Sejumlah Sapi di Kabupaten Blitar Mati Mendadak

id Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blitar,sapi mati mendadak,kabupaten blitar ,sapi diduga terkena antraks,penyakit antraks

Sejumlah Sapi di Kabupaten Blitar Mati Mendadak

Sejumlah ternak milik warga di Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, diketahui mati mendadak. Foto Istimewa

Kami bekerja sama dengan Balai Besar Veteriner Wates Yogyakarta, mengambil sampel yang bisa mendukung penelitian untuk mengetahui penyakitnya apa,
Blitar (Antaranews Jatim) - Sejumlah sapi di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, diketahui mati mendadak dan saat ini pemerintah daerah masih meneliti penyebab matinya sapi secara mendadak milik sejumlah peternak di Kecamatan Srengat.

"Kami bekerja sama dengan Balai Besar Veteriner Wates Yogyakarta, mengambil sampel yang bisa mendukung penelitian untuk mengetahui penyakitnya apa," kata Kepala Bidang Kesmavet Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blitar drh Yudha Satya Wardhana di Blitar, Selasa.

Ia mengatakan, pihaknya sudah mengumpulkan informasi dari berbagai peternak yang mengalami musibah, sapi ternaknya mati mendadak. Ada peternak yang mengaku sapinya mengalami panas di atas normal, ada yang 39 derajat Celsius, ada yang hingga 42 derajat Celsius.

Setelah panas, diikuti dengan kondisi ternak yang lemas. Gejala itu hampir terjadi pada semua ternak yang mati mendadak. Saat ini dari pemkab belum mengetahui dengan pasti penyebab kematian sapi tersebut.

"Ada yang panas di atas normal, 39 derajat Celsius ada yang mengatakan 42 derajat Celsius, kemudian biasanya diikuti dengan `Ngongsrong` istilah jawanya, lemas, dan ini gejala klinis. Ini ada sesuatu yang aneh, tapi kami masih tunggul hasil uji laboratorium," ujarnya.

Ternak sapi mati secara mendadak itu terjadi di Kabupaten Blitar. Salah satu ternak yang mati itu adalah milik Mujiasri, warga Desa Purwokerto, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar. Ternak sapinya mati, padahal baru satu bulan lalu beranak.

"Awalnya tidak mau makan dan demam lalu mengalami flu. Saya sempat memanggil dokter. Beberapa hari kemudian, juga tidak mau makan, memanggil dokter lagi, lalu demam hingga 40 derajat celsius," ungkap Mujiasri.

Ia mengaku sudah berupaya mengobati ternak sapinya. Terlebih lagi, anak sapi yang baru dilahirkan juga butuh susu, tapi karena sakit, akhirnya sapi betina itu tidak bisa menyusui anaknya. Bahkan, kini sapinya sudah mati, sehingga anak sapi diberi dot untuk minum.

Hal yang sama juga terjadi pada sapi milik Suyanto, warga desa setempat. Sapi miliknya juga mati setelah sebelumnya mengalami demam. Bahkan, dari lubang hidungnya juga keluar banyak lendir, hingga mati.

"Gejalanya hidung berair, demam, lalu saya kubur. Sapi saya sedang bunting enam bulan," kata dia.

Ia belum mengetahui dengan pasti, mengapa ternak sapinya bisa mati. Ia hanya berharap sakitnya tidak menular pada sapi yang sehat lainnya. Ia juga meminta dinas peternakan juga membantu peternak, memberikan obat dan vitamin agar sapi milik warga tetap sehat.

Di Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, dalam satu bulan ini diketahui ada tujuh sapi yang mati mendadak. Namun, untuk sakit pastinya masih belum diketahui.

Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blitar, juga baru akan melakukan langkah yang diperlukan, jika sudah ada hasil uji laboratorium dari Balai Besar Veteriner Wates Yogyakarta.

Sebelumnya pada 2014, di daerah itu juga terjadi kejadian yang sama, sapi milik peternak banyak yang mati. Pemerintah Kabupaten Blitar, saat itu mengungkapkan jika sapi warga positif terkena antraks.

Penyakit antraks atau radang limpa pada sapi penyebabnya adalah "Bacillus anthracis". Kuman antraks bisa membentuk spora yang bisa bertahan hidup berpuluh-puluh tahun di tanah. Kuman itu juga tahan terhadap kondisi atau lingkungan yang panas, bahan kimia atau desinfektan.

Oleh karena itu, hewan yang mati yang terjangkit anthraks dilarang melakukan pembedahan pada bangkainya supaya tidak membuka peluang bagi organisme untuk membentuk spora. Penyakit tersebut bisa tersebar di seluruh dunia terutama daerah tropis.  (*)
Pewarta :
Editor: Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar