Malang (Antara Jatim) - Wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur, masih menyimpan tanaman bambu langka jenis "Bambusa Cornuta Munro" atau disebut juga "Pring Embong" yang spesiesnya di dunia sudah nyaris punah. "Saya sendiri terkejut dan tidak tahu kalau jenis bambu langka ini masih tumbuh dan berkembang di Kabupaten Malang, yakni di Desa Sumber Tangkil, Kecamatan Tirtoyudo. Oleh karena itu, saya sangat mengapresiasi temuan dari tim ekspedisi Bambusa Cornuta Munro ini dan berusaha untuk melestarikannya," kata Bupati Malang, Rendra Kresna di Malang, Rabu. Rendra pun berjanji akan terus menjaga dan melestarikan jenis bambu yang sudah punah spesiesnya di dunia tersebut, bahkan akan terus mengembangkannya agar tidak sampai punah keberadaannya. Sebelumnya Tim Ekspedisi Bambusa Cornuta Munro, mempresentasikan keberadaan tanaman yang dikenal dengan nama Pring Embong oleh penduduk asli itu, di hadapan Bupati Malang, Rendra Kresna. Ekspedisi pencarian Pring Embong di Tirtoyudo Kabupaten Malang itu didasari oleh buku ‘Teysmannia’ karya Sijfert Hendrik Koorders yang diterbitkan tahun 1910. Dalam buku itu disebutkan bahwa Pring Embong bisa ditemukan di Desa Sumber Tangkil, Tirtoyudo, Kabupaten Malang. Namun, sebelum ditemukan di Malang oleh tim ekspedisi tersebut, bambu ini sudah dinyatakan tidak bisa lagi ditemukan di belahan dunia manapun, bahkan sudah punah. Bambusa Cornuta Munro, dinyatakan sebagai sebuah spesies bambu tertua dan dinyatakan punah di dunia, namun ternyata masih ada dan tumbuh di Kabupaten Malang. Menurut Ketua Tim Ekspedisi Bambu Cornyta Munro, Besar Edy Santoso, saat ini bambu tersebut tumbuh hanya tinggal delapan titik di Kabupaten Malang, sedangkan di dunia sudah tidak ada lagi. Bahkan, di Kebun Raya Bogor pun tidak punya koleksinya. Ia mengatakan penelitian dan survei lapangan tanaman Pring Embong oleh timnya itu berdasarkan tulisan Sijfert Hendrik Koorders. Penulis tersebut menyatakan bahwa Pring Embong ada di Sumber Tangkil, Distrik Turen, pada ketinggian 400-500 meter. Tanaman langka itu disebutkan dalam buku Sijfert yang berjudul ‘Teysmannia’, halaman 615 yang dipublikasikan pada 1910. "Dan, ketika kami lakukan survei lagi pada Januari lalu, tanaman itu masih ada, walaupun hanya tinggal sedikit di Desa Sumber Tangkil, sehingga bagaimanapun cara dan upayanya harus tetap dijaga dan dilestarikan keberadaannya agar tidak sampai punah, apalagi bambu jenis ini hanya ada di Kabupaten Malang," katanya.(*)
Berita Terkait
Wamenkop ungkap 80 ribu Kopdeskel Merah Putih tuntas terbentuk
25 Juni 2025 15:07
Empat orang meninggal dunia akibat kecelakaan di jalur menuju Bromo
13 Mei 2024 23:40
Pemkab Malang siapkan skema untuk tingkatkan produksi padi
10 Juni 2022 17:21
BI Malang inisiasi pengembangan klaster pembiakan sapi potong
10 Juni 2021 19:56
Kabupaten Bandung lirik pengembangan ekonomi kreatif Kota Malang
1 Desember 2019 20:36
Nelayan Kabupaten Malang Butuh Kesyahbandaran
30 Agustus 2018 07:10
40 Persen JCH Kabupaten Malang Berisiko Tinggi
23 Juli 2018 09:50
UMM Jaga Sumber Air Kucur di Kabupaten Malang
28 Juni 2018 18:53
