Tulungagung - Omzet penjualan buku bekas, khususnya buku pelajaran sekolah di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, meningkat tajam, diperkirakan kenaikan mencapai kisaran antara 500-1.000 persen dibanding kondisi normal. "Kalau hari-hari biasa paling omzet jualan buku di tempat kami hanya sekitaran Rp500 ribu per hari, kini saat memasuki tahun ajaran baru bisa mencapai antara Rp3 juta hingga Rp10 juta per hari," ungkap pemilik kios buku bekas "Amanah" di Kota Tulungagung, Suharwati, Senin. Pada pekan pertama masuk sekolah seperti sekarang, lanjut dia, mayoritas pembeli buku bekas adalah siswa SD atau orang tuanya. Mereka rata-rata membeli buku seperti yang diinstruksikan oleh guru kelas, karena keterbatasan persediaan buku pelajaran di sekolah masing-masing. Membanjirnya pembeli buku juga terlihat di sejumlah toko buku di kota yang dikenal dengan kerajinan batu marmer tersebut. Para wali murid itu bahkan rela merogoh koceknya hingga ratusan ribu demi menyediakan buku pelajaran sekolah untuk anak-anaknya yang barusan naik kelas, baik di tingkat SD, SMP, maupun SMA. "Peningkatan omzet jualan seperti ini biasanya terjadi selama sebulan. Kalau puncaknya biasa terjadi pada pekan kedua dan ketiga, setelah itu grafik jualan cenderung menurun," imbuh Wati. Beberapa siswa maupun wali murid mengaku senang belanja buku pelajaran di kios buku bekas karena harganya yang cenderung lebih murah dibanding di toko buku resmi. Buku pelajaran yang sudah pernah dipakai itu bahkan hanya dijual separuh harga dibanding harga resmi buku sejenis saat dalam kondisi baru. "Lebih suka beli buku bekas karena lebih murah, sehingga bisa beli banyak," tutur Dimas, murid SD Ketanon 1 Tulungagung. Menurut Wati, banyaknya pembeli dari kelompok siswa SD disebabkan jumlah pelajar di jenjang pendidikan tersebut paling banyak dibanding siswa SMP dan SMA. "Lagian SD sekarang sudah pada masuk, kalau SMP dan SMA mungkin baru minggu depan, sehingga yang beli buku bekas juga belum banyak," ujar Pardi, pemilik kios buku bekas "Kurnia". (*)
