Melihat Dari Dekat Wisata Buatan Kincir Angin di China (Video)

id China, Kincir Angin Plastik, Gunung Helan, Provinsi Ningxia,Wisata Kincir Angin di Ningxia

Melihat Dari Dekat Wisata Buatan Kincir Angin di China (Video)

Pengunjung melintas di taman kincir angin di kawasan wisata Gunung Helan, Ningxia, Cina, Senin (7/5). Taman kincir angin tersebut merupakan salah satu objek wista yang ditawarkan tempat wisata Gunung Helan selain lukisan batu di Gunung Helan. Antara Jatim/Zabur Karuru/18

Kincir yang terbuat dari plastik itu dipasang menggunakan kawat dengan ditarik garis lurus ditengahnya, dan ditata menyamping kekiri dan ke kanan, kemudian tengahnya dilubangi untuk dipasang kawat dan mengikuti jalur kawat yang disiapkan, sehingga terlihat lurus berjajar.
Ahli rekayasa, itulah kata seorang rekan menyebut negara yang kini berpenduduk sekitar 1,4 miliar jiwa, dan terbukti berbagai objek mampu direkayasa sedemikian rupa sehingga menarik perhatian orang untuk melihatnya.

Negara itu adalah China, yang merupakan negara ekonomi terbesar kedua dunia. Mereka, merekayasa lahan kosong di sebuah gunung tepatnya di Gunung Helan, Provinsi Ningxia, dengan menaruh jutaan kincir angin yang terbuat dari plastik.

Rekayasa itu mengubah gunung tersebut menjadi taman yang indah serta enak dipandang, karena warna-warni model kincir yang ditata berjajar.

China sebagai negara tertua di dunia di muka bumi yang membentuk peradabannya sejak 5.000 tahun yang lalu, kini memang berusaha mendongkrak sektor pariwisatanya.

Salah satunya dengan menawarkan berbagai jenis wisata dan menggali potensi lokal setiap daerahnya, seperti sejarah, pendidikan, pertanian dan kebudayaan.

Untuk kawasan wisata kincir angin, masuk dalam destinasi wisata sejarah, karena di lokasi itu juga ada Museum Lukisan Batu yang menampilkan berbagai lukisan batu sejarah manusia yang ditemukan dari berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Staf Pemandu Wisata di kawasan itu, Liang Hongping mengatakan, kawasan wisata kincir angin sengaja dibuat untuk menyambut pagelaran festival kebudayaan pada 2016 yang digelar di lokasi itu.

"Kami merekayasa kawasan lahan Gunung Helan ini awalnya untuk festival kebudayaan dua tahun yang lalu, sehingga dibuatlah jutaan kincir angin di sini," katanya.

Kincir-kincir angin itu, memenuhi lahan kosong yang kering dan tandus, dan lahan itu berubah terlihat indah karena perputaran warni-warninya kincir secara bersamaan.

Ditambah kesejukan angin yang membuat kincir itu berputar, dan kawasan nampak segar serta tidak membuat mata menatap lahan kosong lagi.

Kincir yang terbuat dari plastik itu dipasang menggunakan kawat dengan ditarik garis lurus ditengahnya, dan ditata menyamping kekiri dan ke kanan, kemudian tengahnya dilubangi untuk dipasang kawat dan mengikuti jalur kawat yang disiapkan, sehingga terlihat lurus berjajar.

Pemasangan kincir dilakukan secara berkelompok disesuaikan warnanya, dan terlihat rapi di antara perpaduan warna-warni yang ada seperti merah, hijau, biru dan kuning.

Jalan setapak yang ada di lokasi itu, ditata berkelak-kelok, seperti kelokan jalan setapak di atas gunung, dan sisi kiri dan kanannya juga dihiasi kincir-kincir yang mirip bunga.

Ada juga lorong yang dihiasi kincir buatan di sisi kiri dan kanannya, ditambahi boneka panda serta bangunan gedung kincir angin, mirip seperti yang ada di negara Belanda.

Salah satu wisatawan asal Indonesia yang berkunjung ke lokasi itu, Tubagus Yusuf mengaku kagum dengan wisata buatan yang ada di Gunung Helan.

Menurutnya, keberadaan wisata kincir ini membuktikan penduduk setempat mampu memanfaatkan peluang, dan menjadikan lahan kosong nan tandus bisa bernilai ekonomi.

"Menurut saya, yang bisa diambil pelajaran dari lokasi ini adalah keyakinan dalam memanfaatkan peluang. Terbukti, meski lokasi wisata ini buatan, tapi ketika hari libur selalu ramai dikunjungi," katanya.

Wisata polesan atau rekayasa ini, kata Yusuf bisa diterapkan di Indonesia untuk mendatangkan nilai ekonomi, sekaligus membuka peluang kerja bagi penduduk di daerah.

Yusuf mengaku China cukup cerdas mendatangkan keuntungan, meskipun beberap lokasinya dikenal cukup gersang dan tandus.

"Bagus sekali ini, dan bisa diterapkan di Indonesia, sehingga bisa mendatangkan keuntungan bagi daerah," kata Yusuf, pimpinan delegasi media dari Jatim yang diundang ke China bersama 11 rombongan media lainnya.

Provinsi Ningxia

Untuk menuju lokasi wisata ini jaraknya sekitar 40 km dari pusat Kota Yinchuan ke arah utara Provinsi Ningxia, atau menuju Gunung Helan.

Biaya masuk ke lokasi wisata ini sebesar 60 Yuan atau setara Rp120 ribu, termasuk di dalamnya bisa menikmati wahana lukisan batu dunia, dan hiburan tarian dari zaman purba.

Kota Yinchuan merupakan salah satu kota di China yang fokus menawarkan destinasi wisata religi, dengan beberapa objek wisata, seperti gurun pasir dan Masjid Najiahu.

Kepala Badan Informasi Kantor Penerangan Daerah Otonom Etnis Hui, Zhang Hu mengatakan Provinsi Ningxia secara umum merupakan wilayah penghasil pangan, seperti padi dan sayuran.

Untuk tujuan wisata, provinsi yang memiliki lima kota dan 22 kabupaten itu mempunyai tagline "Visit Ningxia for a spiritual holiday" karena adanya gurun pasir mirip di Arab Saudi dan masjid yang merupakan peninggalan sejarah Islam di tanah itu.

Dari sisi sejarah, Provinsi Ningxia merupakan provinsi yang dihuni oleh manusia sejak dulu, sebab sudah ada tanda kehidupan manusia di wilayah tersebut, yakni sekitar 50 ribu tahun yang lalu dari berbagai batu lukis yang ditemukan.

Wilayah Ningxia memiliki total 6,81 juta penduduk, dimana 36,6 persen beragama Islam dari Etnis Hui, dari total 47 etnis yang ada di wilayah itu.

Sedangkan total etnis di daratan Tiongkok mencapai 56, dengan mayoritas etnis Han yang sangat menghargai perbedaan beragama dalam tatanan masyarakat setempat.

Ningxia, sebelumnya juga mulai dikenal masyarakat Indonesia sejak Agustus 2017, sebab terdapat wisatawan dari Indonesia yang datang ke Ningxia sepekan sekali menyewa pesawat dengan total 80 orang, karena penerbangan reguler masih belum ada di wilayah setempat. (*)
Video Oleh Abdul Malik
 
Pewarta :
Editor: Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar