Di balik kedekatan KO bersama pekerja migran Indonesia

id taiwan, KO, pekerja migran indonesia, TKI, TKI Taiwan

Di balik kedekatan KO bersama pekerja migran Indonesia

Wali Kota Taipei Ko Wen Je saat memberikan sambutan di depan jamaah shalat Idul Fitri di Taman Travel Plaza Taipei pada Rabu (5/9/2019). (AntaraNews/M. Irfan Ilmie)

Selamat datang, terima kasih
Jakarta (ANTARA) - Sudah empat kali ini Pemerintah Kota Taipei memanjakan para tenaga kerja Indonesia yang merayakan Lebaran di perantauan dengan berbagai acara, namun tidak seperti Lebaran tahun ini, popularitas Ko Wen Je begitu fenomenal di mata para TKI yang tidak hanya bermajikan di Kota Taipei, melainkan seantero Taiwan.

Pada Hari Raya Idul Fitri 1440 H, Wali Kota Taipei yang berangkat dari jalur independen itu tidak hanya membangun wadah bagi warga negara Indonesia untuk berhalal bi halal.

Shalat Ied dan beragam aktivitas WNI untuk mengobati kerinduan akan suasana Lebaran akan kampung halaman difasilitasinya.

Para WNI yang mayoritas pekerja migran tidak perlu lagi bersusah-payah mencari dana untuk membayar sewa halaman Stasiun Utama Taipei (TMS) sebagai tempat shalat Ied seperti tahun-tahun sebelumnya.

Pemkot Taipei sudah menyiapkan lahan yang lebih luas dan memadai di Taman Travel Plaza Taipei yang masih satu kawasan dengan TMS.

Sejak memerintah Taipei pada 2014, Ko sudah memelajari pola dan gaya hidup para TKI yang dianggapnya sebagai salah satu penggerak roda perekonomian di kotanya.

Oleh sebab itu, dua tahun kemudian acara Lebaran diselenggarakannya sebagai bentuk dedikasinya terhadap para pekerja migran.

"Atas nama Pemkot Taipei, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para pekerja migran Indonesia yang dengan sabar mendampingi para orang tua jompo dan warga kami yang sakit," tutur Ko di depan ribuan TKI yang memadati Taman Da'an pada Minggu (9/6/2019). 
Ucapan terima kasih bukan diucapkan Ko di Taman Da'an saja, tetapi juga saat memberikan sambutan setelah gelombang kedua shalat Ied di Travel Plaza Taipei pada Rabu (5/6/2019).

Bahkan pada saat menghadiri shalat Ied yang diikuti puluhan ribu WNI itu, Ko memakai kopiah warna hitam dengan baju lengan pendek warna terang dan celana abu-abu.

Pada kejuaraan pencak silat antar-WNI yang digelar Global Workers' Organisation (GWO), lembaga nonpemerintah yang getol memberdayakan para pekerja migran asal Asia Tenggara di Taiwan, Ko juga turut hadir sekaligus membukanya dengan memukul gong bersama Kepala Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei Didi Sumedi pada Minggu (9/6/2019) siang.

Sementara itu pada sore harinya, kedatangan Ko dielu-elukan ribuan TKI yang memadati Taman Da'an. Beberapa menit setelah memberikan sambutan acara yang juga dihadiri perwakilan dagang dari negara sahabat itu, Ko langsung diserbu para TKI yang mayoritas kaum Hawa untuk diajak foto bersama.

Panggung yang berdiri di tengah taman kota itu mendadak bergemuruh, manakala Ko secara tiba-tiba muncul dari balik panggung dengan membawa dua gelas teh Oolongcha.

Satu gelas diberikannya kepada pedangdut Fildan Rahayu yang baru saja menyelesaikan satu lagu berjudul Pangeran Dangdut. Di atas panggung itu pula keduanya menandaskan teh khas Taiwan dari gelasnya masing-masing.

Sayang politikus berlatar belakang dokter ahli bedah itu tidak bersedia menerima ajakan Fildan untuk menyanyi bersama karena memang tidak bisa berbahasa Indonesia.

"Selamat datang, terima kasih," hanya dua kata itu yang bisa diucapkan pria kelahiran Hsinchu, Taiwan, pada 6 Agustus 1959.

Calon Presiden
Ko Wen Je yang dalam aksara Mandarinnya tertulis Ke Wen Zhe itu disebut-sebut sebagai salah satu kandidat Presiden Taiwan dalam Pemilu Presiden 2020.

Cara membangun popularitasnya hampir mirip dengan cara-cara yang dilakukan para politikus di Indonesia menjelang hajatan politik, salah satunya mendatangi atau menyelenggarakan pesta rakyat seperti panggung Lebaran yang sekarang di Taipei sudah memasuki tahun keempat.

Saat pertama kali panggung Lebaran digelar di Taman Yuanshan pada 2016, Ko masih terkesan formal, apalagi acaranya di dalam gedung yang dijaga oleh aparat keamanan setempat berpakaian lengkap.

Berbeda dengaqn tahun ini. Hampir tidak ada aparat bersenjata seperti tiga tahun lalu. Justru dalam hal pengamanan, Pemkot Taipei meminta bantuan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Taiwan untuk mengerahkan sedikitnya 35 personel Banser.

Sudah barang tentu panggung Lebaran di salah satu taman kota terbesar di Taiwan pada Minggu sore itu kesannya sudah seperti panggung hiburan di kampung. Penontonnya mayoritas orang Indonesia, pengisi acaranya juga orang Indonesia. Hanya penyelenggaranya saja orang Taiwan. Kesan serius dan formal yang melekat pada diri profesor dari National Taiwan University (NTU) itu pun terlucuti dengan sendirinya karena sudah berbaur dengan keringat para pekerja migran asal Indonesia.

Sampai saat ini jumlah pekerja migran asal Indonesia hampir mendekati angka 300.000 dan merupakan yang terbesar di Taiwan dengan proporsi 65 persen perempuan pekerja informal dan 35 persen laki-laki pekerja formal.

Kota Taipei merupakan pengguna terbesar pekerja informal sebagai pembantu rumah tangga, pengasuh bayi, atau pendamping orang tua jompo dengan gaji per bulan sekitar 17.000 NTD atau sekitar Rp7,8 juta.

Dalam percaturan politik, keberadaan pekerja migran asing di Taiwan tidak memberikan dampak secara langsung karena mereka juga tidak mendapatkan hak bersuara dalam pesta demokrasi empat tahunan itu.

Namun, bukan Ko saja yang berupaya mendapatkan simpati dari para TKI. Masa-masa awal Tsai Ing Wen menjabat Presiden Taiwan pada 2016, kebijakannya juga sangat berpihak kepada para TKI dengan dihapuskannya biaya perpanjangan kontrak kerja setelah tiga tahun atau lebih masa kerja sebelumnya berakhir.

Kebijakan presiden pertama perempuan di Taiwan yang juga Ketua Umum Partai Progresif Demokratik itu dikecam habis-habisan oleh perusahaan penempatan kerja di Taiwan.

Akan tetapi kebijakan itu populis di mata pekerja migran, khususnya TKI karena tidak perlu lagi mengeluarkan biaya belasan hingga puluhan juta rupiah dan tidak harus pulang ke Indonesia dulu agar bisa kembali bekerja di Taiwan.

Bagi Ko dan Tsai yang diperkirakan bakal bertarung pada pemilu presiden tahun depan, pekerja migran asal Indonesia masih menjadi daya tarik tersendiri.

Mereka sadar, bukan angka 300.000 itu yang menjadi pundi-pundi dalam mendulang suaranya. Namun ada di antara 4.500 diaspora Indonesia lainnya yang telah berpindah kewarganegaraan bakal mewarnai pertarungan politik di Taiwan.

Apalagi dalam beberapa tahun terakhir, popularitas Tsai sebagai petahana terus melorot, terutama jika dikaitkan dengan kegagalannya dalam menyikapi isu Selat Taiwan hingga melambatnya pertumbuhan perekonomian nasional.

"Begitu dekatnya dia sama mereka, tidak ragu saya memilihnya," ucap perempuan asal Sumatera Selatan yang sudah 20 tahun berganti paspor Taiwan itu sambil menunjuk Ko yang sedang "selfie" bersama para TKI di atas panggung Lebaran di Taman Da'an pada Minggu (9/6/2019). (*)
Pewarta :
Editor: Didik Kusbiantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar