Madiun - Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak (P3A) Kabupaten Madiun, Jawa Timur, menilai pelecehan seksual yang berujung pada pemerkosan tercatat mendominasi kasus kekerasan yang terjadi pada anak-anak dan perempuan di wilayah setempat selama tahun 2011. Data P3A Kabupaten Madiun mencatat, hingga pertengahan tahun 2011, telah menangani sebanyak 18 kasus kekerasan terhadap anak-anak dan perempuan. Adapun dalam lima tahun terakhir, kasus kekerasan anak dan perempuan yang ditangani telah mencapai lebih dari 115 kasus. "Dari 18 kasus di selama tahun 2011 tersebut, 12 kasus di antaranya merupakan kasus kekerasan pada anak-anak yang kesemuanya merupakan kasus kekerasan seksual. Ironisnya lagi, kasus kekerasan ini mayoritas terjadi pada ana-anak usia sekolah menengah pertama (SMP)," ujar Koordinator Divisi Tindak Kekerasan pada Perempaun dan Anak, P3A Kabupaten Madiun, Zulin Nurchayati. Ia menjelaskan, kasus kekerasan seksual pada anak-anak tersebut, kebanyakan dilakukan oleh teman dekat atau pacarnya sendiri hingga berujung pada perkosaan. "Awalnya memang suka sama suka, namun lama-kelamaan perilaku mereka keterusan hingga berakhir pada pemerkosaan. Kalau sudah seperti ini, si anak perempuan yang mengalami depresi dan orang tuanya meminta pertanggungjawaban dengan melaporkan ke polisi," tutur Zulin. Meski demikian, ada beberapa kasus yang terpaksa dicabut kembali setelah dilaporkan ke polisi dengan alasan untuk menjaga keseimbangan mental si anak perempuan atau korban. Adapun faktor pemicu terjadinya pelecehan seksual dan pemerkosaan tersebut adalah pergaulan bebas yang disebabkan karena kecanggihan teknologi. Banyak kasus yang terjadi karena berlatarbelakangkan kenal melalui pesan singkat di ponsel ataupun jejaring sosial seperti "face book" dan "twitter". "Mereka belum memiliki kedekatan yang intens karena hanya kenal lewat dunia maya, namun perilaku mereka saat bertemu atau "kopi darat", telah melampaui batas akibat kecanggihan alat teknologi," terang perempuan yang juga dosen psikologi di Universitas Merdeka Madiun, ini. Malangnya lagi, lanjutnya, kegiatan ini tidak diketahui oleh orang tua bersangkutan. Malahan, orang tua cenderung ketinggalan zaman dan gagap teknologi. Sehingga, tahu-tahu anak mereka telah bermasalah, tanpa mengetahui titik awalnya. Menjadi Teman Keadaan yang seperti ini, tentu saja dapat berakibat buruk bagi anak-anak yang merupakan generasi penerus bangsa. Karena itu, sudah waktunya orang tua berbenah diri dan lebih memberikan perhatian dan pendekatan individu terhadap anak. "Orang tua harus memantau pergaulan anak-anaknya. Orang tua juga dituntut jeli terhadap teman-teman dekat anaknya. Apakah teman-teman dekat tersebut memberikan dampak buruk atau baik bagi anak-anaknya," kata Zulin. Jika berdampak buruk, sudah saatnya orang tua menarik anak-anak dari pergaulan yang tidak "sehat" tersebut. Dengan kata lain orang tua harus bisa mengontrol pergaulan anak-anaknya. Pada era serba maju seperti sekarang ini, orang tua dituntut menjadi "teman" bagi anak-anaknya sendiri yang masih memiliki sifat keegoan tinggi. "Dengan berperan sebagai teman, orang tua akan mudah memahami pemikiran anaknya. Melalui pendekatan personal sebagai teman tersebut, orang tua dapat memasukkan nilai-nilai keagamaan, kebenaran, dan pendidikan yang baik ke dalam pribadi anak sehingga dapat mengontrol perilaku anak saat ingin berbuat negatif," ucapnya.


Editor : FAROCHA
COPYRIGHT © ANTARA 2026