Polres Lamongan Tahan Pemain Timnas U-19

id Saddil, Polres Lamongan, Persela Lamongan, Timnas U-19

Polres Lamongan Tahan Pemain Timnas U-19

Saddil Ramdani (kiri) saat diperiksa di Polres Lamongan, didampingi Kasatreskrim Polres AKP Wahyu Norman Hidayat (kanan), Jumat (2/11/2018) (Ist)

penahanan dilakukan setelah Polres Lamongan menerima laporan adanya insiden pertengkaran di mess tim Persela Lamongan
Surabaya (Antaranews Jatim) - Kepolisian Resor Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, menahan pemain timnas U-19 dan Persela Lamongan Saddil Ramdani, karena terlibat dalam kasus dugaan penganiayaan terhadap mantan kekasihnya Anugrah Sekar Larasati, kata pejabat kepolisian setempat.
     
"Iya mas, resmi ditahan karena sebelumnya ada laporan penganiayaan," kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Lamongan Ajun Komisaris Polisi Wahyu Norman Hidayat dikonfirmasi dari Surabaya, Jumat.
     
Norman mengatakan, penahanan dilakukan setelah Polres Lamongan menerima laporan adanya insiden pertengkaran di mess tim Persela Lamongan Rabu (31/11) petang.
     
Laporan itu, terkait penganiayaan atau penganiayaan ringan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 351 KUHP atau pasal 352 KUHP dengan dasar laporan polisi No : LP/ 261 /lX/2018/JATIM/RESLAMONGAN.
     
Sementara itu, Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera dikonfirmasi terpisah mengakui adanya laporan yang masuk ke Polres Lamongan.
     
Ia mengatakan, keributan berujung pada tindakan kekerasan yang dilakukan oleh Saddil mengakibatkan wajah Sekar mengalami luka.
     
"Korban mengalami luka robek di bawah mata sebelah kanan," kata Barung.
     
Kemudian, Saddil diperiksa terkait dugaan penganiayaan yang dilakukannya terhadap Sekar dan ditahan hingga kasus ini dilimpahkan ke kejaksaan.
     
Dalam kasus penganiayaan ini, polisi telah menetapkan Saddil Ramdani sebagai tersangka dan diijerat dengan Pasal 351 KHUP ayat 1, dengan ancaman 2,8 tahun penjara. Sedangkan untuk pasal 352 KHUP ancamannya 9 bulan penjara.
     
Menanggapi hal itu, Saddil mengaku siap menjalani proses hukum serta mematuhi aturan yang berlaku, sebab kejadian itu terjadi di luar dugaan. Posisi Saddil sedang capek sehingga spontan melakukan penganiayaan.
     
"Kena cakar sekali dan kelihatan berdarah banyak. Dan saya dibikin ribut di asrama. Tapi, saya sudah beritikad baik ingin damai, tapi keluarga tidak mau dan ingin melanjutkan kasus ini," katanya.
     
Saddil berharap kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi dirinya dan sebagai laki-laki siap bertanggung jawab menjalani proses hukum yang ada. (*)
Pewarta :
Editor: Didik Kusbiantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar