Surabaya - Tanggal dan bulan serta tahun yang memiliki angka sama yang dinilai "istimewa" pada Jumat, yaitu 11-11-11 (tahun 2011) ini, dimanfaatkan oleh puluhan bahkan ratusan pasangan di berbagai daerah di Jatim untuk melangsungkan pernikahan. Bahkan di Malang, sedikitnya 19 anak jalanan, pemulung, gelandangan serta pengemis menjalani prosesi pernikahan massal tepat pada tanggal 11-11-2011. Prosesi pernikahan massal tersebut digelar di Masjid Ainul Yakin Universitas Islam Malang (Unisma). Usai menjalani proses akad nikah, ke-19 pasangan pengantin itu diarak keliling Kota Malang. "Sebenarnya yang mendaftar untuk mengikuti nikah massal ini sebanyak 25 pasangan. Namun, karena masjid tempat akad nikah kapasitasnya terbatas, maka hanya 19 pasangan saja," kata Ketua LSM Jaring kemiskinan Jawa Timur Agus Tedja Bawana. Ia mengaku, meski mereka sudah belasan, bahkan mungkin puluhan tahun "kumpul" dan nikah siri, mereka masih belum mengantongi surat nikah. Mereka tidak mencatatkan pernikahannya secara resmi ke Kantor Urusan Agama (KUA) karena tidak memiliki biaya. Lebih lanjut Tedja mengatakan, setelah menjalani prosesi akad nikah di Masjid Ainul Yakin Unisma, ke-19 pasangan pengantin baru itu diarak keliling kota, bahkan di setiap perempatan akan disambut penari dan seniman asli Kota Malang. Bahkan, katanya, untuk pengantin unik dijemput khusus oleh penari dan reog di kawasan Jalan Ijen. Pengantin unik yang dimaksud adalah pengantin pria masih berusia 23 tahun dan pengantin perempuannya berumur 73 tahun. Pasangan pengantin unik itu adalah Sugeng, seorang pemulung dan pengantin perempuannya bernama Maati, seorang gelandangan dan pengemis (gepeng). Keduanya warga Kalisari Kecamatan Blimbing, Kota Malang. "Kami berharap nikah massal bagi anak jalanan, pemulung dan gepeng ini bisa menjadi agenda tahunan. Dan, pemerintah sendiri juga lebih peduli dengan kondisi mereka, sebab bagaimanapun juga mereka adalah Warga Negara Indonesia (WNI) yang wajib dilindungi," tegasnya. Sementara itu data dari KUA Kota Malang disebutkan, pasangan pengantin yang mencatatkan pernikahannya tepat pada tanggal 11 November 2011 atau 11-11-11 sebanyak 189 pasangan. Di KUA Kedungkandang sebanyak 47 pasangan, KUA Lowokwaru sebanyak 45 pasangan, KUA Klojen sebanyak 28 pasangan, KUA Blimbing sebanyak 39 pasangan, dan di KUA Sukun sebanyak 30 pasangan. Agar semua pasangan yang mendaftarkan diri menikah pada momen spesial itu terlayani dan terlaksana, pihak KUA memulai kegiatannya pada pukul 05.00 WIB hingga pukul 23.00 WIB. Dan, prosesi akad nikah hanya selama 15 menit untuk setiap pasangan. Sementara itu, sebanyak 190 pasangan pengantin di sejumlah kecamatan di Kabupaten Jember, melangsungkan pernikahannya pada tanggal, bulan dan tahun yang "cantik" ini. Kepala Seksi Urusan Agama Islam (Urais) Kementerian Agama Jember, Hamam, mengatakan jumlah pasangan pengantin yang menikah hari ini meningkat tajam dibandingkan pada hari biasanya karena tanggal "cantik" tersebut. "Pada hari normal biasanya penghulu di kantor urusan agama (KUA) masing-masing kecamatan menikahkan tujuh hingga 10 pasangan pengantin per hari. Namun hari ini, di salah satu KUA saja terdapat 34 pasangan pengantin