Surabaya - Kementerian BUMN melakukan terobosan baru untuk menyehatkan atau membangkitkan kembali sejumlah BUMN strategis dan manufaktur yang selama ini terlihat "mati suri" atau tidak menguntungkan. Deputi Kementerian BUMN Bidang Industri Strategis dan Manufaktur Irnanda Laksanawan di Surabaya, Kamis malam mengatakan, sebagaimana arahan Menteri BUMN Dahlan Iskan, diharapkan semua industri berbasikan energi dan kemampuan "engineering". "Tentunya arahan Pak Dahlan agar bisa menjadi industri terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara," kata Irnanda saat Dialog Khusus tentang Kebangkitan BUMN Industri Strategis dan Manufaktur di studio JTV Surabaya. Selain Irnanda, hadir juga sebagai nara sumber dari tiga direktur utama BUMN strategis, di antaranya Dirut PT Industri Kereta Api (INKA) Roos Diatmoko, Dirut PT Boma Bisma Indra (BBI) Lala Indiono dan Dirut PT Barata Agus H Purnomo. Menurut Irnanda, BUMN strategis yang ada saat ini harus bangkit dengan cara bergabung menjadi kekuatan besar agar bisa bersaing dengan industri dari China dan India. Untuk itu, lanjut dia, dalam tiga tahun terakhir ini pihaknya telah melakukan revitalisasi terhadap sejumlah BUMN strategis di antaranya PT INKA, PT BBI dan PT Barata. Dalam revitalisasi ini, lanjut dia, PT INKA masuk dalam pengembangan industri lokomotif. "Selama ini, lokomotif didesain oleh orang-orang Indonesia sejak republik ini berdiri," ujarnya. Sedangkan PT BBI membuat alat-alat besar seperti kondensor untuk diekspor ke seluruh negara. Begitu juga halnya dengan PT Barata yang produknya juga disebar ke seluruh negara. "Sayangnya banyak insinyur yang berprinsip yang penting kerja, tapi tidak mau promosi," ujarnya. Dirut PT BBI Lala Indiono, mengatakan sejak 2000-2008, perusahaannya sempat mengalamai keterpurukan, namun kemudian bangkit lagi pada 2009. "Kepercayaan dari pelanggan dan mitra bisnis dari Eropa masih tinggi. Bahkan mereka sekarang sudah memesan kondensor," katanya. Hal sama juga sempat dialami PT Barata. Namun hal itu tidak berlangsung lama, karena perusahaan mampu berkompetisi dengan perusahaan lain secara internasional. "Sempat kita mendapat ancaman dari luar, seperti halnya produk China yang harganya murah. Tapi murah tidak bisa hanya dinilai rupaih saja, melainkan harus dinilai dampak dari apa yang dihasilkan," kata Dirut PT Barata Agus H Purnomo. Sedangkan Dirut PT INKA Roos Diatmoko mengatakan saat ini kondisi PT INKA lebih baik jika dibandingkan tahun 2005 yang sepi order. Bahkan pada 2006 diancam likuidasi karena saat itu penjualannya dibawa Rp150 miliar. "Dan sekarang sudah diatas Rp788 miliar dan tahun depan ditargetkan Rp1 triliun," katanya. Mendapati itu semua, Irnanda mengatakan perlu adanya investasi baru mengingat bebrapa pertimbangan salah satunya banyak alat-alat industri yang sudah tua. Untuk itu, perlu kiranya pemerintah memberikan bantuan penanaman modal negara (PMN). "Itu akan membantu keputusan investasi," ujarnya. (*)
Berita Terkait
Harga emas di Pegadaian kompak stabil
2 jam lalu
Bapanas sebut sisa stok pangan dari 2025 kuat
12 jam lalu
