Surabaya - Peneliti psikoterapi Dr dr Limas Susanto Sp.KJ MPd menyatakan "jalan mengerti" akan mengantarkan kemajuan Indonesia, sebab "cara" itu akan membuat orang Indonesia memiliki karakter empati dan tidak mudah menyalahkan orang lain. "Kalau kita mau mengubah caci maki dan saling menyalahkan menjadi tiga jalan kebajikan yakni mengerti, menerima, dan melepaskan maka Indonesia akan cepat maju," katanya di sela-sela seminar nasional Fakultas Psikologi di Universitas Pelita Harapan (UPH) Surabaya, Sabtu. Ia mengemukakan hal itu dalam seminar bertajuk "Membedah Perilaku Manusia Indonesia Modern di Era Globalisasi" yang menampilkan dua pembicara lain yakni Dr Dany Moenindyah Handarini MA (Ketua Prodi Bimbingan Konseling UNM) dan Prof Dr Frieda Mangunsong M.Ed (Guru Besar Psikologi Pendidikan UI). Dalam seminar yang dipandu Asisten Manajer Marketing UPH Surabaya, Yusak Novanto M.Psi, ia menjelaskan jalan mengerti adalah jalan berhenti dari mencari kesalahan, memahami alasan di balik orang bertindak salah/jahat, dan berbuat untuk memberi makna. "Indonesia membutuhkan tiga jalan kebajikan itu, karena dengan tiga jalan kebajikan itulah yang akan menyembuhkan bangsa ini dan mendorong Indonesia menjadi negara yang maju. Indonesia akan sulit maju selama kita masih belum empati dan justru mudah menyalahkan orang lain," katanya. Menurut salah seorang Ketua Himpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia itu, jalan menerima akan membuat orang mampu menerima realitas dengan rasa empati dan belas kasihan, sedangkan jalan melepaskan akan membuat orang mampu membantu orang lain dengan rasa senang. "Eric R Kandel sebagai penerima Nobel 2000 dari kalangan psikiater dan peneliti neurobiologi seluler berpendapat orang yang berbicara secara terapeutik akan mengeluarkan neuron, baik orang yang berbicara maupun yang diajak bicara, sehingga menyembuhkan," katanya. Oleh karena itu, katanya, ketiga jalan itu akan memajukan Indonesia, karena jalan "mengerti", "menerima", dan "melepaskan" akan mengubah dua bagian otak yakni PFC dan Amygdala menjadi positif, sehingga orang Indonesia akan saling menyembuhkan. "Jalan mengerti, menerima, dan melepaskan akan mengeluarkan neuron yang selama ini egosentris, narsis (mementingkan diri sendiri), dan miskin menjadi solider, pro-sosial, dan sejahtera," kata Vice President of The Asia Pasific Association of Psychoterapy itu. Sementara itu, Ketua Program Studi (Prodi) Bimbingan Konseling Universitas Negeri Malang (UNM) Dr Dany Moenindyah Handarini MA mengatakan masyarakat Indonesia itu beragam, karena masih ada masyarakat berburu di Irian Jaya, masyarakat nomaden di Sulawesi Tengah, masyarakat hortikultura, agraris, nelayan di Madura/pantura, maritim, peternak, dan industri. "Jadi, masyarakat Indonesia tidak dapat dikatakan modern, karena ada masyarakat yang megapolitan hingga primitif dengan menerapkan nilai-nilai kehidupan dan pola hidup yang beragam, sehingga penerimaan terhadap globalisasi ada tiga yakni menyesuaikan, menolak, dan bahkan mengalami gegar budaya. Dampak globalisasi adalah ethnoscape (perpindahan penduduk lewat turis, imigran, pengungsi, bisnis), financescape (aliran uang antarnegara seperti TKI), ideoscape (penyebaran ide dan ideologi politik secara global seperti hedonis dan teroris), mediascape (kesenjangan desa-kota), dan technoscape (jaringan lewat jejaring komunikasi seperti Facebook, twitter).(*)
Berita Terkait
BRIN identifikasi dua spesies ngengat baru asal Papua dan Sulawesi
3 Maret 2026 14:10
Peneliti UB dorong penuntasan penindakan rokok ilegal
22 Februari 2026 20:57
Peneliti BRIN temukan bakteri antikanker di tanah tanaman kunyit
6 Februari 2026 13:20
Tim Peneliti Universitas Ciputra olah cangkang telur jadi kolagen halal
3 Februari 2026 17:21
Peneliti temukan mikroplastik pada air Sungai Brantas
24 Januari 2026 17:29
Peneliti nilai penambahan layer cukai miliki dasar teoritis sah
23 Januari 2026 11:04
BRIN buka opsi jabatan fungsional peneliti dari perguruan tinggi
12 Desember 2025 13:10
Peneliti UMSurabaya ikuti BRICS Youth Dialogue 2025 di Tiongkok
7 Desember 2025 13:01
