidak laku. Saya tidak tahu kenapa harga kedelai naik terus di pasaran," tuturnya. (*)


Editor : Slamet Hadi Purnomo

COPYRIGHT © ANTARA 2026