Hari Buruh

id hari buruh, tajuk hari buruh, aksi dan kesejahteraan

Hari Buruh

Slamet Hadi Purnomo (dok.pribadi)

Hari Buruh atau "May Day" diperingati setiap 1 Mei. Agenda yang diusung setiap peringatan tampaknya tidak selalu sama, meskipun muaranya tetap satu, yakni kesejahteraan kaum buruh.

Ratusan ribu, bahkan jutaan buruh di Tanah Air menggelar aksi pada tanggal tersebut. Sejumlah serikat buruh atau organisasi buruh telah mengungkapkan rencana aksi itu. Aksi akan digelar di berbagai daerah, tidak hanya terpusat di Jakarta.

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia ( KSPI) Said Iqbal misalnya, telah menyatakan, sebanyak 1 juta buruh akan memperingati Hari Buruh dengan aksi di 250 kabupaten/kota di 25 provinsi.

Dalam aksi Hari Buruh tahun ini,  para buruh akan menyuarakan berbagai tuntutannya  seperti turunkan harga beras, listrik, dan bahan bakar minyak, bangun kedaulatan pangan dan energi, tolak upah murah serta tuntutan penghapusan outsourcing.

Isu-isu yang diangkat tersebut merupakan isu yang melekat dalam keseharian para buruh.  Buruh seperti dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah orang yang bekerja untuk orang lain dengan mendapat upah. Dengan demikian, upah dan kesejahteraan menjadi dua kata penting yang saling bertautan, tidak bisa dilepaskan.  Upah yang baik, diharapkan dapat mendukung kesejahteraan. Sedangkan kesejahteraan sendiri mengandung dimensi keamanan, keselamatan, ketenteraman, dan kemamuran.

Jika menengok aksi demi aksi yang dilakukan setiap Hari Buruh, kesejahteraan tampaknya memang menjadi isu sentral, dan  harus  diperjuangkan. Kesejahteraan bukan pemberian, tapi harus diraih dengan berjuang. Oleh karena itu, Hari Buruh yang oleh sebagian masyarakat diidentikkan dengan aksi, sejatinya wujud dari perjuangan itu sendiri.

Hari Buruh konon lahir dari berbagai rentetan perjuangan kelas pekerja untuk meraih kendali ekonomi-politis hak-hak industrial terkait pengetatan disiplin dan pengintensifan jam kerja, minimnya upah, dan buruknya kondisi kerja.

Dengan spirit tersebut maka bisa dimengerti jika May Day identik dengan aksi. Mereka tidak akan bisa dibelokkan dengan semangat di luar spirit tersebut, seperti "May Day is Fun Day". Aksi buruh bukan untuk bersenang-senang, tapi dalam rangka memperjuangkan nasib mereka. 

Kendati demikian,  Hari Buruh yang telah diidentikkan dengan aksi, bukan untuk bersenang-senang, tentu diharapkan bisa dilakukan dengan damai, dan tidak menakutkan. Aksi buruh diharapkan dilakukan dengan cara-cara menarik dan simpatik, tidak justru menyeramkan.
Selamat Hari Buruh....(*) 
 
Pewarta :
Editor: Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar