Malang (Antaranews Jatim) - Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan Kabupaten Malang, mengembangkan metode pelatihan "Blended Learning" yang memadukan pembelajaran dalam jaringan (daring) di ruang kelas (offline) guna meningkatkan kompetensi petani.
"Pelatihan yang kami berikan pada peserta sekarang ini lebih banyak mengarah pada praktik di lapangan ketimbang teori di dalam kelas, bahkan peserta juga langsung mengikuti uji kompetensi untuk mengukur keberhasilan dari pelatihan yang diikutinya," kata Kepala BBPP Ketindan, Lawang, Kabupaten Malang Kresno Suharto usai mengikuti Public Hearing BBPP di Malang, Rabu.
BBPP, lanjutnya, tidak melepas begitu saja para peserta pelatihan, tetapi terus dipantau dan dilakukan pendampingan hingga pasca-pelatihan, bahkan ada evaluasi. Jika hasil dari pelatihan masih belum sesuai harapan, pihak BBPP akan melakukan kunjungan ke lokasi-lokasi yang dinilai bermasalah (belum berhasil).
Kresno menerangkan ada sejumlah komoditas hortikultura yang menjadi fokus peningkatan kualitas pengolahan produk, seperti sayuran dan buah-buahan. Metode blended larning ini merupakan solusi inovatif yang memanfaatkan pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, yang dipadu dengan pelatihan tatap muka dengan fokus pendalaman materi untuk mencapai tujuan pembelajaran lebih optimal daripada konvensional.
Dengan menerapkan metode tersebut, lanjut Kresna, pihaknya menyasar pendapatan dari BNBP (Pendapatan Negara Bukan Pajak) hingga Rp300 juta per tahun dan akan terus dinaikkan targetnya seiring dengan tumbuhnya inovasi-inovasi baru yang mampu mengangkat pendapatan.
Metode blended learning tersebut bertujuan untuk meningkatkan kompetensi para petani dan mereka mampu mentransfer kembali ilmu yang didapat serta memunculkan pengusaha baru dengan teknologi terkini (sesuai perkembangan zaman).
Selain metode blended learning, BBPP juga mengandalkan "landbouw mart" yang baru dibuka usai public hearing dengan menghadirkan Kepala Perwakilan Ombudsman RI Perwakilan Jawa Timur Agus Widiyarta dan Kepala Bagian Biro Organisasi dan Kepegawaian Kementerian Pertanian, Nawawi Nata.
Landbow Mart tersebut melibatkan 10 usaha kecil mikro menengah (UMKM) binaan BBPP. Berbagai produk olahan hortikultura, sayuran segar semi organik, kerajinan tangan, dan produk lainnya hasil produksi para UKM binaan dijual di sana. "Masih banyak UKM binaan kami yang ingin mengisi landbow mart ini, namun pengirimannya masih terkendala cuaca dan hari libur panjang," ucap Kresno.
Landbouw Mart Ketindan adalah ruang produk serta tersedia klinik konsultasi agribisnis. LMK juga menyediakan produk buatan laboratorium dari departemen pengolahan hasil pertanian, departemen proteksi tanaman, departemen budi daya serta produk-produk lainnya.
Sementara itu Kabag Biro Organisasi dan Kepgawaian Kementan, Nawawi Nata dalam paparannya pada public hearing tersebut menemukakan perlunya menerapkan JKM, yakni jujur, kerja keras, dan melayani jika ingin kualitas pelayanan di Indonesia tidak kalah dengan negara-negara lain.
"JKM (jujur, kerja ketas, melayani) akan mampu mngubah perilaku pelaksana layanan publik. Dan itu akan menghindarkan dari korupsi, ini harus dilakukan oleh setiap instansi. Indonesia tidak akan kalah dengan negara-negara lain jika beberapa kriteria itu dilaksanakan dengan baik. Selama ini kita kalah dengan luar negeri hanya karena perilaku yang tidak JKM," tuturnya.(*)
BBPP Ketindan Andalkan "Blended Learning" Tingkatkan Kompetensi Petani
Rabu, 26 Desember 2018 20:00 WIB
Kepala BBPP Ketindan, Lawang, Kabupaten Malang Kresno Suharto (Endang Sukarelawati)
Ada sejumlah komoditas hortikultura yang menjadi fokus peningkatan kualitas pengolahan produk, seperti sayuran dan buah-buahan. Metode blended larning ini merupakan solusi inovatif yang memanfaatkan pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, yang dipadu dengan pelatihan tatap muka dengan fokus pendalaman materi untuk mencapai tujuan pembelajaran lebih optimal daripada konvensional.