yang menikah," tuturnya. Menurut dia, sebanyak 190 pasangan pengantin tersebut berasal dari 14 kecamatan dari 31 kecamatan di Kabupaten Jember karena sebagian KUA belum berhasil dihubungi karena kesibukan dan kepadatan jadwal akad nikah di kecamatan setempat. "Memang saya mendapat laporan dari sejumlah penghulu tentang banyaknya permintaan pasangan pengantin yang menikah hari ini. Saya hanya mengambil sampel 14 KUA di Jember," paparnya. Data di Seksi Urais Kemenag Jember mencatat sebanyak 190 pasangan pengantin yang menikah 11-11-11 tersebar di KUA Kecamatan Puger sebanyak 34 pasangan, KUA Kecamatan Sumbersari sebanyak 26 pasangan, KUA Tanggul sebanyak 22 pasangan, KUA Kecamatan Kaliwates sebanyak 19 pasangan, KUA Kecamatan Umbulsari sebanyak 18 pasangan. Selanjutnya, KUA Kecamatan Rambipuji sebanyak 14 pasangan, KUA Kecamatan Patrang sebanyak 13 pasangan, KUA Kecamatan Ambulu sebanyak 13 pasangan, KUA Kecamatan Sukowono sebanyak delapan pasangan, KUA Kalisat sebanyak tujuh pasangan, KUA Jenggawah sebanyak enam pasangan, KUA Ledokombo sebanyak empat pasangan, KUA Silo dan Mayang masing-masing tiga pasangan. Sementara, Kepala KUA Kecamatan Sumbersari Fariz Makmur mengatakan antusias pasangan pengantin yang menikah hari ini luar biasa yakni mencapai 26 pasangan di Kecamatan Sumbersari, bahkan pihak KUA terpaksa menolak sejumlah pasangan pengantin yang menginginkan menikah pada 11-11-11 karena jadwalnya sudah penuh. "Ada beberapa pasangan yang ingin menikah pada 11-11-11, namun mereka memproses administrasinya di KUA Sumbersari terlalu mepet waktunya, sehingga pihak KUA tidak bisa mengabulkan permintaan mereka," tuturnya. Menurut dia, sebagian pengantin beralasan menikah pada 11-11-11 adalah hari baik kedua mempelai, bahkan sejumlah pengantin pria memberikan mahar atau mas kawinnya berupa uang yang berdasarkan angka 11-11-11 dan cincin kawin seberat 11 gram. "Saya tidak tahu motivasi pasangan pengantin yang melaksanakan akad nikah pada 11 November itu, namun alasan mereka rata-rata ya itu hari baik," paparnya. Fariz mengatakan sebagian pasangan rela melaksanakan akad nikah usai shalat Subuh karena padatnya jadwal penghulu yang menikahkan pasangan pengantin pada hari ini. "Saya sendiri berangkat usai shalat subuh untuk menikahkan pasangan pengantin, dan selesai pukul 17.00 WIB. Hanya ada jeda sekitar dua jam yakni pukul 11.00-13.00 WIB untuk melaksanakan shalat Jumat," katanya, menambahkan. Dari Pulau Madura dilaporkan, keluarga kiai yang melangsungkan pernikahan pada tanggal "cantik" ini adalah putra putri keluarga besan pondok pesantren Mambaul Ulum Palengaan KH Zuhud Abdullah. Keluarga ini menikahkan putrinya Halimatus Sakdiyah dengan Indi Aminullah dari Jawa. Bahkan Bupati Pamekasan KH Kholilurrahman menghadiri secara langsung acara pernikahan keluarga ini. Bupati Kholilurrahman juga ditunjuk sebagai penceramah "walimatul urus" pada acara pernikahan yang dilaksanakan pada pukul 08.30 WIB. "Waktu akad nikah sengaja digelar pada pukul 08.30 WIB yang jumlahnya juga 11," kata salah seorang santri di pondok itu, Zuhri. Tidak hanya itu saja, maskawin dalam pernikahan keluarga pondok pesantren Mambaul Ulum ini juga menggunakan angka "cantik" (triple 