Risma : Surabaya Kota Pertama Manfaatkan Sampah Jadi Listrik

id PLTSa surabaya,pengelolaan sampah,bank sampak,PT SO,pemkot surabaya,risma,antaranews jatim

Risma : Surabaya Kota Pertama Manfaatkan Sampah Jadi Listrik

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini meresmikan Bank Sampah Simo Jawar yang merupakan Program Kemitraan Masyarakat (PKM) mahasiswa Fakultas Teknik Mesin, Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya (ITATS) kerja sama dengan Direktorat Riset dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DRPM) Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi ( Kemenristekdikti) yang berlokasi di Jalan Simo Jawar RW 10 Surabaya, pada Minggu (19/8). (Abdul Hakim)

Saat ini, baru Kota Surabaya di Indonesia yang sampahnya dimanfaatkan jadi listrik. Karena itu, kami imbau warga mulai mengelolah sampah yang ada. Jangan sampai sampah itu terbuang tidak ada gunanya
Surabaya (Antaranews Jatim) - Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menyatakan Kota Surabaya, Jawa Timur merupakan salah satu kota di Indonesia yang telah memanfaatkan sampah menjadi tenaga listrik. 
     
Tri Rismaharini, di Surabaya, Senin, mengatakan untuk mengurangi jumlah tumpukan sampah, Pemkot Surabaya menerapkan teknologi "waste to energy" baik skala kecil yaitu PLTSa (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah) hingga skala besar dengan metode "sanitary landfill" yakni teknologi gasifikasi untuk pengolahan sampah menjadi energi listrik.
     
"Saat ini, baru Kota Surabaya di Indonesia yang sampahnya dimanfaatkan jadi listrik. Karena itu, kami imbau warga mulai mengelolah sampah yang ada. Jangan sampai sampah itu terbuang tidak ada gunanya," katanya.
     
Pemerintah Kota Surabaya saat ini sudah memiliki PLTSa di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Romokalisari di Kecamatan Benowo yang sudah beroperasi sejak 30 November 2015. Pembangkit tahap pertama tersebut berupa land fill gas power plant yang berkapasitas 1,65 megawatt.
     
Sejak 2012, pengelolaan sarana-prasarana PLTSa diserahkan kepada PT Sumber Organik (SO) selama 20 tahun. Kerja sama Pemkot Surabaya dangan PT SO menggunakan skema "build operate transfer" (BOT) yakni setelah masa kontrak berakhir, maka pengelolaannya diserahkan kembali kepada Pemkot Surabaya.
     
Meski sudah menghasilkan listrik, namun hal ini dinilai masih belum maksimal, sehingga Pemkot Surabaya membangun lagi PLTSa tahap dua yang direncakan berkapasitas 8,31 megawatt. PLTSa tahap dua tersebut ditargetkan beroperasi pada Juni 2019.
     
Risma mengatakan pihaknya terus menggalakkan pengelolaan sampah di Kota Pahlawan sebagai upaya menekan keberadaan sampah yang terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah penduduk maupun pendatang dengan cara mengoptimalkan program bank sampah.
     
Untuk itu, lanjut dia, Pemkot Surabaya telah memiliki beberapa program bank sampah yang sudah dijalankan, di antaranya adalah kegiatan Green and Clean, Merdeka dari Sampah, Rumah Kompos dan Bank Sampah.
     
Menurut Risma, program bank sampah ini bukan pertama kalinya di Surabaya, melainkan di wilayah lain sudah memiliki bank sampah serta rumah kompos yang sudah berjalan. 
     
Sehingga, lanjut dia, sampah tidak lagi menjadi barang yang tidak berguna, melainkan justru bernilai ekonomis. Bahkan, ada warga yang memanfaatkan hasil dari bank sampah tersebut, untuk liburan bersama keluarga.
     
"Jadi ibu-ibu di tempat lain di Surabaya, bank sampah itu sudah banyak yang berjalan dengan baik. Melalui bank sampah ini, ibu-ibu bisa menabung. Selama ini sampahnya kan dibuang, kalau sampah itu dipilah, bisa jadi uang," katanya.
     
Risma sendiri sebelumnya juga meresmikan Bank Sampah Simo Jawar yang merupakan Program Kemitraan Masyarakat (PKM) mahasiswa Fakultas Teknik Mesin, Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya (ITATS) kerja sama dengan Direktorat Riset dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DRPM) Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi ( Kemenristekdikti) yang berlokasi di Jalan Simo Jawar RW 10 Surabaya, pada Minggu (19/8). 
     
Pada kesempatan itu, Risma mengajak kepada masyarakat agar peduli terhadap kebersihan lingkungan. Menurutnya, jika masyarakat bisa mengelolah dan memanfaatkan sampah dengan baik, maka akan menjadi nilai ekonomis. 
     
"Jika sampah-sampah itu dikumpulkan dengan baik, dikelolah dengan baik, maka itu ada harganya," kata Risma. (*)
Pewarta :
Editor: Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar