Banyuwangi (Antara Jatim) - Warga di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, mengubah barang bekas, seperti drum, botol dan ban mobil, menjadi mebel mewah dengan harga tinggi.
Yudi Prananta, perajin dari barang bekas itu, di Banyuwangi, Minggu menjelaskan awalnya ia melihat banyak barang bekas di sekitarnya yang tidak dimanfaatkan oleh masyarakat sehingga menjadi sampah.
"Sampah-sampah ini biasanya saya kumpulkan dari lingkungan sekitar dan pengepul barang bekas, lalu saya olah," kata lelaki yang juga arsitek dan kini tinggal di Jalan Raden Wijaya, Giri, Banyuwangi ini.
Ia bercerita, awalnya sangat resah melihat banyaknya barang bekas di lingkungannya. Yudi kemudian berpikir bagaimana mengubah dan memberikan nilai lebih pada barang bekas itu.
"Banyak benda-benda seperti tong atau drum, ban bekas yang dibiarkan tidak terpakai oleh pemiliknya. Akhirnya saya terpikir untuk memanfaatkannya. Berbekal referensi dari banyak pihak, saya lalu bertekad menekuni bisnis ini. Barang-barang bekas ini ternyata cocok juga dijadikan bahan pembuatan mebel," katanya.
Sejak awal 2015, Yudi mulai menjalani bisnis dari barang bekas di Kota Gandrung tersebut. Bersama istrinya Tanti Wahyu ia melakoni bisnis itu mulai dari mencari dan memilah bahan, menentukan desain yang pas hingga terlibat dalam proses produksinya.
Kini untuk mendapatkan bahan produk yang diberi label "The Recycle" itu Yidi membeli dari perorangan maupun pelaku usaha yang sudah tidak memanfaatkan barangnya. Seperti ban yang biasa didapat dari pengusaha bengkel untuk kemudian diproses menjadi meja kursi.
Dia menjelaskan, proses pemilahan dan pembuatan hiasan hasil daur ulang sampah memakan waktu selama satu hingga tiga hari atau tergantung dari bahannya.
"Jika dilihat gampang-gampang susah membuatnya, butuh ketelitian dan akurasi yang tepat untuk menghasilkan karya seni ini," kata Tanti.
Setelah produksi, pemasarannya saat ini masih dalam lingkup teman, kerabat, dan tetangga. Barang-barang olahan itu selanjutnya dibanderol mulai dari harga Rp200.000 hingga Rp300.000.
Kerajinan itu antara lain berbentuk kursi dari drum, meja kayu palet, kursi urat sampai dipan kasur dan masih banyak lainnya yang disesuaikan dengan pesanan.
Meski belum setahun berjalan, produknya mulai dilirik banyak orang. Banyak pihak yang tertarik membesarkan produknya, termasuk Pemkab Banyuwangi yang memfasilitasi untuk ikut terlibat dalam sejumlah pameran UMKM saat digelar kegiatan wisata di daerah tersebut.
"Rupanya Pemkab Banyuwangi melihat produk kita. Sejalan dengan visinya yang ingin mengoptimalkan pemanfaatan sampah, pemkab lalu mengajak kami untuk berperan serta dalam acara fashion daur ulang," kata Yudi.
Ia optimistis, produk daur ulangnya ini mampu bersaing di pasaran, mengingat masyarakat mulai tumbuh kesadaran akan pemakaian barang yang ramah lingkungan.
"Kami yakin bisa laku di pasaran, karena kami jual mebel yang menarik namun dengan bahan yang berbeda. Apalagi sekarang Banyuwangi akan memiliki tempat pemasaran sendiri," ujar Yudi. (*)