11), yakni senilai Rp111.111. "Jumlah maskawin ini disesuaikan dengan angka cantik yang serba '1'," kata panitia pelaksana pernikahan di keluarga itu, Ustat Nour Kholis. Bupati Pamekasan Kholilurrahman dalam ceramahnya mengatakan, pernikahan merupakan salah satu bentuk titian syariat yang bertujuan untuk amal ibadah seseorang. Nikah juga menjadi sunnah Rasulullah dan bahkan dalam salah satu hadits, seseorang yang tidak mau melangsungkan pernikahan tidak diakui sebagai ummatnya. "Semoga pasangan pengantin ini menjadi pasangan pengantin yang 'sakinah', 'mawaddah', 'warohmah' dan senantiasa mendapatkan ridho dan amanah Allah SWT," tutur Kholilurrahman. Akad Indi Aminullah dan Halimatus Sakdiyah oleh pengasuh pondok pesantren Banyuanyar, Pamekasan, KH Syamsul Arifin. Menurut tokoh agama Pamekasan KH Djuhaini, dalam ajaran Islam memang dianjurkan untuk memilih hari-hari yang dianggap baik untuk melangsungkan pernikahan. Bahkan, kata dia, di sebagian kalangan umat Islam tidak hanya hari baik, akan tetapi juga tanggal dan bulan-bulan tertentu yang dianggap baik. Meskipun, hari, tanggal dan bulan yang dianggap baik itu, hanya pada kalangan tertentu saja, karena ada sebagian kelompok yang tidak mempercayainya. "Tapi kalau di Pamekasan dan Madura pada umumnya, hari dan tanggal baik ini masih dominan dipercaya masyarakat," papar Djuhaini, menjelaskan. Putri Bupati Tanggal "cantik" ini juga tidak dilewatkan oleh Bupati Madiun Muhtarom, yang menikahkan putrinya Yuanita Sholikhah binti Muhtarom dengan dr Taufieq Ridlo Makhmud. Pernikahan yang ditandai dengan akad nikah antara Yuanita Sholikhah dengan dr Taufieq Ridlo Makhmud ini, mungkin adalah yang paling istimewa. Sebab pelaksanaan pernikahan mereka mengandung tujuh angka satu. "Yaitu dua angka satu pada angka hari, dua angka satu pada angka bulan, serta dua angka satu pada angka tahun. Sedangkan, angka satu terakhir adalah jam pelaksanaan akad nikah yang dilakukan pada pukul 01.00 siang, usai shalat Jumat, hari ini," ujar Yuanita. Pihaknya mengaku, pelaksanaan akad nikah yang bertepatan dengan angka "cantik" tersebut bukan unsur kesengajaan. Sebab, semua hal yang berkaitan pernikahannya dengan Taufiek yang merupakan dokter di RS Pertamina, Kalimantan Selatan ini, telah diperhitungkan berdasarkan banyak hal. "Perhitungan kami bukan angka cantiknya, namun lebih pada aktivitas kami masing-masing yang sangat padat. Termasuk juga yang paling menentukan adalah kepadatan jadwal kerja ayah," kata Yuanita. Bupati Muhtarom juga mengaku tidak sengaja memilih hari Jumat, tanggal 11 November 2011 yang dipercaya oleh masyarakat sebagai hari yang "istimewa" sebagai hari pernikahan putrinya. Pertimbangan dalam menentukan tanggal pernikahan putrinya tersebut, hanya menyesuaikan dengan jadwal kegiatannya yang padat sebagai bupati. "Kami hanya menyesuaikan dengan sejumlah jadwal kegiatan penting lainnya. Selain itu, kami juga tidak ingin mengulur-ulur waktu untuk menikahkan anak saya. Hasilnya ternyata tanggal yang terpilih malah bagus," papar Bupati Muhtarom. Ia tidak ingin mengulur-ulur waktu, karena tanggal 11 November 2011 masih berada dalam bulan Dzulhijjah dalam penanggalan miladiyah atau bulan Besar pada penanggalan Jawa. Bulan tersebut dipercaya membawa berkah untuk sebuah pernikahan. "Selain itu, mulai tanggal 19 November mendatang, DPW PKB akan melakukan muswil. Pada tanggal-tanggal yang tidak jauh berbeda, Partai Demokrat juga mulai menggelar muscab, dengan demikian, banyak kolega birokrat dan politisi yang harus berkonsentrasi pada kegiatan tersebut," terang dia. Ia menambahkan, pernikahan putrinya ini akan dilangsungkan dalam adat Jawa dengan gaya tradisional. Sejak Senin (7/11) hingga kini, berbagai prosesi telah dilaksanakan. Di antaranya, ziarah di makam leluhur keluarga Bupati Muhtarom, kirim doa kepada leluhur di rumah pribadi keluarga Muhtarom di Desa Ketawang, Kecamatan Dolopo, dan siraman. Pada pernikahan putrinya kali ini, Bupati Madiun Muhtarom telah menyebar 7.500 undangan. Mulai dari gubernur, para kolega bupati dan wali kota serta perangkatnya di sekitar Madiun, perangkat desa di lingkungan kerjanya hingga masyarakat biasa. Sedangkan di Sumenep, sebanyak 17 pasangan pengantin di dua kecamatan melangsungkan pernikahan.Kepala Seksi Urusan Agama Islam Kementerian Agama Sumenep, M Yasin menjelaskan, pihaknya belum menerima laporan secara resmi tentang jumlah pernikahan yang terjadi pada Jumat ini di 27 kecamatan. "Kalau secara lisan memang ada pimpinan kantor urusan agama (KUA) yang melaporkan jumlah pernikahan yang tercatat pada Jumat ini, yakni di wilayah KUA Kecamatan Kota sebanyak 10 pasangan pengantin dan KUA Pragaan sebanyak tujuh pasangan," ujarnya di Sumenep. Warga Pulau Madura pada umumnya termasuk Sumenep, kata dia, menganggap Dzulhijjah (salah satu bulan pada kalender Hijriyah) yang pada tahun ini bertepatan pada November (kalender Masehi) sebagai waktu yang bagus untuk menikahkan putra-putrinya. "Oleh karena itu, jumlah pernikahan pada Dzulhijjah biasanya meningkat dibanding bulan-bulan lainnya. Bahkan, di kalangan warga Madura, Dzulhijjah sering dianggap bulan pernikahan," ucapnya. Sementara Kepala KUA Kecamatan Kota, A Nauval menjelaskan, pihaknya menikahkan 10 pasangan pengantin pada Jumat ini sejak pukul 05.30 WIB hingga pukul 13.00 WIB. "Kalau di internal kami, jumlah pernikahan tersebut masih wajar, karena sebelumnya kami pernah menikahkan 15 pasangan pengantin dalam sehari," ujarnya. Ia mengatakan, sebagian warga memang menganggap Jumat ini sebagai tanggal "cantik" (11-11-11). "Secara umum, warga Madura biasanya menentukan waktu pernikahan bagi putra-putrinya itu berdasarkan kalender Hijriyah. Namun, khusus Jumat ini bisa saja ada yang sengaja memilihnya sebagai waktu pernikahan, karena merupakan tanggal 'cantik'," ucapnya, menambahkan.(*)
Berita Terkait
Adik Jokowi akan menikah dengan ketua MK pada Mei
21 Maret 2022 19:26
Park Se Young akan menikah dengan Kwak Jung Wook pada Februari
25 Januari 2022 17:31
Warga Magetan Kurang Berminat Menikah pada 11-11-11
11 November 2011 19:20
Putri Bupati Madiun Menikah pada "11-11-11"
11 November 2011 14:58
Keluarga Kiai di Madura Menikah Pada "11-11-11"
11 November 2011 12:52
Kabiro ANTARA Jatim raih gelar magister di UPNVJT dengan predikat cumlaude
24 Januari 2026 17:21
PM Greenland tidak tahu apa yang disepakati antara Trump dan NATO
23 Januari 2026 10:05
