Ririen Wardani, dosen STKIP PGRI Ponorogo, raih doktor sastra

id STKIP PGRI Ponorogo, sekolah literasi gratis, SLG Ponorogo, pakar sastra

Ririen Wardani, dosen STKIP PGRI Ponorogo, raih doktor sastra

Dr Ririen Wardani saat menjalani sidang ujian terbuka di Kampus Universitas Sebelas Maret di Surakarta, Jumat (9/8). (Istimewa)

Guru dan siswa membutuhkan model yang mendasarkan diri pada cara atau proses kerja otak yang seimbang.
Surabaya (ANTARA) - Ririen Wardiani, dosen Sekolah Tinggi Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan PGRI Ponorogo, Jawa Timur, meraih gelar doktor bidang sastra Indonesia setelah berhasil mempertahankan disertasinya di hadapan dewan penguji di Universitas Sebelas Maret Surakarta, Jawa Tengah, Jumat.

"Disertasi saya berjudul 'Model Pembelajaran Menulis Narasi Berbasis Penyeimbangan Fungsi Belahan Otak Kanan dan Kiri Siswa Sekolah Dasar di Kabupaten Ponorogo'," kata Ririen Wardani yang dihubungi Antara dari Surabaya, seusai menjalani sidang ujian terbuka di Kampus UNS Surakarta.

Ia menjelaskan bahwa hasil penelitiannya terhadap sejumlah siswa di sejumlah sekolah dasar di Kabupaten Ponorogo menunjukkan kurangnya minat siswa dalam pembelajaran menulis. Fakta lainnya adalah siswa kesulitan dalam mendapatkan ide atau gagasan dan menuangkannya dalam tulisan.

"Selain itu, hasil penelitian saya menunjukkan minimnya teknik pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran menulis, guru masih ragu-ragu dan enggan menggunakan teknik pembelajaran baru karena khawatir tidak berhasil dan kurang memberikan motivasi dan menghubungkan kebermanfaatan pembelajaran menulis untuk kepentingan sehari-hari," katanya.

Fakta lainnya, kata dia, ditemukan bahwa pengetahuan guru dalam pembelajaran menulis yang didasarkan pada proses menulis masih kurang, guru kurang merespons atau memberi penguatan pekerjaan siswa, guru belum maksimal menggunakan model dan media pembelajaran yang variatif untuk memperlancar pembelajaran.

"Hal ini juga disebabkan belum tersedianya pilihan model pembelajaran yang berorientasi pada kebutuhan atau kondisi siswa. Selama ini pembelajaran lebih banyak ke teori, sehingga kurang dalam latihan, guru lebih banyak mengejar target materi, bukan pada kompetensi yang harus dikuasai siswa," katanya.

Sementara itu, kata dia, berdasarkan analisis kebutuhan guru dan analisis kebutuhan siswa di sekolah dasar yang diteliti disimpulkan, antara lain perlu adanya variasi model yang sesuai dengan kondisi anak, diperlukannya pembenahan model pembelajaran menulis narasi di sekolah dasar. 

"Guru dan siswa membutuhkan model pembelajaran menulis narasi yang mampu memanfaatkan segala kemampuan inderawi yang dimilikinya, siswa membutuhkan model yang mendasarkan diri pada cara atau proses kerja otak yang seimbang antara keterampilan berbahasa, kreativitas, dan imajinasi," katanya.
 
Menurut Ririen, prototipe model pembelajaran menulis narasi berbasis penyeimbangan fungsi belahan otak kanan dan kiri berisi tentang struktur model atau sintag (syntax), sistem sosial, prinsip reaksi, sistem penunjang, dampak instruksional dan pengiring.

Sementara itu, Ketua STKIP PGRI Ponorogo Dr Sutejo, MHum mengaku gembira atas keberhasilan dosen di kampus yang selama ini dikenal sebagai kampus literasi itu. Ia berharap dengan raihan gelar doktor tersebut, menjadi semangat baru bagi semua insan perguruan tinggi tersebut untuk terus maju, khususnya dalam gerakan literasi.

"Kami menyadari, STKIP PGRI Ponorogo adalah "kampus desa", tapi kami memiliki ikon yang insya-Allah memiliki gaung besar untuk ikut mendorong kemajuan bangsa ini, yakni Sekolah Literasi Gratis (SLG). Dengan tambahan dosen bergelar doktor, kami berharap gerakan literasi yang kami gaungkan bertambah luas dan besar cakupan dan manfaatnya," katanya.
Pewarta :
Editor: Didik Kusbiantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar