Pengamat : Terminal Petikemas Surabaya Sepenuhnya Harus Dikekola Mandiri

id Terminal Petikemas,TPS Surabaya, Pelindo III

Pengamat : Terminal Petikemas Surabaya Sepenuhnya Harus Dikekola Mandiri

Ilustrasi - Aktivitas bongkar muat kontainer dengan menggunakan Container Crane (CC) baru nomor 14 di dermaga internasional PT Terminal Petikemas Surabaya, Jawa Timur, Kamis (6/4). ANTARA FOTO/Didik Suhartono/foc/17. (Antara Jatim)

Kami berharap Terminal Petikemas Surabaya sepenuhnya dapat dikelola oleh Pelindo III untuk mewujudkan visi poros maritim dunia yang didengunkan oleh pemerintahan saat ini
Surabaya (Antaranews Jatim) - Pengamat maritim yang juga Direktur The National Maritime Institute (Namarin) Siswanto Rusdi meminta agar Terminal Petikemas Surabaya sepenuhnya dikelola secara mandiri oleh Pelindo III setelah kerja sama dengan asing berakhir April 2019.

"Kami berharap Terminal Petikemas Surabaya sepenuhnya dapat dikelola oleh Pelindo III untuk mewujudkan visi poros maritim dunia yang didengunkan oleh pemerintahan saat ini," kata Rusdi dalam keterangan persnya di Surabaya, Senin.

Rusdi mengaku, masih mempertanyakan keseriusan Pelindo III dalam mengakhiri kerja sama dengan asing, yakni Dubai Port World dalam pengelolaan Terminal Petikemas Surabaya.

Sebab, kata dia, hingga saat ini belum melihat upaya Pelindo III untuk memutus hubungan pengelolaan yang sebagian sahamnya dimiliki oleh asing tersebut.

Dubai Port World sendiri, kata Rusdi, sudah menyatakan bakal menarik diri dari Terminal Petikemas Surabaya sebagaimana pernyataan Chairman and CEO DP World Group Sultan Ahmed Bin Sulayem di beberapa media beberapa waktu lalu.

Terlebih, pihak Pelindo III juga merespon akan mengelola Terminal Petikemas Surabaya secara mandiri, dan hal itu bisa menjadi alasan bagi Pelindo III untuk segera mempercepat proses pengambil alihan terminal yang pada tahun 1999 lalu sahamnya dijual ke asing.

"Akan lebih baik jika investasi asing di Indonesia diwujudkan dalam pembangunan fasilitas pelabuhan baru bukan mengakuisisi saham pelabuhan atau terminal yang sudah ada," katanya.

Menurut Rusdi, apabila Pelindo III membutuhkan dana untuk pembangunan maupun pengembangan pelabuhan maka dapat dilakukan dengan menerbitkan obligasi seperti yang pernah dilakukan perseroan tahun 2014 lalu.

"Selama 20 tahun bermitra dengan Dubai Port World dirasa cukup bagi Pelindo III untuk mempelajari model bisnis kepelabuhanan dan menerapkannya untuk mengelola Terminal Petikemas Surabaya dan terminal pelabuhan lainnya secara mandiri termasuk di Terminal Teluk Lamong," katanya.

Pelindo III, kata dia, sudah mampu terlebih teknologi saat ini sudah berkembang dan mudah dipelajari dengan memanfaatkan Terminal Petikemas Surabaya dan Terminal Teluk Lamong untuk mendukung program-program pemerintah di bidang kemaritiman.

Sebelumnya, PT Pelindo III memperkirakan pengakhiran kerja sama antara perseroan dengan Dubai Port World di PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) bisa rampung pada Januari 2018.

Kedua belah pihak bakal segera meneken perjanjian jual beli syarat di mana Pelindo III akan membeli 49 persen saham DP World di TPS.

Direktur Utama Pelindo III, IGN Askhara Danadiputra, sebelumnya mengatakan perseroan dengan DP World telah sepakat untuk tidak melanjutkan kerja sama di TPS yang akan berakhir pada April 2019.

Oleh karena itu, Pelindo III akan membeli kembali saham di TPS yang dilepas pada 1999 lalu, dan DP World juga telah menyatakan tidak akan memperbarui kontraknya di Indonesia setelah gagal menyetujui persyaratan perpanjangan dengan pemerintah.

Operator pelabuhan yang didukung pemerintah Dubai adalah pemegang saham 49 persen di PT Terminal Petikemas Surabaya di Indonesia, yang terletak di utara Jawa, dan 51 persen lainnya dimiliki oleh Korporasi Pelabuhan Indonesia.
Pewarta :
Editor: Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar