Perajin Cobek Batu Tulungagung Kesulitan Bahan Baku

id cobek, cobek batu, kerajinan cobek, UKM Tulungagung

Perajin Cobek Batu Tulungagung Kesulitan Bahan Baku

Perajin mengumpulkan hasil kerajinan cobek dan aneka gerabah batu di sentra kerajinan cobek batu Desa Wajak Kidul, Tulungagung, Jawa Timur, Rabu (26/4) (Destyan Sujarwoko)

Selain pangsa pasar tetap ada, Insya Allah masih ada bagian rezeki dalam bentuk laba bersih.
Tulungagung (Antara Jatim) - Sejumlah perajin cobek dan aneka gerabah batu di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, mengeluhkan sulitnya memperoleh bahan baku yang menyebabkan biaya produksi meningkat.
    
Warni (48), pelaku usaha kecil kerajinan cobek dan gerabah batu di Desa Wajak Kidul, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung, Sabtu mengatakan perputaran usaha dia dan sejumlah perajin cobek lain di lingkungannya sangat bergantung pasokan bahan baku dari luar daerah.
    
"Saat ini kami mengandalkan pasokan batu andesit dari wilayah Trenggalek dan Ponorogo. Kalau dari Tulungagung sendiri sudah minim, nyaris tidak ada," katanya.
    
Kendala diperburuk oleh cuaca ekstrem yang menyebabkan hujan sepanjang tahun sehingga kegiatan penambangan batu di luar daerah menurun.
    
"Longsor yang menyebabkan kerusakan jalan membuat arus pasokan tidak lancar. Pasokan beberapa bulan ini menyusut dibanding sebelumnya," katanya.
    
Keterangan serupa diungkapkan pelaku usaha cobek batu lain di desa yang sama, Mahmud yang menyebut harga mineral batuan yang masuk golongan Galian C itu merangkak naik.
    
"Harga (batu) naik dari Rp1,2 juta menjadi Rp1,5 juta setiap ritnya. Bisa lebih mahal jika jalur transportasi rusak atau terputus akibat longsor, seperti beberapa kali terjadi di jalan raya Ponorogo-Trenggalek, beberapa waktu lalu," ujar Mahmud.
    
Kendati naik, Warni, Mahmud maupun sejumlah perajin atau pelaku usaha kecil cobek batu memilih tetap bertahan.
    
Selain sudah menjadi mata pencaharian sehari-hari yang diwariskan secara turun-temurun, Warni mengaku perajin ataupun pelaku usaha kecil kerajinan cobek dan gerabah batu seperti dirinya masih bisa meraup untung.
    
"Selain pangsa pasar tetap ada, Insya Allah masih ada bagian rezeki dalam bentuk laba bersih," ujarnya.
    
Ia menuturkan, satu rit batu andesit yang dibeli dengan harga Rp1,5 juta bisa diolah menjadi 500-1.000 buah cobek batu berbagai ukuran.
    
Dengan harga jual cobek berkisar antara Rp12 ribu hingga Rp60 ribu menyesuaikan ukuran, Warni mengaku rata-rata pelaku usaha industri kecil cobek batu seperti dirinya masih bisa meraup untung bersih sekitar 30 persen lebih.
    
"Satu rit batu andesit jika diolah menjadi cobek beberapa ukuran rata-rata bisa menghasilkan uang (penjualan) antara Rp2,5 juta hingga Rp3 juta. Dipotong biaya modal pembelian bahan baku, produksi, dan perawatan alat itu kami masih bisa untung sekitar 30 persen," ujarnya.
    
Warni mengaku dalam sebulan omzet usahanya untuk memenuhi kebutuhan pasar cobek batu di Jatim, Jateng maupun beberapa kota besar di luar Jawa mencapai kisaran Rp50 juta.
    
"Harga penjualan otomatis ikut kami naikkan, tapi tidak banyak karena pasarnya yang nanti 'teriak'," katanya.(*)
Pewarta :
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar