Mendapatkan penumpang turis asing, Muchtar dan kawan-kawan tidak serta merata memanfaatkan keadaan. Ia dan enam kusir lainnya tetap mengenakan tarif biasa terhadap warga asing tersebut.
"Tapi kadang 'guide'-nya yang minta dinaikkan karena kelebihan harga itu diminta oleh dia. Ya saya turuti saja, asal mintanya wajar dan tidak membuat turis itu keberatan," kata pria yang orang tuanya berasal dari Pamekasan ini.
Tidak hanya keliling kota yang bisa dinikmati saat naik bendi. Kalau ada warga yang ingin berwisata lebih jauh atau sewa pada siang hari, Muhtar dan kawan-kawan juga siap mengantar.
Kalau masih di kawasan Bondowoso, mereka memasang tarif sekitar Rp400 ribu atau tergantung jauh dekatnya selama seharian. Namun untuk keluar kota, seperti Jember dan Bondowoso, tarifnya bisanya sampai Rp1 juta.
Meskipun demikian, kata Muhtar, sangat jarang dirinya mendapat pesanan untuk mengantar warga pada siang hari itu. Biasanya bendi itu disewa warga untuk kepentingan mengantar pengantin.
"Karena sudah membayar mahal, maka pelayanannya tentu lain. Bendi saya ini dihias lagi dengan lebih bagus," papar ayah dua anak ini.
Untuk memudahkan calon pemesan, ia selalu memberikan nomor HP-nya kepada semua orang, yakni 081249147816.
Mengenai penghasilan, Muhtar mengaku, setiap malam bisa mencapai Rp50 hingga Rp70 ribu. Selain untuk memenuhi kebutuhan keluarga, pendapatan itu digunakan untuk biaya pakan kuda. Setiap hari kudanya memerlukan rumput seharga Rp7.000. Selain itu ditambah bekatul 12 kg dengan harga per kilogram Rp1.500.
"Jadi untuk makan kuda saja sudah habis Rp25 ribu setiap harinya. Sisanya untuk keperluan keluarga dan membiayai anak-anak sekolah. Anak pertama saya kuliah, sedangkan yang kedua masih bekerja dulu karena belum ada biaya untuk kuliah. Mudah-mudahan tahun depan bisa kuliah," tuturnya.
Ia bercerita, wisata ini berawal dari keisengan dirinya membuat bendi yang berbeda dari bendi tumpangan. Bendi buatan Muhtar hanya bisa dinaiki dari arah samping depan, sedangkan bendi umumnya penumpang naik dari belakang.
Bendi milik Muhtar tertutup di bagian belakang dan penuh dengan hiasan. Karena mangkal di alun-alun, bendi milik Muhtar yang diberinya nama "Kanjeng Ratu" itu menjadi perhatian warga dan sering meminta diantar keliling kota yang saat itu tarifnya masih Rp2.000.
"Awalnya saya dimarahi oleh Satpol PP karena dianggap mengotori jalanan kota, padahal kotoran kuda itu saya wadahi, sehingga tidak berceceran di jalan. Saya katakan pada Satpol PP bahwa dokar saya ini bukan untuk angkutan umum, tapi untuk wisata," ujarnya.
Petugas Satpol PP akhirnya menyarankan Muhtar untuk membuat proposal ke Dinas Pariwisata agar mendapatkan izin beroperasi, sekaligus mendapatkan pembinaan. Karena Muhtar tidak bisa merangkai kata untuk membuat proposal, maka ia menyuruh orang lain.
"Akhirnya saya sering diundang dan digunakan oleh Pemkab Bondowoso untuk acara-acara, seperti drama kolosal. Saya sering juga diundang oleh Bupati, waktu itu Pak Mashud. Akhirnya mulai 2001, banyak pemilik dokar yang ikut dan sekarang diorganisir oleh Dinas Pariwisata," paparnya.
Sulis, salah seorang warga Bondowoso, mengatakan, ia bersama anak-anaknya sering kali menggunakan sarana wisata kota tersebut.
"Anak-anak sangat senang kalau naik dokar ini. Kadang naik dokar saya jadikan hadiah kalau anak-anak saya berprestasi," katanya.
Sementara Kepala Bagian Pemasaran Dinas Pariwisata, Pemuda, Olahraga dan Perhubungan Pemkab Bondowoso Drs Satrio Subekti, MSi mengatakan, pihaknya selama ini melakukan pembinaan bagaimana para pemilik bendi tersebut melayani pengguna.
"Ini sangat penting karena yang mereka tawarkan adalah pelayanan. Selain itu, kami memberikan mereka kartu anggota, sehingga tidak semua pemilik bendi masuk sembarangan ke wilayah itu. Kalau terlalu banyak kan kasihan yang dari awal melakukan itu," katanya.
Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026